Showing posts with label Hasan Al-Banna. Show all posts
Showing posts with label Hasan Al-Banna. Show all posts

Monday, November 9, 2009

Mengenang 100 tahun Imam Syahid Hasan Al-Banna


Mengenang seratus tahun Imam Syahid Hasan Al-Banna; kembali kita mengingat masa hidup beliau, di saat begitu banyak peristiwa yang menerpa dunia Islam setelah perang dunia I, dan disaat dunia Islam mengalami kemunduran akibat jatuhnya khilafah Islamiyah, sehingga mesti ada seseorang yang lahir ke dunia mengembalikan Islam kembali hidup dan mulia.

Saat begitu kuatnya persekongkolan yang dilakukan oleh kekuatan jahat pemerintahan Arab dan dunia barat, hadir seorang pemuda berumur 21 tahun yang telah banyak meneguk air sungai nil untuk menghilangkan dahaga dan menjadikan ajaran Islam sebagai syariat dan minhajul hayah (jalan hidup), Al-Quran sebagai hidayah. Beliau selalu menyeru “Wahai kaum kami, sesungguhnya saya menyeru kepada kalian, bahwa Al-Quran ada ditangan kanan saya dan sunnah di tangan kiri saya dan amal para salafussholih dari umat ini sebagai tauladan. Kami menyeru kepada kalian untuk kembali kepada Islam; ajaran dan hidayah Islam… Islam adalah sistem kehidupan yang komprehensif, mencakup segala aspek kehidupan, dia merupakan negara dan bangsa, atau pemerintahan dan umat, dia merupakan akhlak dan kekuatan atau rahmat dan keadilan, dia merupakan tsaqafah dan qonun atau ilmu dan hukum, dia merupakan materi dan harta atau usaha dan kekayaan, dan dia merupakan jihad dan da’wah atau prajurit dan ideologi, sebagaimana dia merupakan akidah yang bersih dan ibadah yang benar satu sama lainnya”.

Jadi melalui cahaya yang bersinar di ufuk mengajak untuk mengembalikan kehidupan pada ajaran Islam yang agung, melalui tangan yang telah digerakkan oleh pertolongan ilahi sehingga mampu mengemban beban da’wah ini dan mengembalikan cahayanya kembali bersinar, memancarkan cahaya kesegala penjuru dunia. Demikianlah Imam Syahid Hasan Al-Banna, lahir kedunia pada saat dan waktu yang tepat, guna membangun kembali Islam yang telah luntur dan membina jamaah yang beriman dan mampu mengemban da’wah yang telah diamanahkan di pundak yang menisbatkan diri kepada da’wah.

Imam Al-Banna rahimahullah adalah figur yang telah digerakkan oleh takdir ilahi, dibentuk oleh tarbiyah Rabbaniyah, muncul pada waktu dan tempat yang tepat, maka sangatlah cocok ungkapan ustadz Umar At-Tilmitsani dengan “Anugerah yang sangat berharga”. Beliau tidak pernah ragu untuk mengenalkan dirinya: “Saya adalah seorang pelancong yang sedang mencari kebenaran, manusia yang mencari petunjuk ditengah kerumunan manusia, rakyat yang mengidamkan kemuliaan negaranya, kebebasan, ketenangan dan kehidupan yang sejahtera dibawah naungan Islam yang suci, saya seorang hamba yang mengenal tujuan hidup, lalu beliau membaca firman Allah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan dengan demikian Aku diperintahkan dan Aku termasuk orang yang pertama muslim”. (Al-An’am : 162-163). Inilah saya, lalu sipakah anda?

Mengenang seratus tahun Imam Al-Banna, saat beliau masih belia, sosok yang memiliki kecerdasan pada akal dan fikirannya, begitu besar semangat dan ghirahnya terhadap agama. Saat beliau berumur 10 tahun tidak didapati dalam dirinya kecuali kegigihan beliau dalam merubah segala kemungkaran yang dilihatnya, seperti yang pernah dilakukan terhadap seorang penari telanjang yang menari di atas perahu di sepanjang sungai nil di daerah Al-Mahmudiyah.

Begitupun kita mengenang beliau; Saat menjadi pelajar dalam berbagai jenjangnya, beliau begitu semangat dalam mengikuti dan membentuk Jam’iyyah (lembaga) da’wah seperti (Jam’iyah akhlak Al-adabiyah – lembaga akhlak dan etika, Jam’iyah man’u al-muharramat – lembaga pencegah perbuatan haram, Jam’iyah Al-ikhwan al-hashofiyah - Lembaga al-Ikhwan al-hashofiyah), kita belajar dari beliau akan ghirah Islam yang begitu menggelora, semangat dalam menyampaikan da’wah dan himmah (Antusias) dalam mengajak manusia pada kebajikan dan mencegah kemungkaran.

Kita mengenang beliau; Sosok yang hidup dengan jujur karena Allah, menunaikan janjinya bersama Allah saat mendaftarkan dirinya sebagai tentara Allah, seperti dalam ungkapannya yang masyhur, sebagai bagian dari impiannya: “Saya harus menjadi seorang yang mursyid (memberikan arahan) dan muallim (memberikan pelajaran), sehingga sepanjang hari saya bisa mengajarkan anak-anak, sementara di malam harinya saya bisa mengajarkan orang tua tentang tujuan agama mereka, sumber kebahagiaan dan perjalanan hidup mereka. Kadang disampaikan melalui khutbah dan kadang dengan melakukan dialog, mengarang buku, menulis, dan juga dengan melakukan jaulah (perjalanan)”.

Kita belajar darinya akan tingginya semangat dan tujuan hidup serta kesempurnaan dalam menunaikna apa yang dinadzarkan terhadap dirinya.

Kita semua mengenang beliau; Seorang muslim yang optimis dan berani membusungkan dadanya sambil berkata: “Inilah saya”, Sambil menggenggam Al-quran dan dengan suara yang tinggi beliau berseru: “Jalan yang benar adalah dari sini”, beliau juga menyampaikan kepada seluruh manusia “Bahwa Islam adalah sistem yang komprehensif mencakup segala aspek kehidupan, menetapkan hukum pada setiap keadaan dan meletakkan sistem yang permanen dan teliti serta tidak pernah berhenti sekalipun berhadapan dengan benturan-benturan dan sistem yang dlalim dalam memberikan kebaikan kepada manusia manusia”. Kita belajar darinya sikap optimisme yang membangun.

Mengenang seratus tahun Imam Al-Banna, sosok yang beriman kepada Allah dan memiliki keyakinan yang penuh akan pembelaan dan dukungan Rabb-nya, beliau menyeru: “Serukanlah kepada kami karena sesungguhnya kami membawa suatu kebaikan, kumpulkanlah kepada kami manusia maka akan kami bacakan kepada mereka dzikir, kami akan menjadi dokter bagi yang sakit, akan diam teliang penduduk dunia jika tidak mendengar semboyan kami; “Allah adalah tujuan kami, Rasul adalah pemimpin kami, Al-Quran dustur kami, jihad adalah jalan hidup kami, mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami…” Kita belajar dari azzam (semangat) dari seorang pemuda yang beriman yang tidak merasa lemah, keyakinannya sangat tinggi dalam jiwanya, agamanya, dakwahnya dan kesiapan dirinya untuk berkorban dijalan da’wah yang diembannya.

Mengenang seratus tahun imam Syahid Hasan Al-Banna; sosok yang begitu berani menyerukan tujuan ideologinya: “Mencetak generasi baru yang beriman kepada ajaran-ajaran Islam yang benar, siap bekerja dalam melakukan perbaikan pada umat dengan shibgah al-islamiyah (celupan islam) yang komprehensif dalam segala aspek kehidupan”. “Shibgoh Allah, dan adakah shibghoh yang lebih baik dari shibgoh Allah ?” (Al-Baqoroh : 138). Beliau berhasil menyelamatkan umat Islam dari penyimpangan, menyambungkan lisannya dan menyemburkan ruhnya kepada murid-muridnya, dan dengan gambalang beliau berkata kepada mereka: “Ruh yang berjalan dihati umat ini yang hidup dengan Al-Quran, cahaya yang bersinar hingga menembus kegelapan materi melalui ma’rifah Allah swt, suara yang bergema meninggikan dakwah Rasulullah saw… Kita belajar darinya akan terangnya tujuan dan status serta benarnya petunjuk jalan.

Mengenang beliau; Seorang imam (pemimpin) yang sangat mengagumkan, di bumi Mesir beliau mampu menembus jalan hingga berpuluh-puluh kota besar dan beribu desa, berbicara kepada setiap manusia paling sedikit tiga ribu desa, beliau menanamkan benih cinta melalui senyuman dan kasih sayang, memberikan keyakinan yang memuaskan dan menyejukkan, menghindar silang pendapat dan menolak perdebatan dan memberikan komentar dengan gamblang bukan dengan fenomena, mendahulukan yang lebih penting dari yang penting… Namun sebelum dan sesudahnya beliau selalu menekankan akan pentingnya taqwa kepada Allah dan bersiap diri untuk bertemu dengan-Nya, beliau selalu menyeru : “Bahwa fana dalam kebenaran merupakan kunci kekekalan”. .. Kita belajar darinya usaha yang terus menerus untuk menyebarkan da’wah dan risalah, dan tidak kekalnya jiwa dari ajalnya.

Mengenang seratus tahun Imam Al-Banna; Pendiri dua ribu cabang di berbagai desa di penjuru Mesir, pada tiap cabang didirikan sekolah untuk menanamkan kebangsaan dan jihad, amal shalih dan dakwah, beliau menghidupkan kepahlawanan dan keberanian, membuka wawasan terhadap hakikat yang terjadi didunia politik, membina generasi baru yang memliki kesemangatan kebangsaan dan memiliki kesiapan untuk mengorbankan jiwanya dan hartanya dan segala apa yang dimilikinya guna mempertahankan negara dan kehormatan dirinya.

