Showing posts with label Ikhwanul Muslimin. Show all posts
Showing posts with label Ikhwanul Muslimin. Show all posts

Tuesday, February 9, 2010

Ikhwanul Muslimin Di Bawah Naungan Panji Al-Qur’an


Kepada para pemuda…. Yang merinduk lahirnya kejayaan …

Kepada umat yang tengah…. Kebingungan di persimpangna jalan…

Kepada para pewaris peradaban yang kaya raya…. Yang telah menggoreskan catatan membanggakan

Di lembar sejarah umat manusia… Kepada setiap muslim….

Yang yakin akan masa depan dirinya…. Sebagai pemimpin dunia dan peraih kebahagiaan

Di kampung akhirat… Kepada mereka semua kami persembahkan risalah ini….

RISALAH IMAM SYAHID HASAN AL-BANNA

Adalah sebuah risalah masa lalu yang penuh kobaran semangat jihad, untuk generasi hari ini yang tengah bergejolak dan dilanda kegelisahan…

Sebuah bekal hari ini yang sarat tuntutan, Untuk masa depan yang penuh cahaya…

Wahai para pemuda…

Wahai mereka yang memiliki cita-cita luhur….

Untuk membangun kehidupan…

Wahai kalian yang rindu akan kemenangan agama Allah….

Wahai semua yang turun ke medan…

Demi mempersembahkan nyawa di hadapan Tuhannya….

Disinilah petunjuk itu, di sinilah bimbingan…

Di sinilah hikmah itu, disinilah kebenaran…

Di sini kalian dapati keharuman pengorbanan dan kenikmatan jihad…

Bersegeralah bergabung dengan pareda bisu…

Untuk bekerja di bawah panji penghulu para nabi…

Untuk menyatu dengan pasukan Ikhwanul Muslimin…

“Sehingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi dan agama seluruhnya milik Allah.”

Ikhwanul Muslimin

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, keluarga, dan para sahabatnya.

Kami ucapkan salam Islam, salam dari sisi Allah yang penuh berkah dan kebaikan,

“Assalaamu’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

Wahai Ikhwanul Muslimin…

Wahai umat manusia seluruhnya….

Suara jeritan ini; yang berkumandang dari relung tragedi kemanusiaan yang getir dan memilukan; yang lahir dari rahim kegelapan zaman ini, di arus kehidupan yang memancar dari teriakan prihatin seluruh alam; yang dibawa oleh gelombang lembut menyelusup ke berbagai penjuru kehidupan; yang dapat mematikan secara mengejutkan segala impian, janji-janji, dan fenomena yang menipu serta penuh kepalsuan; Mendorong kita untuk terjun dengan dakwah ini…

Dakwah yang tenang, namun lebih gemuruh dari tiupan angin topan yang menderu…

Dakwah yang rendah hati, namun lebih perkasa dari keangkuhan gunung yang menjulang…

Dakwah yang terbatas, namun jangkauannya lebih luas dari belahan bumi seluruhnya…

Ia sepi dari prilaku yang menipu, dan gemerlap yang penuh dusta. Sebaliknya, ia dikemas oleh keagungan hakikat, keindahan wahyu, dan pemeliharaan Allah.

Ia bersih dari berbagai kerakusan nafsu dan kepentuingan pribadi. Oleh karenanya, ia mampu melahirkan putra-putra generasi yang percaya padanya dan tulus bekerja untuknya; yang memandu tertegaknya bangunan di bawah naungan dakwah yang pertama…

Wahai Ikhwanul Muslimin…

Wahai manusia seluruhnya…

Dangarlah suaranya yang bergemuruh, yang disambut oleh seruan para da’i setelahnya sebagaimana teriakan dakwah sebelumnya;

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ . قُمْ فَأَنْذِرْ . وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

“Wahai yang berselimut, bangun dan berilah peringatran. Dan Tuhanmu maka agungkanlah.”

Bersamaan dengan itu berkumandang pula firman-Nya:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Al-Hijr: 94)

Dan wahyu senantiasa menyeru seluruh umat manusia dengan seruan:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah, ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, ‘maka berimanlah kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk,” (Al-A’raf: 158)

Di mana posisi kita berhadapan pesan-pesan Islam ini?

Wahai Ikhwanul Muslimin…

Wahai manusia seluruhnya…

Sesungguhnya Allah swt. telah membangkitkan untukmu seorang pemimpin, telah menggariskan bagimu aturan, telah menjelaskan kepadamu hukum-hukum, menurunkan untukmu sebuah Kitab, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, membimbingmu menuju kebaikan dan kebahagiaan, serta menunjukimu ke jalan yang lurus. Adakah kamu telah mengikuti pemimpin itu, kamu hormati aturannya, kamu praktekkan hukum-hukumnya, dan kamu sakralkan Kitab yang dibawanya? Sudahkah kamu halalkan yang ia halalkan dan kamu haramkan yang ia haramkan?

Berterus teranglah menjawab pertanyaan tersebut, niscaya akan kamu jumpai hakekat yang jelas dihadapanmu.

Seluruh aturan yang engkau jadikan pijakan dalam setiap urusan hidupmu adalah aturan buatan manusia belaka; yang tidak ada hubungannya dengan Islam; tidak digali dari sumber nilai Islam dan tidak pula disandarkan kepadanya.

Undang-undang yang mengatur urusan dalam negerimu, peraturan yang mengatur hubungan negaramu dengan negara lain (baik bilateral maupun multilateral), undang-undang peradilan, undang-undang pertahanan keamanan dan militer, sistem ekonomi (baik menyangkut ekonomi negera maupun personal), sistem pendidikan, bahkan undang-undang perkawinan dan kerumahtanggaan serta sistem perilaku personal, juga mentalitas umum para pejabat dan rakyat serta berbagai fenomena kehidupan yang dilahirkannya, semua itu adalah sistem dan undang-undang yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Apa Lagi yang Masih Tersisa

Lihatlah masjid-masjid itu, yang megah dan indah, dia dipenuhi oleh orang-orang lemah dan renta, yang menunaikan rakaat shalatnya tanpa muatan ruh dan khusyuan, kecuali sedikit dari padanya yang mendapat hidayah Allah.