Mengenang seratus tahun Imam Al-Banna; sosok yang memberikan gambaran kepada kita tentang pengikutnya: “Mata mereka terus bangun hingga larut sementara manusia terlelap dalam tidurnya, jiwa mereka sibuk sementara yang lainnya dalam keadaan lalai, salah seorang dari mereka duduk di perpustakaannya hingga larut malam terus bekerja dan berjuang, menjadi mufakkir dan mujaddid, terus berjalan selama sebulan sepanjang hidupnya, sehingga saat berada dipenghujung bulan dijadikan tempat kembalinya adalah untuk jamaah, dikeluarkan hartanya untuk merealisasikan tujuannya, lisannya berbicara untuk membangunkan umatnya yang lengah akan pengorbanannya. “Saya tidak berharap kepada kalian upah, karena tidak ada yang aku harapkan kecuali ganjaran dari Allah”. (Hud : 29).. Kita belajar darinya usaha yang sempurna terhadap dakwah dan permasalan umat.

Mengenang Imam Syahid Hasan Al-Banna saat beliau berpidato: “bahwa Umat yang baik dalam mempersiapakan kematian, mengetahui bagaimana menggapai kematian yang mulia, maka Allah anugerahkan kepadanya kehidupan yang mulia di dunia dan kenikmaatan yang kekal di akhirat, maka persiapkanlah diri kalian untuk menyongsong hari yang agung, bersegeralah dalam menyambut kematian sehingga jiwa kalian akan hidup, dan ketahuilah bahwa kematian merupakan suatu kepastian, dan tidak akan terjadi kematian kecuali hanya sekali, jika anda membuatnya berada di jalan Allah maka hal tersebut merupakan keberuntungan didunia dan ganjaran di akhirat”. Kita belajar darinya bagaimana hakikat berkorban dan berdakwah dijalan Allah .

Saudaraku yang tercinta…

Seratus tahun telah berlalu kelahiran pemimpin kita, namun sosok dakwahnya masih tetap menggetarkan dunia, para pembela dakwah dan ideologinya dan juga para penentangnya, semuanya melihat seperti burung elang yang terbang diatas langit menembus angin topan, para pengikut dakwahnya masih terus bergerak di setiap tempat, dakwah yang menembus hingga 90 negara di dunia, hingga menjadi tandhim Islam yang membawa ideologi, menyeru dan membina manusia menuju Allah, untaian hikmah beliau masih terus bergema dan selalu diulang di tengah-tengah kita, beliau selalu menyerukan kepada pendukung dan penentangnya: “Kami akan memerangi manusia dengan cinta”. Memberikan arahan akan tabiat perjuangan dan jalan yang sebenarnya: “Bahwa perjuangan kita adalah perjuangan tarbiyah (pembinaan)”. Guna menebar benih cinta dan tarbiyah dalam dakwah, keduanya merupakan rahasia keberlangsungan dakwah sekalipun angin topan menerpanya. (Ikhwanonline.com 14/11/2006. Oleh: Ismail Hamid)

Baca Selengkapnya...

Wednesday, October 21, 2009

Wasiat Hasan Al-Banna; Jika Anda Ingin Menjalin Hubungan Dengan Allah, Perbaharuilah Taubat


JIKA ANDA INGIN MENJALIN HUBUNGAN DENGAN ALLAH, PERBAHARUILAH TAUBAT

Kita panjatkan puji syukur ke hadhirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Ikhwan yang mulia…

Saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Saya ingin agar Sentuhan Hati Hari Selasa ini senantiasa dapat membuka pembicaraan dan mengambil intisarinya pada awal kajian.

Ikhwan sekalian..

Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, jika ia baik maka seluruh jasad akan baik dan jika ia rusak maka seluruh jasad juga akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.

Kita tidak ingin merampas hak hati kita untuk memperoleh sentuhan yang mulia, yaitu sentuhan cinta dan persaudaraan karena Allah, yang ditumbuhkembangkan di dalam hati oleh acara ini dan oleh pertemuan yang tulus semacam ini, satu malam dalam sepekan. Karena itu, saya tetap ingin memberikan hak sentuhan ini pada malam yang mulia ini, yang kedatangannya sangat saya nantikan lantaran saya berbahagia melihat dan berbicara kepada Anda semua.

Sebagaimana yang pernah dan selalu saya katakan, juga yang saya harapkan agar Anda ketahui, Ikhwan sekalian, janganlah Anda membatasi manfaat pertemuan ini hanya dengan menyerap berbagai hakikat keilmuan yang Anda pelajari atau ungkapan indah yang Anda hafalkan. Tetapi hendaklah Anda semua ingat bahwa ada nilai lain yang lebih tinggi dan lebih luhur, yaitu adanya santapan untuk ruhani kita, kedekatan antar kita, serta kebahagiaan kita oleh perjumpaan di jalan Allah dan karena Allah ini.

Di samping itu, cinta dan persaudaraan, yang merupakan bekal bagi orang-orang lemah, kekayaan bagi orang-orang miskin, serta kebahagiaan bagi orang-orang yang menderita. Pada malam Rabu ini, sebagaimana antusiasme kita untuk memperoleh manfaat pengetahuan, kita juga harus antusias untuk memperoleh kekuatan ruhani dan kebahagiaan jiwa yang terus akan dicurahkan ke dalam jiwa dan disiramkan ke dalam ruhani oleh perjumpaan yang tidak diniatkan selain untuk mencari ridha Allah swt. dan tolong-menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan. Kita memohon kepada Allah swt. agar menjadikannya sebagai sikap cinta yang tulus, semata-mata karena mencari ridha-Nya, serta bermanfaat di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik Pemimpin dan Penolong.

Ikhwan yang mulia…

Ada semacam perasaan baru yang ditimbulkan oleh Sentuhan Hati Hari Selasa di dalam jiwa saya pada malam ini, yaitu menerawangnya pikiran dan perasaan saya secara bersamaan ke bukit Shafa. Saya mulai merasakan hal ini untuk pertama kali ketika saya berdiri melaksanakan shalat maghrib pada malam hari ini. Saya hadapkan pandangan kepada para Ikhwan. Saya melihat ke belakang untuk merapikan shaf dan menjalankan sunah ini, karena Rasulullah saw. tidak pernah bertakbir untuk melaksanakan shalat kecuali setelah melihat barisan yang ada di belakangnya. Kadang-kadang beliau meluruskan shaf sendiri dan kadang-kadang beliau menyuruh orang untuk meluruskan shaf-shaf tersebut. Beliau pernah bersabda:

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ وَحَاذُوا بَيْنَ مَنَاكِبِكُمْ وَلِينُوا فِي أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ

“Luruskanlah shafmu, luruskanlah telapak kaki dengan telapak kaki dan pundak dengan pundak. Dan bersikaplah lunak terhadap tangan saudara-saudaramu. ” (Ahmad)

Saya berdiri dan memandangi para Ikhwan. Pandangan inilah yang membawa pikiran dan perasaan saya kepada peristiwa di tengah bukit Shafa, ketika Rasulullah saw. untuk pertama kali dalam sejarah dakwah berkumpul bersama beberapa orang pilihan yang terdiri dari berbagai usia dan berasal dari berbagai tempat. Di antara mereka ada yang masih anak-anak, ada yang tua, ada yang muda, ada yang kaya, ada yang miskin, ada tokoh terkenal, ada orang yang tidak terkenal, ada cerdik pandai dan terdidik, ada yang ummi dan buta huruf, ada yang berstatus budak dan ada yang berstatus sebagai orang merdeka. Secara keseluruhan jumlah mereka bisa dihitung dengan jari dan tidak lebih dari seratus orang. Beliau saw. berkumpul bersama orang-orang pilihan ini di tengah-tengah bukit Shafa, menyirami mereka dengan semangat spiritual beliau, menuntun mereka membaca kitab Allah yang agung, dan mendiktekan ayat-ayat Allah. Dari mereka itulah beliau membangun umat yang baru, dengan dakwah baru dan untuk dunia baru. Demi Allah, wahai Ikhwan, hampir saja saya lupa bertakbir dalam shalat karena hampir larut membayangkan peristiwa itu. Saya lantas memendam bayangan dalam diri saya. Sekarang kesempatan berdiri di hadapan Anda semua, saya manfaatkan untuk menyampaikan perasaan yang terpendam itu. Tidak mungkinkah kelompok yang ada ini menjadi pelanjut dari kelompok dahulu itu? Tidak mungkinkah Anda menyampaikan dakwah baru untuk membentuk sebuah kelompok baru yang menjadi fondasi bagi berdirinya sebuah dunia baru?

Rasulullah saw. bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ

“Akan tetap ada sekelompok umatku yang muncul di atas kebenaran, yang tidak akan menjumpai bahaya dari siapa pun yang memusuhi mereka.” (Muslim)

Dalam sebuah atsar juga disebutkan:

“Kebaikan akan ada pada diriku dan pada umatku hingga hari kiamat”.

Saya mengidamkan dari Anda semua menjadi sebagaimana kelompok pilihan yang ada di hadapan Rasulullah saw. ketika itu, yang dimulai dari anak usia 9 tahun hingga orang dewasa berusia 40 tahun. Di dalamnya terhimpun orang miskin yang kebutuhan sehari-harinya tidak terpenuhi dan orang kaya yang rezkinya dilapangkan oleh Allah. Persatuan kelompok ini bertumpu pada seseorang, bukan yang paling berpangkat, yang paling banyak keluarganya, atau yang paling memiliki berbagai perangkat hidup, tetapi pada seorang laki-laki dari kalangan mereka.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Tuhan kalian itu adalah Tuhan Yang Esa.” (Al-Kahfi: 110)

Mereka bersatu di sekeliling Nabi saw. Apa yang dicita-citakannya? Apa yang dipikirkannya? Apa yang diinginkannya? Sampai sejauh manakah cita-cita kelompok yang mengadakan pertemuan dan pembicaraan secara sembunyi-sembunyi ini? Apakah yang diinginkan oleh orang-orang itu? Mereka ingin menanamkan paradigma baru dalam pemikiran masyarakat, menegakkan dunia baru di muka bumi ini, dan menyusun bangunan baru dari struktur masyarakat, serta menyambung hubungan antara langit dan bumi.

Kelompok kecil yang terpisah dari masyarakat ini ingin memberikan tatanan dan nilai-nilai kemanusiaan yang baru kepada umat manusia, dengan izin Allah. Tak lama kemudian kelompok ini berhasil memancangkan panji-panji Allah di bumi, menyatukan hati manusia pada Tuhan manusia, menumbuhkan perasaan baru dalam hati, meletakkan kitab baru di hadapan umat manusia, dan menciptakan generasi teladan di tengah-tengah manusia, yang berhak mendapatkan sifat dan Allah swt.

“Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia.” (Ali Imran: 110)

Setelah dengan penghayatan jiwa, saya mengkhayalkan kelompok pertama yang merupakan pilar dakwah Rasulullah saw. di tengah-tengah bukit Shafa ini dan saya dapati bahwa faktor utama yang menjadi landasan tegaknya dakwah tersebut dalam jiwa kelompok ini ada tiga. Seandainya ketiga hal itu berhasil terwujud di dalam diri kita sebagaimana yang telah terwujud dalam diri mereka, niscaya kita akan dibawa melangkah di jalan kemuliaan dan kemenangan, sebagaimana yang telah terjadi pada mereka.

Pertama adalah unsur keimanan yang sempurna.

Keimanan inilah yang membersihkan mereka dari keinginan apa pun selain dakwah. Mereka telah mendengarkan seruan:

“Maka segeralah kembali kepada Allah.” (Adz-Dzariyat: 50)

Mereka menjadikan La ilaha Mallah sebagai slogan, pada saat yang sama mencampakkan slogan selainnya. Orang-orang musyrik berada dalam kesesatan, karena mereka mempertuhan selain Allah. Orang-orang Persia berada dalam kesesatan karena mereka mengabdi kepada nafsu dan syahwat. Ahli Kitab berada dalam kesesatan karena mereka menjadikan para pendeta dan orang-orang alim mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.

Bumi ini secara keseluruhan berputar di atas poros kesesatan, karena tidak mendapatkan petunjuk dan tidak mengambil cahaya dari Allah. Sedangkan mereka berada di atas kebenaran yang nyata karena mereka telah menghindari penyembahan kepada berhala dan hawa nafsu serta menyerahkan seluruh pengabdian kepada Allah. Mereka tidak beribadah kecuali kepada Allah, tidak patuh kecuali kepada Allah, tidak bergantung kecuali kepada Allah, tidak memohon kecuali kepada Allah, dan tidak merasakan kebahagiaan kecuali karena berdekatan dengan Allah. Mereka tidak merasa menderita kecuali oleh dosa yang menjauhkan dari Allah.

Semua itu merupakan faktor pertama yang menyatukan hati mereka, karena mereka tidak berafiliasi kepada si Fulan atau si Fulan. “Bapakku Islam, tidak ada bapak selainnya bagiku. Ketika orang-orang berbangga dengan Qais dan Tamim Mereka tahu bahwa bumi ini milik Allah yang diwariskan kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dan bahwa kesudahan yang baik akan diperoleh orang-orang yang bertaqwa. Segala perbedaan yang biasanya mencabik kelompok-kelompok dan menjauhkan hati seseorang dari yang lainnya, musnah, lantaran mereka telah diwarnai dengan sibghah (celupan) Allah.

“Sibghah Allah, dan siapakah yang lebih baik sibghah-njz daripada Allah?” (Al-Baqarah: 138)

Kedua, unsur cinta, kesatuan hati, dan keterpautan jiwa.

Faktor apalagi yang bisa menjadikan mereka berselisih? Apakah mereka akan berselisih gara-gara kenikmatan dunia yang fana ataukah karena perbedaan gaji, tugas, dan status, sedangkan mereka mengetahui bahwa,

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” (Al-Hujurat: 13)

Jadi tidak ada faktor-faktor yang mengakibatkan mereka terpecah belah. Mereka bersatu dan bersaudara, yang satu tidak menghinakan yang lain, tetapi masing-masing mencintai saudaranya dengan sepenuh kecintaan, kecintaan yang mencapai tingkatan itsar (mengutamakan orang lain).

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Al-Hasyr: 9)

Mereka juga senantiasa menghayati firman Allah:

“Katakanlah, ‘Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan- Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah: 24)

Ketiga, adalah unsur pengorbanan.

Mereka telah paham semua ini, sehingga rela memberikan apa saja untuk Allah, sampai-sampai ada di antara mereka yang merasa keberatan mengambil ghanimah yang telah dihalalkan oleh Allah untuk mereka.

“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kalian ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik.” (Al-Anfal: 69)

Terhadap hal ini pun mereka merasa keberatan dan menghindari. Mereka meninggalkannya karena mengharapkan pahala dari Allah swt. agar amal mereka tidak dikotori oleh ambisi pribadi.

Ketiga unsur ini, yaitu keimanan yang membersihkan diri mereka dari pikiran apa pun selain ma’rifatullah dan ukhuwah yang mengikat hati mereka sehingga seakan-akan menyatu, dan pengorbanan yang mendorong mereka untuk memberikan jiwa dan harta dalam rangka menggapai ridha Allah, yang menyebabkan mereka tampil dalam profil seperti ini.

Faktor-faktor inilah yang telah mengeluarkan sekelompok manusia tersebut dari kehinaan kepada kemuliaan, dari perpecahan kepada persatuan, dan dari kebodohan kepada ilmu. Mereka adalah pemberi petunjuk bagi umat manusia dan calon-calon pengantin di surga.

Perasaan ini, Ikhwan sekalian, meluap di dalam diri saya ketika saya berdiri melihat Anda semua dalam shaf, dan ketika berdiri berceramah di hadapan Anda semua. Saya memohon kepada Allah agar menjadikan kita sebagai pengganti-pengganti mereka, agar kita memurnikan iman kita kepada Allah, agar Dia menjadikan kita orang-orang yang bercinta karena Allah, bersatu di atas kalimat-Nya, sebagaimana mereka telah bersatu dan memberikan sesuatu untuk menggapai ridha Allah.

Ya Allah, kami menginginkan yang demikian itu; maka jadikanlah kami, ya Allah, demikian.

Salah seorang akh sepekan yang lalu mengusulkan sebuah tema kepada saya. Barangkali dalam kondisi seperti ini, banyak yang mengharapkan saya menyampaikan ceramah dengan tema yang jauh dari apa yang akan saya bicarakan kepada Anda semua sekarang. Tetapi, sebenarnya saya mempunyai anggapan bahwa pembicaraan ini sangat dekat dengan keadaan kita sekarang.

“Sesungguhnya mereka melihatnya jauh, tetapi kita melihatnya dekat.” (Al-Ma’arij: 6-7)

Seorang akh pernah membisikkan ke telinga saya pada akhir kajian yang lalu, “Berbicaralah kepada kami tentang taubat.” Ia lantas pergi meninggalkanku. Tiba-dba ada akh lain berbisik pula, “Ingatkan kami kepada Allah, karena dosa-dosa kami sudah banyak.” Datang orang ketiga yang berbisik, “Insya Allah, pembicaraan kita pada pekan mendatang adalah ‘kita berpikir tentang taubat kita.’” Sedangkan Akh Yahya Afandi Abdul Aziz meminta agar saya melengkapi pembicaraan tentang sejarah para nabi dan agar tema yang dipilih malam ini mengenai Sayidina Ibrahim as., supaya tema serial yang pernah saya sampaikan itu lengkap.

Kemudian saya berpikir, tema apakah yang akan saya bicarakan, kemudian saya dapati diri saya tertarik untuk berbicara tentang tema pertama, “Taubat”.

Ikhwan sekalian…

Sungguh menakjubkan. Sebelum berbicara kepada Anda semua, pembicaraan ini terlebih dahulu saya tujukan kepada diri saya sendiri. Ini bukan sekedar masalah pembahasan kitab atau pentransferan ilmu, tetapi masalah hati yang saling terpaut dan bersatu.

Barangkali di antara kita ada yang berhati waspada kemudian berhubungan dengan hati yang lalai dan mempengaruhinya sehingga ikut waspada. Barangkali di antara kita ada seorang yang maqbul, lantas kita menjalin hubungan dengannya sehingga ia limpahkan kepada kita sebagian kabar gembira tentang kedatangan rahmat yang dilimpahkan Allah kepadanya.

Ikhwan sekalian..

Saya telah banyak berbicara mengenai hal-hal yang tampaknya jauh melenceng dari tema pembicaraan kita sekarang, tetapi saya menganggapnya sangat dekat. Demi Allah, andaikata kita semua bisa melaksanakan taubat dengan sebaik-baiknya, niscaya kita akan mempunyai salah satu senjata yang paling tajam. Itulah yang saya katakan bahwa “orang-orang melihatnya jauh, tetapi saya melihatnya dekat”, karena kekuatan ada dua macam: kekuatan khalik dan kekuatan makhluk. Jika kekuatan makhluk tidak kita miliki, maka kita bertumpu kepada kekuatan Al-Khalik. Jika kita tidak mampu membela diri kita sebagaimana yang bisa dilakukan oleh penduduk bumi yang lain, maka hendaklah kita memohon pertolongan kepada Allah, sang Khalik.