Sedangkan hari-hari puasa mereka setiap tahun tidak lebih dari sekedar saat-saat bermalasan dan berhari libur, serta saat untuk memanjakan makan dan minum di malam harinya. Sedikit sekali dari mereka yang memperoleh pembaharuan ruh iman dan penyucian hati dengan puasanya.

إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, dan amat sedikitlah mereka itu…” (Shaad: 24)

Lalu berbagai penampilan yang menipu seperti pakaian, kopyah, tasbih dengan berbagai asesorisnya, jenggot yang menjuntai panjang, sorban yang membalut sekujur badan, kata-kata agamis yang diucapkan…. Apakah hanya sebatas itu hakekat Islam yang diinginkan Allah. Hanya sebatas itukah Islam yang diturunkan sebagai rahmat yang agung dan anugrah yang besar bagi seluruh alam?

Apakah seperti ini hidayah yang dibawa oleh Muhammad saw., yang dengannya hendak dikeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya?

Itukah hakekat syari’at Al-Qur’an yang akan mengobati penyakit umat manusia dan menyelesaikan persoalan mereka, yang telah meletakkan sistem nilai -yang cermat dengan akarnya yang kokoh- untuk melakukan perbaikan?

Gelombang Taklid Kepada Barat

Wahai Ikhwanul Muslimin…

Wahai umat manusia seluruhnya…

Kita harus memahami bahwa sebuah gelombang peradaban yang siap menghempaskan dan arus pemikiran yang siap melemparkan telah mengharu-biru akal pikiran manusia, yang membuatnya lalai dan terperdaya, hingga jatuh tersunggkur dalam kubangan kenikmatan semu.

Berbagai faham dan aliran bangkit dengan seruannya, beragam filsafat pemikiran dan sisitem dimunculkan, berbagai bangunan peradaban ditegakkan, semua ini bersatu dalam rangka menghadapi arus Islam yang telah mengaliri jiwa putra-putranya.

Mereka bersatu untuk memperdayakan umat di tempat tingalnya sendiri, mengepung mereka dari segala penjuru, merasuki negeri dan rumah-rumah mereka, bahkan menguasai hati, nalar, dan perasaan mereka. Mereka menyiapkan segala daya dan upaya yang dapat memperdaya umat dengan kekuatan dan kekuasaannya, dengan suatu upaya yang belun pernah dilakukan sebelumnya.

Ia hancur luluhkan umat Islam hingga akar-akarnya, dan ia pencundangi berbagai negeri yang dahulu pernah cemerlang di bawah panji Daulah Islam. Dan ini semua memberi pengaruh yang amat nyata, sehingga lahirlah generasi yang gersang dan papa, yang lebih akrab dengan nilai-nilai di luar Islam daripada dengan miliknya sendiri.

Mereka lalu menempati posisi-posisi penting sebagai pengendali urusan umat, mereka menduduki posisi terhormat dalam urusan pemikiran dan politik, maupun moral dan agama. Bahkan banyak diantaranya yang menduduki lembaga eksekutif. Lalu mereka mendorong umat untuk bekerja memenuhi apa yang menjadi ambisi dan obsesinya, padahal dirinya tidak tahu persis apa yang dimauinya dan apa pula yang menjadi orientasi hidupnya.

Akhirnya, berkumandanglah suara propagandis yang menyeru kepada pemikiran toghut; jika kalian melepaskan sisi-sisa semangat Islam kalian, kalian terima dengan lapang dada tawaran untuk merengkuh nikmat hidup ini dengan segala harga, pola pikir dan Iafenomenanya, kalian lemparkan jauh-jauh pola pikir kuno yang ada di kepala dan benak kalian dengan tulus hati, tidak munafik dan menipu, maka hakikatnya kalian telah berprilaku sebagaimana orang-orang barat namun mulut kalian tetap bersuara sebagaimana orang-orang muslim.

Sesungguhnyalah kita mengetahui bahwa kita telah jauh dari hidayah dan akar Islam.

Sebenarnya Islam tidak menolak untuk memetik kemanfaatan dan hikmah dari mana pun datangnya, namun ia menolak tegas jika harus menyerupakan segala sesuatunya dengan hal yang di luar Islam, atau melemparkan aqidah, kaidah-kaidah hukum, serta pemikiran Islam, untuk kemudian membeo di belakang masyarakat yang telah terperdaya oleh dunia dan terperangkap oleh tipu daya syetan.

Sungguh , ilmu pengetahuan telah maju, keterampilan telah canggih, pemikiran telah berkembang, harta berceceran dan dunia gemerlapan dan umat manusia pun tenggelam dalam lautan kenikmatan.

Namun demikian, apakah ini semua mendatangkan kebahagian hakiki bagi mereka?

Apakah itu semua menciptakan rasa aman pada hidup mereka?

Atau, apakah itu semua membawa jiwa mereka menuju ketenangan dan kedamaian yang sejati?

Apakah setiap orang telah menikmati saat tidurnya?

Apakah air mata derita manusia benar-banar tiada lagi menetes?

Apakah kejahatan telah diperangi sehingga masyarakat telah aman daripadanya?

Apakah berjuta fakir miskin telah benar-benar dapat mencukupi kebutuhan perutnya yang dililit rasa lapar?

Apakah berbagai tempat hiburan dan kesenangan yang telah memenuhi setiap tempat benar-benar telah menghibur mereka yang didera derita hidup terus-menerus?