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (Al-Hajj: 38)

Jika kita gagal menyempurnakan kekuatan materi, tiada yang harus kita lakukan selain menyempurnakan kekuatan spiritual. Karena itu, Ikhwan sekalian, izinkan saya berbicara kepada Anda mengenai taubat. Semoga dalam pertemuan ini kita bisa menghadapkan hati dan bertaqarub kepada Allah dengan sebaik-baiknya, sehingga rahmat dan ketenangan dari Allah akan turun kepada kita.

“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung- kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kalian tiada menyangka bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumahrumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.”(AI-Hasyr: 2)

“Jika kalian tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kalian tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (At-Taubah: 40)

Perhatikan, wahai Akhi, firman Allah swt. ketika menceritakan kisah Nabi-Nya saw.

“Di waktu dia berkata kepada temannya, Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.’”

Ketika pertolongan dari Allah datang, maka tidak ada satu kekuatan pun bisa mengalahkannya. Kemudian Allah memberikan kasih sayang dan rahmat-Nya. Betapa perlunya kita bertaubat, dengan taubat nasuha (taubat yang sebenar-benarnya), semoga Allah meliputi kita dengan perhatian dan rahmat-Nya.

Ikhwan sekalian, jika kita berbicara tentang taubat, maka seakan-akan kita berbicara tentang sesuatu yang menjadi tujuan kita. Manusia itu dipengaruhi oleh dua kekuatan: kekuatan ruhani dan kekuatan materi.

Anda, wahai Akhi, adalah makhluk spiritual dengan ruh yang Anda miliki, tetapi juga makhluk materi dengan badan yang membungkus Anda. Karena itu, Anda bisa dipengaruhi oleh kebaikan berkat komponen spiritual Anda, sekaligus bisa dipengaruhi oleh keburukan lantaran komponen material Anda. Anda makhluk spiritual dengan rahasia firman Allah,

“Dan telah Kutiupkan padanya ruh-Ku.” (Shad: 72)

Pada saat yang sama Anda juga makhluk materi dengan rahasia firman Allah,

“Dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (Al-A’raf: 12)

Ini adalah penciptaan Anda pertama kali. Masing-masing dari keduanya mempunyai tuntutan, keinginan, permulaan, dan akhir yang berbeda dari yang lain, sedangkan Anda maju mundur di antara keduanya. Sekarang Anda pahami firman Allah berikut:

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (Al-Balad: 10)

Anda berada di pertengahan. Ruh menarik Anda ke alamnya yang tinggi, sedangkan materi menarik Anda ke alamnya (tanah) yang rendah.

Allah swt. telah mengutus seorang rasul untuk menjelaskan kepada Anda apa yang baik dan yang buruk bagi Anda. Allah juga menciptakan musuh yang senantiasa siaga, yaitu iblis, yang telah bersumpah untuk menjerumuskan Anda kepada keburukan.

“Kemudian saya (iblis) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 17)

Jadi, wahai Akhi, Anda dihadapkan kepada dua kekuatan ini. Jika kekuatan spiritual menang, Anda naik ke alam Al-Malaul A ‘la, tetapi jika kekuatan materi —yang berunsur tanah— menang, Anda jatuh hingga ke martabat yang serendah-rendahnya.

“Maka sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Sjams: 9,10)

Wahai Akhi, taubat adalah timbangan yang menguatkan dan tangga untuk meningkatkan kebaikan. Orang-orang bijak pernah mengatakan, “Seluruh maqam mempunyai awal dan akhir, kecuali taubat. Ia senantiasa menyertai seseorang sejak dari awal hingga akhirnya. Jika Anda terseret oleh kekuatan jahat, boleh jadi Anda mendapatkan ilham untuk bertaubat sehingga kembali sebagaimana keadaan sebelumnya, atau Anda terdorong untuk terus melakukan kemaksiatan dan tetap pada kejahatannya, sehingga Anda kalah dalam pertarungan.”

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).” (Al-A’raf: 176)

Adapun orang yang terjerumus, jatuh, dan cenderung kepada daun timbangan kejahatan, sedangkan tali yang menghubungkannya dengan kebaikan hampir terputus, akan tetapi ia menyadari kesalahan dan bertaubat, segera berdiri dengan penuh rasa takut, tunduk, taubat dan penyesalan, maka ia akan pulih kembali kepada posisinya semula, bahkan daya tahannya semakin kuat, sehingga dirinya semakin dekat kepada kebaikan.Itu telah diisyaratkan oleh firman Allah:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali Imran: 135-136)

Jika seseorang tekun bertaubat, terus-menerus mengingat dan melaksanakannya, maka sebagai hasilnya akan tumbuh dalam dirinya daya kewaspadaan. Jika setan datang membisiki dan menggoda untuk mengikutinya, ia segera sadar, tetap pada pendiriannya, dan takut kepada perintah Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Al-A’raf: 201)

Jika ia terus memegang teguh taubat, maka setan akan putus harapan terhadapnya, karena tahu bahwa ia telah melindungi diri dengan kewaspadaan; diri, perasaan, dan ruhnya telah disinari oleh hakikat pengetahuan yang benar, selain juga ketaatan. Ketika itulah ia berada dalam lindungan Allah.

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagi kalian terhadap mereka.” (Al-Hijr. 42)

Wahai Akhi, ini semua tidak terjadi karena ia senantiasa membawa semangat bertaubat. Karena itulah, wahyu berikut diturunkan:

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat.” (An-Nashr: 1-3)

Ketika shalat, dalam ruku’ dan sujud beliau membaca:

“Mahasuci Allah, dan dengan memuji-Mu maka ampunilah aku.”

Wahai Akhi, Anda mendapati anjuran untuk bertaubat. Cukuplah bila Anda mengetahui bahwa ia merupakan sebab yang mendatangkan kecintaan Allah.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

Di antara sentuhan makna halus yang terkandung dalam taubat, Ikhwan yang mulia, adalah bahwa ketika bertaubat, Anda memuji Allah.

Taubat adalah karunia Allah kepada Anda, bukan karunia Anda kepada Allah. Tetapi Allah swt. adalah Dzat yang telah memberikan taufiq dan ilham kepada Anda untuk melaksanakan taubat, sebagaimana Dia telah mengilhamkan hal itu kepada moyang Anda:

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 37)

Semula Adam tidak mengetahui bagaimana cara bertaubat, lantas Allah mengajarinya. Itulah teladan yang dibuat oleh Allah untuk Anda.

“Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya.” (Thaha: 1 2 2 )

Jika Allah tidak menghendaki Anda bertaubat, niscaya Dia tidak memberikan ilham kepada Anda untuk bertaubat.

Jika Anda kembali kepada Allah dengan bertaubat, maka itu merupakan petunjuk bahwa Dia mencintai Anda.

“Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.” (At-Taubah: 1 1 8 )

Dalam doa sayyidul istighfar, Rasulullah saw. berdoa:

‘Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Engkau telah menciptakan diriku, sedangkan aku adalah hamba-Mu dan aku berada di atas perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada- Mu dari kejahatan perbuatanku. Aku mengakui nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”

Nabi saw. pernah bersabda:

“Barangsiapa mengucapkannya pada sore hari dengan penuh keyakinan, kemudian pada malam harinya meninggal dunia, niscaya ia masuk surga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada pagi hari dengan penuh keyakinan, kemudian pada siang itu ia meninggal dunia, maka ia masuk surga.”

Pertama kali yang Anda katakan kepada Tuhan Anda dalam istighfar ini adalah, ‘Ya Allah, Engkaulah Tuhanku.” Anda bertawasul kepada Allah dengan pendidikan-Nya terhadap Anda, perjanjian-Nya terhadap Anda, kemudian dengan keesaan-Nya dalam tauhid.

Setelah itu Anda menyatakan bahwa segala nikmat berasal dari-Nya. Lantas Anda mengatakan, “Engkau telah menciptaku,” berarti Anda mengakui sifat kehambaan bagi diri Anda: “Sedangkan aku adalah hamba-Mu,” berarti Anda mengakui perjanjian antara Anda dengan-Nya; “Dan aku berada di atas perjanjian-Mu,” yakni mengakui janji yang dijanjikan-Nya, ketika Ia mengambil perjanjian darimu: “dan janji-Mu, sebatas kemampuanku. “Kemudian mengakui nikmat yang diberikannya kepada Anda, “Aku mengakui nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku,” karena sesungguhnya Allah swt. adalah sumber segala nikmat dan yang memberikan taubat. Kemudian Anda mengakui dosa, “Dan aku mengakui dosadosaku”.

Ternyata Anda adalah seorang pelaku dosa yang suka memohon ampunan, “Maka ampunilah aku, karena tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” Seraya mengatakan, “Ya Allah, tidak ada alasan yang bisa aku kemukakan, tidak ada kekuatan yang bisa kumintai pertolongan; jika Engkau mengampuni, itu merupakan kemurahan, dan jika Engkau menyiksa, itu pun merupakan keadilan.”

Ikhwan sekalian…

Apakah Anda semua ingin agar kita bisa berhubungan dengan Allah, sehingga kita memperbarui taubat?

“Mudah-mudahan Tuhan kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahrim: 8)

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.


Sumber : www.al-ikhwan.net

Baca Selengkapnya...

Monday, October 19, 2009

Membangun Negara Islam

Studi Politik Menuju Tegaknya Negara Islam dan Sebab-sebab Keruntuhannya dalam Perspektif Politik Imam Hasan Al-Banna

Imam Hasan Al-Banna -semoga Allah merahmati Beliau- semenjak awal telah berupaya memberikan pencerahan wawasan politik pada banyak kalangan dan mencurahkan perhatian khusus terhadap para kader dakwah di sela-sela ceramah-ceramah, untaian-untaian nasehat serta tulisan-tulisannya.