Apakah masyarkat telah benar-benar mencicipi hidangan ketenangan dan kedamaian, dan telah aman dari perilaku orang-orang aniaya?

Wahai manusia, sedikitpun tidak mereka dapatkan semua itu.

Jika demikian, lalu apa keistimewaan peradaban ini dibanding dengan peradaban yang lain?

Dan bukan itu saja.

Tidakkah kita melihat bahwa sistem hukum, sistem pendidikan, dan akar filsafat mereka, bahkan paradigma ilmu pengetahuan yang mereka bangun serta angka-angka yang mereka ciptakan terdapat sesuatu yang paradoks antara satu bagian dengan bagian lainnya.

Dan tidakkah kita mengamati bahwa berbagai eksperimen yang telah meminta korban yang besar dan waktu yang panjang berujung pada kegagalan yang pahit, keputusasaan dan penderitaan?

URGENSI KEBERADAAN KITA

Lantas apa urgensi keberadaan kita wahai Ikhwanul Muslimin?

Secara umum dapat kita katakan bahwa kita berhadapan dengan gelombang materialisme, yang berupa kebangkitan sektor materi dan peradaban kelezatan serta syahwat, yang mana ia telah memerosotkan moral bangsa-bangsa Islam, menjauhkan mereka dari kepemimpinan Nabi saw. Dan hidayah Qur’an, menghalangi dunia dari bimbingannya, menarik mundur peradabannya ke masa ratusan tahun silam sehingga kita terbelenggu di negeri sendiri dan membiarkan masyarakat bergulat dengan derita.

Kita tidak boleh tinggal diam di hadapan ini semua, namun harus hadapi mereka ditempatnya dan siap bertempur di bumi mana ia bercokol, hingga dunia seluruhnya menyuarakan dakwah atas nama Nabi saw. Dan menanamkan keyakinan kepada semua bangsa terhadap nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, terkembanglah payung Islam mengayomi seluruh bumi. Ketika itulah impian setiap muslim terwujud. Tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya hanya milik Allah.

وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ . فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ . بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

“Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari kemenangan itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (A-Ruum: 30)

Itulah urgensi keberadaan kita scara umum.

Adapun dalam tatanan praktis kita ingin menegakkan nilai-nilai Islam di negeri Mesir terlebih dahulu, karena ia berada di barisan depan diantara berbagai bangsa Islam dan masyarakatnya. Setelah itu baru ditegakkan di negara-negara lainnya.

Menegakkan sistem perundangan dalam negeri, sebagai perwujudan firman Allah:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hartilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang diturunkan Allah kepadamu…” (Al-Maidah: 49)

Menegakkan sistem perundangan yang mengatur hubungan negara dengan berbagai bangsa di dunia, untuk mewujudkan firman Allah:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (Al-Baqarah: 143)

Menegakkan hukum peradilan yang berpijak pada ayat Al-Qur’an:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kami hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa: 65)

Menegakkan sistem perundangan pertahanan dan keamanan serta militer, untuk merealisasi anjuran sikap siaga menghadapi perintah yang tertuang dalam Qur’an:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah” (At-Taubah: 41)

Menegakkan sistem ekonomi yang mandiri untuk mengatur kekayaan alam harta benda, baik bagi negara maupun pribadi warganya. Hal ini berpijak pada firman Allah:

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang tidak sempurna akalnya harta yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.” (An-Nisa:5 )

Menegakkan sistem pendidikan dan pengajaran dalam rangka memberantas kebodohan, sesuai dengan pesan Ilahi dalam Qur’an:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan menyebut Nama Tuhanmu yang menciptakan.” (Al-Alaq: 1)

Menegakkan undang-undang keluarga dan kerumahtanggaan untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi pendidikan anak di rumah, baik putra maupun putri. Hal ini sebagia realisasi firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (At-Tahrim: 6)

Menegakkan sistem perundangan yang mengatur perilaku individu untuk mewujudkan keberhasilan hidup yang dicita-citakan, sesuai dengan isyarat Qur’an:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“Telah beruntung orang yang mensucikan dirinya.” (Asy-Syams)

Menegakkan iklim positif secara umum untuk melindungi setiap pribadi masyarakat, baik pejabat maupun rakyat, dengan berpijak pada firman-Nya:

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kehidupan duniawi, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi ini..” (Al-Qashash: 77)

Dengan tegaknya itu semua, kita menginginkan terwujudnya:

Pribadi muslim..

Rumah tangga muslim..

Masyarakat muslim..

Pemerintah muslim..

Dan suatu negara yang mengayomi negri-negeri Islam, menghimpun berbagai keanekaragaman kaum muslimin, menyiapkan kejayaan masa depan mereka, mengembalikan buminya yang hilang dan berjuang mendapatkan kembali tanah air mereka yang terampas. Lalu ia panggul panji jihad dan bendera dakwah ilallah hingga dunia seluruhnya damai di bawah naungan Islam.

BEKAL KAMI

Wahai sekalian manusia….

Inilah tujuan kami, dan Inilah manhaj kami.

Lantas apa bekal kami untuk mewujudkan manhaj ini?

Bekal kami adalah bekal yang juga dimiliki para pendahulu kami. Dia adalah senjata yang pernah dipakai untuk memerangi dunia oleh pemimpin dan teladan kami; Muhammad Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Dengan kelangkaan bilangan dan sedikitnya bekal namun ditopang oleh kesungguhan yang agung. Itu pula senjata yang akan kami pergunakan untuk memerangi dunia ini kembali.

Mereka telah beriman dengan sedalam-dalamnya, sekuat-kuatnya, sesuci-sucinya dan seabadi-abadinya iman;

- Iman kepada Allah, pertolongan, dan dukungan-Nya.