Di antara isyarat ketajaman insting politik Beliau ialah upaya memberikan pencerahan wawasan politik. Ini terefleksi secara gamblang ketika Beliau memproklamirkan keinginan mendirikan sebuah negara yang mirip dengan negara bentukan Rasulullah pada fase dakwah Rasulullah.

Imam Hasan Al-Banna mengambil intisari ajaran Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah dalam menyimpulkan kaidah-kaidah umum yang menjadi sandaran negara Islam tersebut. Beliau menyebutkan sekitar sebelas kaidah umum di antaranya adalah:

- Memproklamirkan spirit persaudaraan umat manusia,
- Menjamin keberlangsungan masyarakat dengan menghormati hak hidup, kepemilikan, hak memperoleh pekerjaan, kesehatan, kebebasan, pendidikan dan keamanan bagi setiap individu.
- Membuka lapangan pekerjaan.
- Mengontrol dua nsting dasar manusia yakni, insting menjaga diri dan keturunan dan mengatur kebutuhan kemaluan dan mulut (makan dan minum).
- Mengokohkan persatuan dan kesatuan, memerangi semua bentuk pertikaian dan faktor-faktor yang berpotensi akan menimbulkan persengketaan dan perselisihan.
- Menjadikan negara sebagai agen, media dan wadah yang merefleksikan ideologi yang dianut, negara yang menjaga keberlangsungan perjalanan dakwah, bertanggung jawab penuh dalam perealisasian misi dan target yang ingin dicapai.

Selanjutnya Beliau menjelaskan implementasi dari kaidah-kaidah umum tersebut dalam pemerintahan Islam, khususnya pemerintahan Islam pada era kepemimpinan Rasulullah, lalu pada fase kepemimpinan para Khulafaurrasyidin. Beliau juga mengkaji metode negara Islam pada zaman tersebut hingga mampu menghapus doktrin-doktrin paganisme yang berkembang pesat di negara-negara Arab dan Persia, serta mengusir kabilah-kabilah Yahudi yang berusaha menandingi ajaran Islam dan berupaya menggalang kerjasama dengan kaum paganis serta mengadakan gerakan bawah tanah yang berjuang untuk menumbangkan pemerintahan Islam.

Di samping itu, negara Islam juga berhasil mengusir sekte-sekte Kristen yang masih bergelimang dengan praktek-praktek kesyirikan serta masih menganut dogma trinitas, sehingga akhirnya sekte-sekte tersebut keluar dari tanah Arab dan mendapatkan hawa kebebasan di negeri asalnya yaitu di kota Kostantinopel. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama, hingga akhirnya umat Islam berhasil menaklukkan kota Konstantinopel dan menyulapnya menjadi negeri Islam, bahkan pasukan Islam sampai ke jantung Eropa seperti yang diceritakan Andalusia (Spanyol sekarang).

Dalam beberapa abad pemerintahan Islam mampu bertahan menjadi pemerintah terkuat di dunia Internasional dan kekuasaannya menyebar ke berbagai wilayah seantero dunia. Namun pada abad ke 7H, bangsa Tar-tar mengadakan invasi besar-besaran terhadap pusat pemerintahan Islam di Baghdad. Serangan ini mengakibatkan Baghdad runtuh dan jatuh ke tangan bangsa Tar-tar tersebut. Dalam peristiwa ini, di Baghdad saja tercatat sekitar 2 juta korban dari kalangan umat Islam berjatuhan se¬bagaimana dituliskan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah jilid XIII hal 202. Dan pada abad XX, tentara salibis berhasil meruntuhkan dinasti Utsmaniyyah dan Khilafah Islamiyyah secara umum.

Imam Hasan Al-Banna telah melakukan pengkajian dan analisa mendalam mengenai faktor-faktor penyebab keruntuhan Daulat Utsmaniyyah tersebut. Dari hasil analisa Beliau tergambar pemahaman dan insting politik yang lahir dari keluasan wawasan keislaman dan pemahaman fiqih politik Islam yang mendasar, diiringi pula oleh pengetahuan mengenai rentetan peristiwa sejarah serta pemahaman karakteristik dan watak-watak dasar beragam suku bangsa. Karena sesuatu yang tak bisa dipungkiri, bila masing-masing bangsa memiliki karakteristik yang tidak dimiliki bangsa lain, seperti bangsa Turki yang terkenal dengan keahlian mereka dalam strategi peperangan, sehingga mereka kurang tertarik mendalami ilmu-ilmu seperti ilmu syariah, hukum dan perundang-undangan Islam.

Faktor-faktor Utama Penyebab Keruntuhan Daulah Utsmaniyyah dalam Pandangan Imam Hasan Al-Banna adalah sebagai berikut:

a. Pertikaian Politik, Rasis dan Perebutan Kekuasaan.

Pertikaian politik dan perebutan kekuasaan tentu saja akan meluluh lantahkan, memecah belah dan melemahkan persatuan serta kesatuan umat Islam. Al-Qur`an telah memberikan warning terhadap masalah tersebut. Firman Allah dalam Qur’an surah Al-Anfal 46:

(وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ) [الأنفال: 46]
Artinya: janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.

Ketika para pejabat pemerintahan Islam telah dikuasai oleh perasaan gila kekuasaan dan jabatan, sehingga mengakibatkan perseteruan antara sesama kubu Islam demi merebut puncak kekuasan tertinggi. Kondisi ini meninggalkan dampak negatif terhadap masyarakat yang akhirnya ikut terpecah. Akibatnya kekuatan umat melemah dan musuh dengan mudah dapat menyerang sewaktu-waktu.

Maraknya pertikaian dalam keberagamaan, perbedaan partai maupun ideologi serta pendistorsian implikasi Islam sebagai aqidah dan amal hingga berubah menjadi label-label hampa tak bermakna, pengabaian ajaran Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah SHALLALLAAHU ALAIHI WA SALLAM, kejumudan (statis) serta fanatisme terhadap pandangan dan pendapat tertentu.

Kesemua itu merupakan wa¬bah penyakit berbahaya yang sangat diwan¬ti-wanti oleh Islam agar senantiasa dijauhi oleh kaum Muslimin. Karena Rasulullah SHALLALLAAHU ALAIHI WASALLAM telah menginformasikan jaminan keberadaan umat Islam dalam petunjuk kebenaran selama mereka masih berpegang teguh dan konsekuen terhadap ajaran Al-Qur`an dan Sunnah Rasullulah. Rasul bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدِيْ أَبَدًا، كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ.
Artinya: telah kutinggalkan bagi kalian dua perkara -jika kalian berpengang teguh de¬ngan keduanya- niscaya sepeninggalku kalian tidak akan sesat selamanya, dua perkara tersebut adalah kitabullah dan sunnah Rasulullah.

Menurut hemat penulis, fanatisme umat terhadap mazhab dan aliran pemikiran tertentu terbukti telah menjadikan umat terpecah ke dalam beberapa kelompok, pada hakikatnya perbedaan tersebut malah akan menjadi bumerang terhadap umat Islam sendiri dan tak berpengaruh terhadap musuh Islam, malah akan memudahkan musuh Islam menyerang kita. Fanatisme mazhab di akhir-akhir dinasti Utsmaniyyah sampai pada taraf kebencian antara satu mazhab dengan mazhab lain, kebencian tersebut berbuah permusuhan dan pertikaian. Sehingga kala itu, kerap ditemukan seorang bermazhab Hanafy tidak mau menjadi makmum shalat yang diimami oleh seorang Imam bermazhab Syafiiy, begitupula seorang Hanbaly tidak terima keimaman seorang Syafiiy. La haula wa laa quwwata Illa billah.

b. Larut dalam kemewahan dunia dan syahwat

Wabah penyakit ini tidak hanya melanda kalangan rakyat biasa, tapi termasuk para pejabat pemerintahan selama beberapa kurun waktu menjelang keruntuhan Dinasti Utsmaniyyah, kemudian kondisi semakin parah dan bertambah genting hingga akhirnya kepe¬mimpinan para pemangku kekuasaan dalam pemerintahan semakin melemah dan tak sanggup memperbaiki kondisi negara, agama dan perpolitikan.

Allah Ta’ala telah memberikan “lampu kuning” terkait penyakit yang satu ini dalam firman-Nya QS. Al-Isra 16:

(وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيْراً) [الإسراء: 16]
Artinya: Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

c. Transformasi Kekuasaan terhadap Non-Arab

Seorang yang gemar membaca dan mengamati sejarah Islam akan mengerti bahwa dalam beberapa periode pemerintahan Islam, tampuk kekuasaan sempat dipegang oleh orang-orang yang bukan ahlinya dan tidak pantas menduduki jabatan tersebut, dikarenakan keawaman mereka terhadap agama dan hukumnya.

d. Pengabaian Sains dan Teknologi serta Tenggelam dalam Teori-teori Filsafat

Sebuah negara yang kuat adalah negara yang menerapkan hukum syariat serta pengembangan sains dan teknologi yang akan menopang kemajuan dan peradabannya dari hasil pemanfaatan temuan-temuan baru dalam teknologi itu. Kala itu, umat Islam malah tertipu dan larut dalam perasaan kemapanan dan kekuatan mereka, sehingga terkesan mengabaikan dan meremehkan kekuatan musuh, tanpa pernah merasa peduli guna melakukan upaya-upaya penelitian untuk menjajaki peta kekuatan musuh dari segi materi, teknologi, maupun konspirasi-konspirasi terselubung demi memerangi Islam dan kaum Muslimin. Aki¬batnya, umat Islam tidak mempersiapkan kekuatan militer yang cukup mengantisipasi serangan musuh-musuh Islam dan memaksa mereka bertekuk lutut. Yang terjadi malah sebaliknya, umat kalah total di hadapan para aggressor tersebut.