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ

“Jika Allah menolong kamu , maka tidak ada orang yang dapat mengalahkan kamu…” (Ali Imran: 160)

- Iman kepada panglimanya, beserta ketulusan hati, dan kepemimpinannya,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu…” (Al-Ahzab: 21)

- Iman kepada sistem dengan keistimewaan dan keunggulannya,

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhan-Nya ke jalan keselamatan…” (Al-Maidah: 16)

- Iman kepada persaudaraan dengan hak dan kewajiban serta kesuciannya,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (Al-Hujurat: 10)

- Iman kepada balasan akhirat dengan keagungan dan kelipatannya,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“…Yang demikian itu adalah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shaleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (At-Taubah: 120)

- Iman kepada keberadaan diri mereka sendiri, yakni sebagai jamaah yang dipilih oleh takdir untuk berperan menyelamatkan alam semesta ini, yang telah mendapatkan keutamaan dengan peranannya ini dan jadilah mereka sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia seluruhnya.

Mereka telah mendengar penggilan iman, lalu mereka pun beriman. Kita berharap bahwa Allah swt. berkenan menanamkan rasa cinta kepada iman ini dan menjadikannya sebagai hiasan di hati, sebagaimana ia telah menganugrahkan hal yang sama kepada para pendahulu kita.

Iman Adalah Bekal Utama Kami

Mereka telah mengetahui dengan pengetahuan yang sebenar-benarnya dan sekuat-kuatnya bahwa dakwah mereka tidak akan memperoleh kemenangan kecuali dengan jihad, kesungguhan, dan pengorbanan jiwa raga. Maka mereka pun persembahkan jiwa dan raganya. Mereka berjihad dengan sebenar-benar jihad dan menyambut seruan Zat Yang Maha Rahman kepada mereka:

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya..”‘ (At-taubah: 24)

Maka begitu mereka mendengar peringatan, mereka lari meninggalkan segalanya dengan jiwa yang bersih dan kalbu. yang ridha. Mereka bersuka. cita dengan janji setia yang telah mereka ikrarkan kepada Allah. Salah satu dari mereka memeluk akrab kematian sambil bergumam, “…Menuju keharibaan Allah tanpa bekal. ”

Salah satu dari mereka mempersembahkan seluruh hartanya sembari berkata, “Untuk keluarga saya sisakan Allah dan Rasul-Nya ”

Satu lagi dari mereka bahkan bersenandung tatkala pedang musuh telah menempel di lehernya,

Dan aku pun tiada peduli # tatkala terbunuh sebagi muslim

Dalam keadaan bagaimana jua # pangkuan Allah lah tempat robohku

Demikianlah, mereka adalah orang-orang yang gigih perjuangannya, besar pengorbanannya, dan luas persembahannya. Demikian juga yang kita inginkan.

Jihad Adalah Bekal Kami juga

Setelah itu semua kami persembahkan, kami percaya sepenuhnya akan pertolongan Allah, dan kami yakin atas dukungan-Nya.

وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ (39) الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah perbuatan yang mungkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”(Al-Hajj:39-40)

Antara Hayalan dan Kenyataan

Orang-orang yang mendengar uraian ini akan berkata. bahwa itu adalah hayalan dan impian belaka.

Bagaimana mungkin orang-orang yang tidak memiliki kekuatan apapun kecuali iman dan semangat jihad dapat mengalahkan kekuatan raksasa yang memiliki senjata beranekaragam?

Bagaimana mungkin mereka dapat menembus jantung pertahanan musuhnya padahal ia berada di antara dua taring harimau ?

Banyak orang akan mengatakan ungkapan yang serupa ini. Yang demikian itu bisa dimaklumi, karena mereka telah putus asa akan nasib dirinya dan telah putus asa akan terjalinnya hubungan dengan Yang Mahakuat dan Maha Menentukan.

Akan halnya kami, tidaklah demikian keadaannya. Kami tegaskan bahwa ia adalah kenyataan yang kami yakini wujudnya dan tengah kami perjuangkan tegaknya. Kami merenungi firman Allah swt.,

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan sebagaimana kamu menderitanya, sedangkan kamu berharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan..” (An-Nisa: 104)

Sesungguhnya para pendahulu kami, yang telah membebaskan berbagai wilayah bumi dan telah Allah swt. kokohkan kedudukannya, tidaklah besar bilangan personilnya dan tidak pula melimpah bekal persiapannya, namun mereka beriman dengan sungguh-sungguh dan berjihad.

Dan hari ini kami akan kalkulasi diri dengan penuh optimisme sebagaimana Rasulullah saw. mengkalkulasi pada suatu hari, tatkala beliau bersabda,

“Berilah Khubbaib kabar gembira akan munculnya kemenangan ini sehingga seorang pengembara berjalan dari Adn ke Amman tidak merasa takut kecuali kepada Allah, dan domba pun aman di hadapan serigala.”

Padahal ketika itu mereka masih bersembunyi.

Sebagaimana suatu hari beliau menjanjikan kemenangan kepada Suraqah bin Malik, mahkota salah seorang petinggi Kisra. Padahal beliau ketika itu berhijrah dengan agamanya tanpa bekal sesuatu pun kecuali Allah dan sahabatnya (Abu Bakar).

Dan sebagaimana beliau berteriak suatu hari tatkala menyaksikan istana putih Romawi, padahal ketika itu ia dikepung pasukan musyrikin di Madinah dengan tentaranya dari segala penjuru,

وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ

“…Dan tatkala tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesal sampai ke tenggorokan..” (Al-Ahzab: 10)

Lalu Apa Lagi Setelah Itu ?