Hal ini juga didorong oleh bujuk raru dan pererasaan terpana dengan gaya hidup mereka yang hanya memuaskan syahwat. Padahal Islam telah melarang secara jelas perilaku meniru-niru orang-orang kafir. Sebagaimana Firman Allah dalam Qur’an surah Ali-Imran 149:

(يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ تُطِيْعُوا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَرُدُّوْكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوْا خَاسِرِيْنَ) [آل عمران: 149]
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

Akibat dari keterpanaan tersebut, orang-orang kafir dengan mudah menguasai negara-negara Islam, bahkan kaum penjajah seperti, Inggris, Perancis, Italy, Belanda, Belgia dan Negara Komunis (Uni Soviet) dengan mudah berhasil mengelompokkan negara-negara Islam -menjadi Negara-negara kecil dan lemah-. Mereka berupaya menjauhkan Islam dari pemerintahan dan menebar propaganda atheisme dan liberalisme di segenap negara Islam serta menebarkan fitnah dan desas-desus dalam pemahaman Islam.

Kemudian Imam Hasan Al-Banna berpendapat bahwa kondisi sulit yang menimpa banyak negara Islam, selayaknya memacu umat Islam berpikir ekstra supaya bisa keluar dari permasalahan-permasalahan yang membelit. Imam Hasan Al-Banna dan beberapa orang kawan karibnya kala itu, termasuk dalam barisan garda terdepan di antara umat Islam yang berpikir mencari solusi dari permasalahan pelik yang melanda. Dalam siatuasi kolonialisme yang melanda banyak negara Islam, Beliau dan beberapa rekannya berjuang mendirikan sebuah jamaah Ikhwanul Muslimin yang berperan membangunkan umat Islam dari tidur panjang, memberikan pencerahan serta membebaskan mereka dari mental-mental terjajah dan terhina.

Untuk mewujudkan misi itu, Ikhwanul Muslimin memasang beberapa target yang bersifat umum dan khusus. Target umum berupa pembebasan dunia Islam dari segala bentuk kekuatan, pengaruh dan otoritas asing serta berupaya mendirikan sebuah negara Islam. Sementara target-target khusus ialah reformasi pendidikan, memerangi kemiskinan dan kebodohan, menanggulangi masalah-masalah kesehatan dan tindak pidana serta menata sebuah masyarakat percontohan yang pantas dinisbatkan pada Islam.

Imam Hasan Al-Banna berusaha memerangi kebodohan dan keterbelakangan dengan memajukan dunia pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lain, Beliau berupaya menanggulangi kemiskinan dengan membuka peluang kerja lewat pendirian perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik. Beliau juga berjuang menanggulangi masalah-masalah kesehatan dengan membangun klinik-klinik pengobatan. Dalam mewujudkan cita-cita mulia tersebut, Beliau menyarankan tiga hal berikut: iman yang kokoh, organisasi yang solid, serta kerja yang berkesinambungan.

Target umum dan khusus dari Ikhwanul Muslimin di atas terbukti memancing kemarahan para penjajah dan kaum kolonialis. Mereka tak menemukan alternatif lain kecuali harus menabuh genderang perang terhadap dakwah dan para kadernya serta menebar rintangan-rintangan dakwah yang diharapkan dapat menghalangi para kader dakwah dalam merealisasikan target umum dan khusus tersebut. Namun Imam Hasan Al-Banna telah lebih dahulu mengisyaratkan rintangan-rintangan yang bakal menghalangi para kader dalam jalan dakwah yanag mereka tempuh. Beliau te¬lah menggambarkan resiko-resiko yang harus dilalui dengan sabar dan tetap komitmen da¬lam medan perjuangan menghadapi tantangan para kaum kolonialis tersebut.

Beliau mengakhiri ceramahnya dengan untaian nasehat yang mengandung pelajaran-pelajaran berharga dalam dunia pergerakan, perpolitikan dan dakwah. Beliau kembali merunut kewajiban-kewajiban yang mesti dipenuhi oleh para kader Ikhwanul Muslimin demi perwujudan cita-cita mulia, sembari menyemangati mereka bahwa kemenangan umat Islam pasti akan datang. Beliau mengungkapkan: “Ingatlah kemenangan yang telah dijanjikan Allah, karena waktu itu pasti akan datang dan tak diragukan lagi”. Lalu Beliau mengutip firman Allah dalam Qur’an surah Ar-Ruum 5:

(وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَ بِنَصْرِ اللهِ يَنْصُرُ مَنْ يَّشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ) [الروم: 4-5].
Artinya: dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. dan dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.
Baca Selengkapnya...

Hasan Al-Banna dan Partai Politik

Sikap Hasan Al-Banna terhadap Partai-Partai Politik di Mesir

Imam Hasan Al-Banna meyakini bahwa keberadaan partai-partai politik Mesir di masanya, terbukti telah memecah belah persatuan bangsa dan mengklasifikasikannya dalam beberapa kelompok tertentu. Umumnya partai-partai ini bekerja demi kepentingan individu dan golongan serta motif-motif materi. Jarang sekali di antara partai-partai tersebut yang memiliki program jelas dalam upaya menciptakan atmosfir kemerdekaan dan reformasi. Atas dasar ini, dalam berbagai forum Imam Hasan Al-Banna menuntut penyelesaian masalah tersebut, bahkan kalau perlu membubarkan partai-partai itu, kemudian meleburnya dalam satu lembaga nasional yang bekerja demi kepentingan bangsa yang dijalankan sesuai dengan koridor Islam.

Penting juga disebutkan bahwasannya Imam Hasan Al-Banna terkenal sangat vokal menyuarakan aspirasinya terhadap partai-partai tersebut. Dalam sebuah forum dia berkata: “Saya ingin menyampaikan kepada sauadara-saudara kita para tokoh, aktifis dan kader partai-partai politik Mesir, bahwa mengeksploitasi Ikhwanul Muslimin dan dijadikan kendaraan politik demi merealisasikan ideology dan pemikiran yang berseberangan dengan Islam belum pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi. Tapi meskipun demikian, Ikhwanul Muslimin tidak memiliki dendam politik terhadap partai manapun. Dan dari lubuk hati yang paling dalam Ikhwanul Muslimin berkeyakinan bahwasannya reformasi Mesir tidak akan berjalan seperti harapan kita semua kecuali bila partai-partai politik tersebut melebur dan berkoalisi menjadi satu institusi bertaraf nasional yang bertanggung jawab untuk membawa Mesir menjadi bangsa yang berdaulat sesuai dengan tuntunan Al-Qur`an.

Dalam kesempatan ini saya sampaikan pula bahwa: “Ikhwanul Muslimin meyakini bahwa kemandulan rekonsiliasi antar partai dan hanya pembiusan, bukan sebagai solusi. Rekonsiliasi itu tidak berlangsung lama dan tidak jarang dalam kesempatan lain, perbedaan pandangan antar partai politik itu malah semakin meruncing serta kembali sebagaimana sebelum rekonsiliasi. Sedangkan satu-satunya obat yang mujarab ialah partai-partai politik tersebut mengundurkan diri secara terhormat –terima ksih banyat ata apa yang telah mereka kerjakan- dan menyerahkan tampuk kekuasaan pada generasi sesudah mereka karena zaman mereka sudah berakhir, sebagaimana ungkapan pepatah: “Patah tumbuh hilang berganti”.

Sikap Islam terhadap Penjajah Barat

Seorang yang pernah membaca risalah Imam Hasan Al-Banna akan menemukan secara gamblang, sikap Islam atau pandangan hukum syariat Islam terhadap negara-negara Barat yang kerapkali melakukan agresi dan invasi terhadap negara-negara Islam yang lemah. Lalu Beliau mencontohkan beberapa negara imperealis Barat seperti: Inggris Raya, Perancis, Italia dan sebagainya.

Setelah Beliau menceritakan kekejaman dan kejahatan bangsa-bangsa Barat terhadap umat Islam di negeri mereka sendiri, kemudian Beliau menegaskan bahwa negara Islam merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisah satu sama lain. Pernyataan perang terhadap satu negara Islam berarti memusuhi seluruh negara Islam, karena umat Islam punya kewajiban membela diri terhadap serangan bangsa-bangsa penjajah serta berjuang memerdekakan negara dari cengkeraman kaum penjajah.

Harapan Beliau tertuju pada para kader dakwah supaya menjelaskan kekejaman dan tindak kriminal berat yang dilakukan para penjajah Barat terhadap umat. Serta menanamkan pada umat pemahaman bahwa kemerdekaan umat Islam tidak boleh diusik dan dijajah bangsa lain, terlebih lagi pemahaman tentang kelayakan umat Islam memegang tampuk kekuasaan dunia dan pemahaman tentang kewajiban jihad dengan nyawa dan harta. Karena betapa kematian lebih berharga daripada kehidupan, yaitu kehidupan perbudakan yang diwarnai oleh kehinaan. Beliau juga mengingatkan akan janji Allah berupa kemenangan bagi mereka yang menjawab seruan jihad dengan penuh keikhlasan dengan mengutip firman Allah dalam Qur’an surah Al-Mujadilah 21:

(كَتَبَ اللهُ َلأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِيْ إِنَّ اللهَ قَوِيٌ عَزِيْزٌ) [المجادلة: 21]
Artinya: Allah telah menetapkan: "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang". Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.


Menyikapi Imperialisme Inggris terhadap Mesir

Sebagai ranah tempat lahirnya jamaah Ikhwanul Muslimin, Mesir punya keistimewaan tersendiri di mata Imam Hasan Al-Banna. Untuk itu Beliau sering membahas kondisi kritis yang melanda Mesir saat berada di bawah penjajahan Inggris yang memperbudak rakyat serta menguasai perekonomian, perindustrian, perdagangan, bisnis dan mengambil alih pengelolaan Terusan Suez, mengeruk sumber daya alam dan melarang rakyat Mesir mengelola sumber daya alam milik mereka sendiri.