Setelah itu semua, kita menyaksikan telinga zaman dengan khusyuknya mendengarkan dakwah Rasulullah saw., lisan sejarah pun menggemakan suara ayat-ayat suci Al-Qur’an, maka menyemburatlah mentari hidayah dari kalbu para sahabat dan pengikutnya di setiap tempat, besinarlah cahayanya menerangi alam, semerbaklah harum bunga kedamaian menghiasi dunia, dan manusia pun dapat menikmati manisnya kebahagiaan lantaran keadilan hukum. Rakyat merasakan aman sentausa bernaung di bawah payung generasi awal ini, yakni murid-murid Muhammad saw., maka direbutlah kemudian istana Romawi, tunduk pula bersamanya kota-kota di Persia.

Lalu bumi dipenuhi dengan bentangan ajarannya. Tunduklah ia untuk menerima petunjuk yang menyelamatkan. Nafas kenabian mengalirinya berpadu dengan wahyu Ilahi yang suci sehingga Rahmat Allah meliputinya. dari Segala penjuru.

وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا . وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا . وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Dan Ia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraidhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 26)

Wahai manusia, kami akan mempersiapkan diri dengan bekal ini, dan kami akan memperoleh kemenangan sebagaimana yang diperoleh para pendahulu kami di saat yang lalu. Tiada kemenangan kecuali dari sisi Allah Yang Perkasa lagi Bijaksana. Dan Allah akan mewujudkan janji-janji-Nya kepada kami:

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (AlQashash: 5)

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Ar-Ruum:60)

Seandainya Kita Memiliki Pemerintahan

Seandainya kita memiliki pemerintahan Islam yang sebenarnya yang dilandasi kebenaran iman, yang mandiri pola pikir dan aplikasinya, yang menghargai kebenaran ilmu dan melimpah ruahnya harta kekayaan yang dimiliki, yang menghargai keagungan sistem nilai Islam yang diwarisi, dan yang percaya bahwa ia merupakan obat bagi derita masyarakatnya dan petunjuk bagi manusia seluruhnya, niscaya kita dapat menuntutnya untuk menegakkan dunia ini atas nama Islam.

Kemudian kita mempersilahkan berbagai bangsa untuk melakukan Studi dan observasi atasnya, kita tunjukkan bangunan umat kepada mereka dengan dakwah yang terus menerus, dengan pembicaraan yang argumentatif serta pengiriman duta-duta terbaiknya secara berkala, juga cara-cara lainnya. Dengan demikian jadilah wilayah ini titik sentral di tengah berbagai bangsa, baik secara politik, moralitas maupun aktivitas sosial lainnya. Ia pun dapat melakukan pembaharuan terhadap dinamika masyarakat, memberi dorongan kepada mereka untuk meraih kejayaan dan menggapai sinar terang di masa datang, dan menanamkan semangat serta kesungguhan dalam bekerja.

Adalah sangat mengherankan, sebuah faham seperti Komunisme memiliki negara yang melindunginya, yang mendakwahkan ajarannya, yang menegakkan prinsip-prinsipnya, dan menggiring masyarakat menuju ke sana.

Demikian juga Fasisme dan Nazi. Keduanya memiliki bangsa yang mensucikan ajarannya, berjuang untuk menegakkannya, menanamkan kebanggaan kepada para pengikutnya, menundukkan seluruh ideologi bangsa-bangsa untuk mengekor kepadanya. Dan lebih mengherankan lagi kita dapati berbagai ragam ideologi sosial dan politik di dunia ini bersatu. untuk menjadi pendukung setianya. Mereka perjuangkan tegaknya dengan jiwa, pikiran, pena, harta benda, dan kesungguhan yang paripurna; hidup dan mati dipersembahkan untuknya.

Namun sebaliknya, kita tidak mendapatkan tegaknya suatu pemerintah Islam yang bekerja untuk menegakkan kewajiban dakwah kepada Islam, yang menghimpun berbagai sisi positif yang ada di seluruh aliran ideologi dan membuang sisi negatifnya. Lalu ia persembahkan itu kepada seluruh bangsa sebagai ideologi alternatif dunia yang memberi solusi yang benar dan jelas bagi seluruh persoalan umat manusia.

Padahal syari’at Islam menetapkan bahwa dakwah adalah kewajiban mutlak, wajib atas seluruh kaum muslimin, baik sebagai bangsa maupun sebagai kelompok kecil, jauh sebelum semua ideologi tadi diciptakan dan sebelum diketahui bahwa di sana ada sistem dakwahnya.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran 104)

Akan tetapi, di mana gerangan para pemimpin negeri kita ini? mereka semua telah dididik di sarang pendidikan asing, mereka telah tunduk kepada pola pikirnya, mereka demikian antusias mengikuti jalan hidupnya, dan mereka berlomba menjilat untuk mendapatkan keridhaannya. Tidaklah berlebihan kiranya jika kami katakan bahwa gagasan-gagasan mandiri dalam mengurus berbagai persoalan dan aktivitas, tidak lahir dari benak mereka sendiri apalagi lahir dari sistem nilainya.

Sebenarnya telah kami tawarkan keinginan ini kepada banyak pemimpin di Mesir. Namun sebagaimana biasa, mereka tidak menyambutnya dengan antusias dan tidak memberi pengaruh sedikitpun pada aktivitas mereka.

Orang-orang yang jiwanya, rumah tangganya serta urusan hidupnya, baik yang pribadi maupun sosial telah kehilangan ruh Islamnya, tentu. tidak mampu mengalirkannya. kepada orang lain, tidak kuasa untuk menyerukan nilai-nilai dakwah yang bertentangan dengan sasaran yang diseru.

Sebuah ungkapan mengatakan,

فاقد الشيء لا يعطيه

“Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikannya.”

Memang bukan itu urgensi keberadaan mereka, wahai Ikhwan. Suatu eksperimen telah membuktikan bahwa mereka tidak berdaya sama sekali dalam mengemban tugas ini. Oleh karenanya, ini menjadi tugas generasi baru.

Perbaikilah aktivitas dakwahmu kepada mereka, bersungguh-sungguhlah dalam melakukan pembinaan, ajarilah mereka akan kemandirian jiwa dan hati, kemandirian pemikiran dan penalaran, dan kemandirian kerja dan jihad. Penuhilah jiwa mereka yang enerjik dengan keagungan Islam dan keindahan Qur’an, dan gemblenglah mereka di bawah kibaran panji Muhammad saw. Niscaya tidak lama lagi kalian akan menyaksikan munculnya seorang pemimpin Islam, yang siap berjuang memerangi aib dirinya. dan siap menciptakan kebahagiaan bagi orang lain.

Karakter Pola Pikir Kami

Wahai Ikhwanul Muslimin…

Wahai manusia seluruhnya…

Kami bukan partai politik, meskipun politik sebagai salah satu pilar Islam adalah prinsip kami.

Kami bukan yayasan sosial dan perbaikan, meskipun kerja sosial dan perbaikan adalah bagian dari maksud besar kami.

Kami bukan klub olah raga, meskipun olah raga dan olah rohani menjadi salah satu perangkat terpenting kami.

Kami bukan kelompok-kelompok macam itu semua, karena itu semua diciptakan untuk tujuan parsial dan terbatas, untuk masa yang terbatas pula. Bahkan terkadang tidak dibuat kecuali sekedar menuruti perasaan sesaat; ingin membuat organisasi, lalu dihias dengan berbagai slogan dan sebutan kelembagaan yang muluk-muluk.

Namun wahai sekalian manusia, kami adalah pemikiran dan akidah, hukum dan sistem, yang tidak dibatasi oleh tema, tidak diikat oleh jenis suku bangsa, dan tidak berdiri berhadapan dengan batas geografis. Perjalanan kami tidak pernah berhenti sehingga Allah swt. mewariskan bumi ini dengan segala isinya kepada kami, karena ia adalah sistem milik Rabb, Penguasa alam semesta, dan ajaran milik rasul-Nya yang terpercaya.

Bukan sombong, kami inilah, wahai sekalian manusia, pemegang tongkat estafet panji Islam sesudahnya. Kami angkat benderanya tinggi-tinggi sebagaimana para shahabat mengangkatnya, kami kibarkan dan kami sebar luaskan ia sebagaimana mereka menyebar luaskannya, kami jaga Qur’annya sebagaimana mereka menjaganya, dan kami diberi janji kemenangan sebagaimana mereka diberinya. Kami inilah rahmat Allah untuk seluruh alam,

“Dan sungguh engkau pasti mengetahui beritanya beberapa saat lagi.”

Wahai ikhwanul Muslimin..

Itulah posisi kalian, janganlah kalian kecilkan arti dirimu, dengan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, janganlah kalian tempuh jalan bukan Islam dalam dakwahmu, janganlah kalian ukur dakwahmu, yang cahayanya diambil dari cahaya Allah dan sistemnya dari sistem yang dibawa Rasulullah, dengan dakwah lain yang munculnya lantaran kebutuhan sesaat dan lalu sirna ditelan masa dan berbagai peristiwa.

Kalian telah berdakwah dan telah pula berjihad. Dan kalian telah menyaksikan buah dari kesungguhan kalian yang besar ini.

Dengarlah, suara dakwah menggema, menyeru kepada kepemimpinan Rasulullah saw. dan keunggulan undang-undang Qur’an, menyeru kepada kebangkitan untuk berkarya dan memurnikan tujuan hanya untuk Allah swt. semata.

Lihatlah, darah telah mengalir di jalan Allah dari para pemuda yang suci dan mulia, dan lihatlah pula semangat untuk meraih syahadah (mati syahid) di jalan Allah telah berkobar.

Ini semua adalah keberhasilan. Sebuah keberhasilan yang lebih besar dari sekedar apa-apa yang kalian nantikan. Maka teruskan perjuanganmu, berkaryalah secara nyata, Allah selalu bersamamu, sedangkan amalmu sekali-kah tidaklah sia-sia.

Barang siapa bergabung bersama kami hari ini, ia telah beruntung sebagai pendahulu. Dan barang siapa masih enggan bersama kami hati ini, padahal ia seorang yang berhati ikhlas, ia akan bersama kami esok hati. Yang lebih dahulu tentu lebih utama.

Sedangkan barangsiapa yang berpaling dari dakwah kami, baik karena tidak punya perhatian, atau karena sombong, atau karena meremehkan, atau karena tidak yakin dengan kemenangannya, maka hari-hari mendatang akan membuktikan bahwa dirinya salah besar, dan Allah swt. akan melempar kebatilannya dengan kebenaran kami lalu Dia hancurkan kebatilan itu dan lenyaplah akhirnya.

Marilah bersama kami, marilah bersama kami, wahai para aktifis dakwah dan para mujahid yang ikhlas. Di sinilah jalan lurus itu, di sini pula arah yang lempang, maka janganlah kau bagi-bagi kekuatan dan kesungguhanmu hingga tercecer.

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sesungguhnya, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah agar kamu bertaqwa,” (Al-Anam: 153)

Hasan Al-Banna

Baca Selengkapnya...

Monday, January 25, 2010

Profil Muhammad Badi’ Al-Majid Sami; Mursyid Am Ikhwanul Muslimin Kedelapan


Nama: Muhammad Badi’ Al-Majid Sami

Tanggal dan tempat lahir: 7/8/1943 – Mahallah Kubra.

Status Perkawinan: Beliau adalah suami dari Sayyidah Samiyah Shinawi mantan Direktur Sekolah dakwah Islam di Beni Suef, putri dari Haji Mohammad Ali Shinawi seorang officer (pilot) dari generasi pertama jamaah Ikhwanul Muslimin yang dijatuhi hukuman mati pada tahun 1954 namun dianulir menjadi hukuman seumur hidup.