Imam Hasan Al-Banna menguraikan bahwa solusi ampuh agar Mesir segera keluar dari cengkeraman penjajahan tersebut adalah membatalkan semua nota kesepahaman dan perjanjian antara pemerintahan Mesir dengan Inggris, melakukan inisiatif serangan terhadap penjajah Inggris yang masih bercokol di Mesir dan berupaya mengusir mereka dari tanah Mesir. Beliau berkata: “Jika dampak yang akan kita rasakan tidak jauh berbeda, lebih baik kita memilih opsi memproklamirkan perang terbuka dengan Inggris dan membatalkan semua bentuk perjanjian dan nota kesepahaman, Di samping kita juga harus menunjukkan sikap keras terhdap mereka layaknya bangsa padang pasir, bahkan kita mesti mengatur kehidupan ekonomi, sosial dan keseharian layaknya sebagai bangsa padang pasir yang bermental baja dengan menerapkan wajib militer terhadap setiap anak bangsa”.

Untuk itu, Imam Hasan Al-Banna terkenal sangat getol menuntut pemerintah Mesir agar menempuh metode tersebut serta Beliau mengecam sikap pemerintah yang terkesan masih ragu-ragu, lemah dan khawatir karena berpotensi akan menimbulkan pemberontakan rakyat Mesir.
Baca Selengkapnya...

Perang Melawan Yahudi

Imam Hasan Al-Banna meyakini bahwa opsi yang harus dijalankan untuk membebaskan hak-hak yang telah dirampas oleh otoritas asing adalah perang. Sebagai wujud nyata dari keinginan ini Beliau mengutus batalyon-batalyon pasukan militer Ikhwanul Muslimin ke Palestina bahkan setelah itu Beliau mengutus ribuan para Mujahidinin ke Palestina.

Sebelum berakhirnya kekuasaan Inggris di Mesir tanggal 15 Mei 1948, para pemimpin Negara Arab berkumpul di Suriyah. Betepatan dengan pertemuan itu, Imam Hasan Al-Banna mengirimkan telegram kepada para pimpinan bangsa Arab yang menyatakan kesediaanya untuk mengutus puluhan ribu kader Ikhwanul Muslimin untuk berjihad ke Palestina. Gelombang pertama berjumlah berjumlah 10.000 orang mujahid yang akan berangkat dan mengejar syahid di Palestina.

Tapi rezim Nakrasyi yang loyal dan bekerja untuk pemerintah Inggris berupaya menghalang-halangi proses keberangkatan para Mujahidinin Ikhwanul Muslimin ke Palestina. Kondisi ini memaksa para Mujahidinin berjalan kaki menempuh jarak yang sangat jauh agar bisa sampai ke wilayah Palestina.
Pemerintahan Mesir yang pernah dipimpin rezim Ibrahim Abdul Hadi sangat populer dengan kekejaman dan kebengisannya terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin. Ia sering menjerumuskan kader-kader Ikhwan ke penjara serta berkonspirasi untuk membunuh Imam Hasan Al-Banna. Melihat kondisi ini, para Mujahidinin Ikhwan yang sedang berjuang di Palestina, hati mereka pilu ketika mendengar informasi tentang kekejaman yang menimpa saudara-saudara mereka di Mesir yang tersiksa di tangan penguasa Mesir dan antek-anteknya.

Di sela-sela kondisi sulit yang menimpa para Mujahidin Ikhwan di Palestina pasca intimidasi terhadap kelompok Ikhwan dan penyitaan semua aset dan harta mereka, Imam Hasan Al-Banna masih berkeinginan kuat guna melanjutkan genderang jihad yang telah ditabuh di Palestina. Beliau menulis surat untuk para Mujahidin Palestina yang bertuliskan: “Tidak ada alasan bagi para Mujahidin Palestina dalam kondisi ini untuk kembali ke Mesir, selama di Palestina masih ada Yahudi walaupun cuma satu orang, berarti misi para Mujahidin Palestina belum usai”. Kemudian Beliau mengakhiri suratnya dengan untaian nasehat panjang. Intinya harapan terhadap para Mujahidin untuk tetap tenang dan menjaga hubungan baik antar sesama Mujahid.


Analisa dan Evaluasi Imam Hasan Al-Banna Terhadap Perang Arab - Yahudi di Palestina

Informasi ketidakseriusan perjuangan pasukan militer negara-negara Arab semenjak mereka terlibat sengketa Palestina telah tersebar ke berbagai wilayah. Para pasukan militer Arab malah melucuti senjata para Mujahidin di Palestina dan menyingkirkan mereka dari kancah peperangan dengan alasan bahwa urusan perang merupakan wewenang mereka, bukan wewenang para Mujahidin. Pasukan militer negara-negara Arab terbukti telah terjebak dalam siasat politik Yahudi yang berkeinginan menciptakan benturan-benturan antara para Mujahidin di Palestina dengan pasukan militer Negara-negara Arab.

Imam Hasan Al-Banna meyakini bahwa dengan sengaja telah terjadi konspirasi dunia Internasional dalam menyikapi sengketa Palestina. Beliau telah mencium adanya pengkhianatan Inggris terhadap bangsa Palestina yang teraniaya ini. Beliau dan banyak orang telah mengetahui bahwa seorang perwira polisi Inggris bernama Clove Pasya yang menjadi komandan pasukan Yordania, sebenarnya dialah yang telah menjadi komando seluruh pasukan militer Arab yang datang ke Palestina. Dan Pasya merupakan seorang Kristen yang benci dan dengki terhadap Islam dan kaum Muslim. Dan dia bersama beberapa rekannya, terbukti telah terlibat dalam kasus pembekalan persenjataan tentara Mesir dengan senjata-senjata yang telah rusak dan tak layak pakai.

Bukti-bukti ini telah dikumpulkan oleh Imam Hasan Al-Banna, kemudian Beliau mengkaji dan memahami serta mencium gelagat konspirasi terhadap bangsa Palestina dan para Mujahidin Ikhwan yang berada di sana. Sehingga upaya mobilisasi tentara-tentara Arab ke Palestina berakhir sia-sia, karena Islam masih tetap dikesampingkan dari kekuasaan dan politik.

Sangat banyak data yang berisikan perjuangan heroik para Mujahidin Ikhwan di Palestina kepada Imam Hasan Al-Banna dan berisi informasi dan data mengenai para Mujahidin yang telah syahid di medan jihad Palestina, sehingga Beliau tak mampu membendung air mata menahan sedih, lalu Beliau berujar:

“Semoga Allah selalu bersama mereka… Semoga Allah menerima persembahan iman dan jihad mereka…Semoga Allah meridhoi apa yang telah mereka perbuat dan mereka tunggu-tunggu… Di hadapan mereka masih terdapat peperangan besar terhadap penguasa-penguasa zalim negeri mereka sendiri yang lebih mereka khawatirkan dibanding kekuatan Yahudi, yaitu perang terhadap orang-orang yang tak menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran. Itulah perang terhadap Faruq beserta tentara-tentara dan para polisinya, serta orang-orang yang terdidik dalam pola-pola pendidikan kaum penjajah. Darah mulia yang telah bercucuran ini belum menggapai impiannya selagi kondisi masih seperti ini dan selama Islam masih dianggap barang asing di rumah-rumah kaum Muslimin. Mereka telah mengorbankan darah dan nyawanya di jalan Allah demi menghadapi musuh-musuh perang yang dipimpin oleh orang-orang yang tak peduli dengan Islam. Merekalah orang-orang asing itu……. Orang-orang asing itu…… Orang-orang asing itu.

Israel akan bangkit, karena pergerakan mereka adalah pergerakan berbasis agama dan bermotif ideologi yang mendiktekan semua rancangan dan planning mereka. Israel tak akan mundur dari misi keyahudinya, meskipun menuai celaan dari banyak orang. Bagaimana mungkin kelompok minoritas Yahudi akan membuat perbaikan-perbaikan? Mereka hanya menutup-nutupi kerusakan, keganasan dan kezhaliman yang menghiasi langkah-langkah mereka?! Sesungguhnya perjalanan masih panjang dan darah-darah yang telah tumpah ke bumi tentu tak akan bisa tergantikan. Dan perang besar itu adalah perang Islam melawan Israel yang akan tetap berlanjut hingga Islam benar-benar menghancurkan dan menghapus pergerakan mereka. Itulah hakikat perjuangan kita, karena kita tak boleh terbuai dan terpana oleh tindakan-tindakan heroik yang telah kita persembahkan…

Demi Allah, jikalau bukan karena alasan kasih sayang terhadap para generasi muda Islam yang punya semangat bergelora dan pertimbangan terhadap tanggapan dari orang-orang awam, niscaya akan saya proklamirkan secara tegas dan terang-terangan bahwa kami telah mengutus para pejuang kami untuk terjun di medan peperangan dan kami tahu konsekwensi dari peperangan tersebut.

Saya pribadi yang dipercayakan memimpin jamaah ini menolak semua cita-cita palsu, bilamana dunia perpolitikan tidak dipimpin oleh Islam, bilamana jihad tidak berdasarkan cita-cita mulia ingin menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. Dan harapan saya terhadap rakyat Mesir agar bisa membedakan mana pejuang Islam sejati, dan mana orang-orang yang hanya ingin menunggangi perjuangan demi keinginan-keinginan pribadi sesaat dan kepentingan-kepentingan sekelompok orang tertentu semata. Bagi kami darah yang telah tertumpah ke bumi ini merupakan ungkapan permintaan maaf pada Allah Ta’ala dan sebagai pelajaran berharga bagi bangsa ini.