Jumlah Anak: Beliau memiliki 3 anak laki dan wanita:

1. Ammar (Insinyur komputer),

2. Bilal (radiolog),

3. Doha (farmasi),

sebagaimana beliau mempunyai 4 orang cucu yaitu: Ru’a, Habib, Iyad dan Tamim.

Pendidikan dan Prestasi:

- Bachelor of Veterinary Medicine – Kairo pada tahun 1965.

- Dosen Fakultas Kedokteran Hewan – Assiut pada tahun 1965.

- Master of Veterinary Medicine dan seorang asisten guru pada tahun 1977 di Universitas Zagazig.

- Doctor of Veterinary Medicine dan guru dari tahun 1979 di Universitas Zagazig.

- Asisten Profesor fakultas Kedokteran Hewan pada tahun 1983 – Zagazig University.

- Ahli Kedokteran Hewan pada Institut hewan di Sana’a 1982-1986.

- Dosen Kedokteran Hewan di Universitas Kairo pada tahun 1987 – cabang Beni Suef.

- Ketua Departemen Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan di Beni Suef pada tahun 1990 selama dua periode.

- Wakil dekan program Pascasarjana Universitas Beni Suef fakultas Kedokteran Hewan , pada tahun 1993 untuk satu periode.

- Menjadi pembimbing 15 thesis Master dan 12 disertasi doctoral (PhD), dan puluhan penelitian ilmiah di bidang dan spesialisasinya.

Pekerjaan saat ini:

- Dosen tetap bidang Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan – Universitas Beni Suef.

Aktivitas serikat buruh:

- Sekretaris Jenderal Jenderal Persatuan Dokter Hewan untuk dua periode.

- Bendahara persatuan profesi medis untuk satu periode.

Kegiatan sosial dan ilmiah:

- Anggota Asosiasi Dewan Kesejahteraan Islam di Mahalla al-Kubra.

- Anggota dewan club staf lembaga pendidikan Universitas Kairo selama 10 tahun, dan pengawas klub cabang di Beni Suef.

- Wakil Ketua Dewan lembaga dakwah Islam di Beni Suef pada tahun 1996.

- Ketua Asosiasi Perumahan anggota staf dan asisten Universitas Beni Suef.

- Ketua Dewan Direksi patologi dan patologi klinis setingkat negara.

- Ketua lembaga Journal of Veterinary Medical Research dari Fakultas Kedokteran Hewan – Beni Suef selama 9 tahun.

- Ketua Service Center, Fakultas Kedokteran Hewan lingkungan – Beni Suef.

- Pendiri Institut Kedokteran Hewan di Republik Arab Yaman, Sanaa, selama 4 tahun dari 1982-1986, serta mendirikan peternakan unggas dan hewan pribadi, dan penerjemahan kurikulum studi untuk bahasa Arab, dan mendirikan sebuah museum ilmiah dan bidang-bidang ilmiah lainnya pada institut kedokteran hewan.

Amanah dakwah:

- Anggota kantor administrasi di Mahala al-kubra tahun 1975 .

- Ketua kantor administrasi Mahala tahun 1977.

- Ketua Asosiasi Pendidikan negeri di Yaman 1982-1986

- Anggota Kantor Administrasi Beni Suef 1986.

- Ketua kantor administrasi Beni Suef pada tahun 1990.

- Ketua Departemen Pendidikan 1994

- Anggota Maktab Irsyad Alami (internasional) sejak tahun 1996 (Utara dan Selatan dan Utara kemudian hulu Mesir sebagai pengawas Pendidikan dan generasi muda).

- Anggota dari Kantor maktab Irsyad alami dan penilik sistem pendidikan pada tahun 2007.

Posisi dalam jamaah:

- Anggota Maktab Irsyad sejak tahun 1996.

- Anggota Maktab Irsyad alami (internasional) sejak tahun 2007.

Pengalaman bersama jamaah:

- Pengalaman pertama; kasus (militer): dipenjara pada tahun 1965 bersama ustadz Sayyid Quthb dan Ikhwanul Muslimin lainnya, dan dihukum 15 tahun, di mana dia menghabiskan waktu di penjara selama 9 tahun, dan meninggalkannya pada tahnggal 4/4/1974, dan kembali bekerja di Universitas Assiut, dan kemudian dipindahkan ke Universitas Zagazig, dan kemudian ia terbang ke Yaman, lalu kembali dari sana dan mengajar di Universitas Beni Suef.

- Pengalaman kedua: Dipenjara selama 75 hari dalam kasus lembaga dakwah Islam di Beni Suef pada tahun 1998, di mana ia menjadi ketua advokasi Beni Suef setelah penangkapan Haji Hasan Jaudah rahimahullah.

- Pengalaman ketiga; kasus (militer): Masalah anggota serikat buruh pada tahun 1999; di mana pengadilan militer memvonisnya lima tahun penjara, beliau menghabiskan waktu 3 tahun dan tiga perempat tahun, lalu keluar pada putaran pertama pada tiga perempat tahun pada tahun 2003.

- pengalaman keempat: pada saat diadakan pemilu lokal pada bulan April 2008 beliau dipenjara selama satu bulan.

Tulisan dan Buah Karya pada bidang Dakwah:

- Artikel dan Hadits pada situs (ikhwanonline.com) dan lain-lain.

- Tulisan dan khawatir Al-Quran (tadabbur) yang diterbitkan dalam Jurnal pada majalah (mujtama).

- Murajaah dan penyajian konsep dakwah.

Nama Dr Mohammad Badi termasuk salah satu 100 tokoh terbesar di dunia Arab dalam enslikopedi ilmiah Arab yang diterbitkan oleh lembaga Informasi Ilmiah Mesir pada tahun 1999.