Sebelum syahid menemui ajalnya, Beliau sempat menulis dalam memoarnya yang menjelaskan kronologis permasalahan dimulai dari sebab-sebab inthifadhah –perlawanan- hingga pembekuan sengketa Palestina. Hal ini Beliau lakukan sebagai jawaban atas tulisan juru bicara kementerian dalam negeri Bapak Abdurrahman Ammar dengan tema yang sama. Dalam tulisannya ini, Abdurrahman meminta pembubaran Ikhwanul Muslimin. Di antara alasannya adalah karena kerasnya tekanan pihak asing. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri ini mengaku kepada Hasan Al-Banna, Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin. Dalam pengakuan ini, ia mengatakan bahwa banyak tawaran dan tuntutan yang disampaikan pada Nakrasyi dari duta besar Inggris, duta besar Perancis dan staf Kedutaaan Besar Amerika Serikat pasca pertemuan mereka di kota Faid pada tanggal 6 Desember 1948. Dalam pertemuan itu, mereka menuntut pembubaran Ikhwanul Muslimin dengan segera.

Pada dasarnya, ini adalah permintaan yang logis dan wajar dari petinggi kaum penjajah karena mereka mengamati dan menilai bahwa Ikhwanul Muslimin akan menjadi batu penghalang dari perwujudan kepentingan-kepentingan mereka dalam sengketa lembah sungai Nil, kepentingan mereka terkait dengan negara-negara Arab dan dunia Islam umumnya. Dan tawaran semacam ini bukan barang baru, karena sudah terulang berkali-kali. Tuntutan ini merupakan tawaran klasik dari Duta Besar Inggris yang sering ia sampaikan dalam berbagai forum pada setiap rezim pemerintahan. Dan rezim-rezim pemerintahan Mesir sebelumnya, menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Pada tahun 1942 ketika Perang Dunia II sedang berkecamuk dan ketika Jerman hampir menyerah kalah, Kedutaan Besar Inggris pernah meminta pada Rif’at Nuhas Pasya untuk membubarkan Ikhwanul Muslimin dan membekukan semua pergerakan mereka. Namun, Rif’at menolak dengan tegas permintaan tersebut dan hanya membekukan sebagian pergerakan di daerah-daerah, tapi membiarkan keberadaan kantor pusat Ikhwanul Muslimin.

Sebenarnya, rezim Nakrasyi memiliki kewenangan menerima tawaran tersebut dengan hanya sekedar ucapan semata kepada penjajah Inggris. Lalu membuat semacam kontrak kesepahaman dengan para kader Ikhwanul Muslimin terhadap kebijakan tertentu yang akan menguntungkan kedua belah pihak (rezim Nakrasyi dan Ikwanul Muslimin). Ikhwanul Muslimin pada saat itu telah siap menerima peluang terjadinya kesepakatan tersebut, terlebih pasca kedatangan Mursyid ‘Aam dari Hijaz (Saudi Arabia). Namun kenyataan berbicara lain, karena Narkasyi tidak berinisiatif membuat kesepakatan tersebut, malahan ia membuat kebijakan-kebijakan yang mengindikasikan Mesir masih menjadi milik asing dan berada di bawah tekanan asing bukan milik rakyat Mesir. Kemudian Imam Hasan Al-Banna kembali melanjutkan uraiannya hingga sampai pada akhir tulisannya: (sesungguhnya semua proses itu berjalan di bawah kendali Zionisme Internasional, Komunisme Dunia, negara-negara kolonialis, orang-orang atheis dan orang-orang Libertinis yang menilai Ikhwanul Muslimin akan menjadi batu penghalang besar bagi realisas misi-misi mereka).

Imam Hasan Al-Banna pernah ditanya oleh seorang wartawan terkait alasan dan motif para pemegang kekuasaan membubarkan Ikhwanul Muslimin. Lantas Beliau menjawab: “Di antara faktor-faktor yang memotivasi keinginan mereka membubarkan Ikhwanul Muslimin adalah bernuansa politis, berhubung karena penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) yang sudah di depan mata. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa Partai Sa’ad ingin memperoleh dukungan dan suara terbanyak dari partisipan dalam pemilu nanti, sehingga mereka kembali bisa berkuasa dalam pemerintahan. Dan telah menjadi rahasia umum pula, bahwa Ikhwanul Muslimin merupakan satu kekuatan politik besar dan berpengaruh serta patut diperhitungkan di pentas perpolitikan Mesir. Karena kebijakan apapun yang diambil Ikhwanul Muslimin, tentu akan berdampak sangat besar terhadap orientasi perpolitikan bangsa. Sehingga muncul keinginan mereka untuk menganggu keberadaan politis Ikhwanul Muslimin sebagai strategi politik mereka menghancurkan image dan nama baik Ikhwanul Muslimin sebelum pemilihan umum yang -insya Allah- akan diselenggarakan pada bulan Oktober tahun 1949 jika tidak ada halangan yang merintang.

Menurut hemat penulis, orang yang mencoba melakukan pengkajian dan analisa terhadap ungkapan Imam Hasan Al-Banna tersebut, akan memahami bahwa orang ini benar-benar memiliki kecerdasan dan insting politik yang tinggi yang ia tuangkan dalam pandangan politiknya yang bijak serta terkesan “berani dan tidak ada tawar-menawar”. Sebuah pendapat politik yang tak berani diungkap kecuali oleh politikus-politikus yang memiliki kemapanan iman dan keyakinan pada Allah Ta’ala, politikus yang jeli dan peka dalam menganalisa esensi di balik tabir kelam dari peristiwa yang bergulir serta politikus handal yang mampu membaca konspirasi terselubung para kolonialis Kristen terhadap umat Islam, termasuk terhadap Ikhwanul Muslimin yang semenjak awal mereka telah dibebankan tanggung jawab untuk memulai proses kehidupan Islami dan mendirikan negara Islam serta membebaskan negeri Islam di belahan dunia manapun dari cengkeraman keganasan asing.

Sebelum Beliau syahid -menemui ajal-, dalam memoarnya Imam Hasan Imam Hasan Al-Banna rahimahullah sempat menulis bantahan terhadap tuduhan-tuduhan sesat dan tak beralasan yang dilontarkan oleh Partai Saad terhadap Ikhwanul Muslimin serta pengerahan opini publik demi upaya keluarnya kebijakan pembubaran Ikhwanul Muslimin. Imam Hasan Al-Banna memberi judul tulisan tersebut: “Fakta yang Tak Terbantahkan”. Dalam tulisan Beliau tersebut terdapat satu paragraf tentang siapakah aktor dan sutradara di balik semuanya?

Pemerintah Mesir yang gagal menggalang kerjasama dan perjanjian dengan Inggris langsung memutuskan diplomasi dengan Inggris dan mengadu ke Dewan Keamanan PBB lalu kembali dengan hasil nihil. Semenjak itu, pemerintah tidak lagi memikirkan dan terkesan mengabaikan masalah kenegaraan. Seperti masalah dengan Inggris, pemerintah membiarkan Inggris bebas berbuat semaunya sehingga berakibat pada kondisi Mesir yang semakin memprihatinkan. Jikalau urusan dalam negeri sudah banyak terabaikan, maka masalah-masalah lain seperti sengketa Palestina sudah barang tentu terabaikan juga, sehingga pemerintah Mesir mengeluarkan kebijakan yang menyatakan persetujuan gencatan senjata. Dengan kebijakan tersebut bukan berarti masalah telah selesai, tapi malah sebaliknya masalah semakin berlipat ganda baik material apatah lagi harga diri bangsa.

Akhirnya Yahudi pun campur tangan dan pura-pura ingin membantu Mesir. Namun kenyataannya Yahudi tidak bertindak apapun bila yang menyerang Mesir adalah musuh-musuh negara Mesir yang seide dengan Yahudi. Malahan di Mesir, warga negara asing bisa hidup tenang dan damai serta tidak perlu mengkhawatirkan diri dan asetnya karena ada petugas keamanan khusus yang ditugaskan melindungi tempat-tempat seperti: lokalisasi pelacuran, diskotik, bar, kafe, rumah border, tempat-tempat para penari striptis serta pusat-pusat maksiat lainnya.

Pemerintahan Mesir tidak sanggup lagi menyelamatkan anak bangsa dari cengkeraman kemiskinan, kebodohan dan masalah-masalah kesehatan serta naiknya harga komoditi di pasaran. Sementara itu, jarang sekali ada yang membantu kondisi Mesir yang sedang carut marut tersebut, meskipun ada, hanya dari pihak-pihak tertentu yang punya kepentingan pribadi dari bantuan yang diberikan. Pemerintahan seperti ini yang mengusir dan memburu para kader Ikhwan, padahal mereka adalah anak bangsa sendiri. Tak hanya sampai taraf itu, karena pemerintahan juga menuduh mereka telah berbuat kriminal, dan banyak pula di antara kader Ikhwan yang diasingkan serta harta kekayaannya dan aset bisnis mereka disita dan dirampas oleh pemerintah.

Jikalau mau jujur, yaitu di saat yang berbicara adalah bahasa kebenaran dan bukan bahasa kekerasan, niscaya kami akan menhukum Anda para pemegang tampuk kekuasaan dengan sanksi yang seberat-beratnya. Tapi pemerintahan yang dzhalim bersifat temporal saja sedangkan pemerintahan yang berhukum dengan hukum Allah niscaya akan berlanjut hingga hari kiamat kelak. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tapi kebanyakan manusia tidak menyadari.

Rezim pemerintahan Ibrahim Abdul Hadi tak hanya sekedar mengusir para kader Ikhwan dari negerinya bahkan dalam medan jihad pun, Ibrahim Abdul Hadi melucuti semua senjata milik Ikhwan -Ini fakta- sehingga Palestina dan rakyatnya menjadi korban. Di samping itu Yahudi juga telah mendapatkan hadiah berharga karena mereka telah lepas dari musuh besar yang geram dan sedang berada dalam kondisi lapar serta tidak takut menghadapi kematian karena mereka telah sering mencicipi rasanya kematian di medan peperangan.
Baca Selengkapnya...

Template by - Abu Syamil