Baca Selengkapnya...

Thursday, October 15, 2009

Sasaran Dakwah Ikhwan

Sasaran Dakwah Ikhwan:

1. Memberi keyakinan dan memperbaiki pemahaman kaum muslimin terhadap Islam, menjelaskan da’wah al-Qur’anul Karim secara gamblang dan jelas, menampilkan isinya secara mulia sesuai dengan ruh zaman, menyingkap kandungan al-Qur’an beruapa kehebatan dan keindahannya, serta menolak semua kebatilan dan kedustaan yang diarahkan kepadanya.
2. Menghimpun kaum muslimin dalam beramal di atas prinsip-prinsip al-Qur’an yang mulia dengan mempengaruhi pengaruh al-Qur’an secara mendalam dan kuat di dalam jiwa.
3. Mengabdi pada masyarakat dan membersihkan mereka dengan memerangi kebodohan, penyakit, kemiskinan, kehinaan, dan memotivasi kebajikan, kemanfaatan umum dalam segala bentuknya.
4. Memfokuskan perhatian terhadap keluarga, melalui tuntunan sebagai berikut:
1. Setiap anggota Ikhwan memberi perhatian khusus kepada anggota keluarganya, baik kepada isteri, saudara dan anaknya.
2. Jama'ah harus membuka lapangan aktivitas kewanitaan secara hak melalui penyebaran buku, mengadakan pertemuan dan membuat perkumpulan umum bagi wanita, secara umum dan khusus. Juga melalui pembentukan kader khusus para wanita muslimah.
3. Setiap anggota harus mencari isteri yang shalihah.
4. Setiap anggota harus melibatkan semua anggota keluarganya dalam roda da'wah.
5. Jama'ah harus mewujudkan sarana untuk menutupi kebutuhan ini, misalnya satu unit bertanggung jawab dalam hal pemeliharaan anak, satu unit lainnya bertannggung jawab dalam masalah kewanitaan, unit khusus untuk membentuk dan membina para muslimah tingkat pusat, dan unit khusus di tinngkat pusat yang akan menerima anak-anak yang telah menyelesaikan penndidikan pada peringkat tertentu.
6. Jama'ah berupaya membebaskan rumah anggota dari semua hal yang bertentangan dengan Islam. Melarang sikap persaingan duniawi (materialistik) di antara para wanita Ikhwan, serta menggalakkan zuhud (hidup sederhana).
7. Jama'ah menyelenggarkan halaqah-halaqah wanita di masjid sekaligus menyediakan para guru wanita dan laki-laki yang aktif dan shalih.
8. Jama'ah membantu mengadakan buku-buku rujukan bagi wanita dan memilihkan buku yang baik bagi mereka. Menyelenggarakan program tulis menulis, mencetak dan menerbitkan berbagai buku kewanitaan, meletakkan beberapa buku yang pengelolaannya diserahkan di bawah wewenang kaum wanita dan anak-anak muslimah, dan berusaha mewujudkan perpustakaan Islam. Sebuah rumah tangga muslim tidak akan terwujud hanya melalui bimbingan kepada para suami, ayah, anak, akan tetapi harus melalui penumbuhan lingkungan yang sesuai dan pemeliharaan yang sehat.
9. Jama'ah memotivasi pemikahan dilakukan pada usia dini dan berupaya memperbaiki pribadi sehingga memiliki pengaruh yang baik dalam keluarga. Insitusi Keluarga, tidak lain adalah kumpulan pribadi. Bila seorang suami berkepribadian baik, begitupun isteri akan memiliki pribadi yang baik. Keduanya merupakan tiang penyangga sebuah keluarga yang mampu membentuk sebuah rumah tangga percontohan yang berdiri di atas prinsip-prinsip Islam.

Islam telah meletakkan prinsip-prinsip dalam berumah tangga, di antaranya
* Menganjurkan kaum pria melakukan pemilihan yang baik terhadap calon isteri.
* Menjelaskan cara yang paling tepat untuk mengikat hubungan suami isteri.
* Memberi batasan hak dan kewajiban suami dan isteri.
* Mewajibkan kedua belah pihak untuk memelihara buah pernikahan hingga dapat tumbuh dan matang tanpa kerusakan dan kelalaian.
* Memberi penyelesaian semua permasalahan hidup dalam berumah tangga secara detail.
* Menggariskan semua teori berumah tangga dengan jalan pertengahan, tidak mengurangi. dan tidak berlebihan.
* Ikhwan menghendaki terbentuknya rumah tangga muslim, baik dari sisi pemikiran, 'aqidah, akhlaq, perasaan, di setiap amal dan prilakunya. Karenanya, Ikhwan mengajak kaum wanita untuk membantu kaum lelaki. Begitupun anak-anak untuk membantu para pemuda. Inilah sasaran da'wah Ikhwan dalam membentuk mereka menjadi sebuah keluarga idaman.
5. Perhatian untuk membentuk sebuah masyarakat Islam. Tak diragukan lagi, bila keluarga telah baik, niscaya masyarkat pun menjadi baik. Masyarakat, tidak lain merupakan kumpulan keluarga. Dan keluarga adalah masyarakat mini. Sedangkan masyarakat merupakan keluarga besar. Islam telah meletakkan prinsip-prinsip hidup bermasyarakat yang sejahtera.

Karena itu, Ikhwan menghendaki berdirinya sebuah bangsa muslim, masyarakat muslim. Ikhwan bekerja menyampaikan da'wah Islam ke seluruh rumah, mengangkat suara Islam di setiap tempat, menyebarkan fikrah Islam dan memasuki kampung-kampung, pusat-pusat perkumpulan, dan pelosok kota. Mereka, dalam menunaikan tugas ini, tak kenal lelah dan berupaya tidak
meninggalkan semua sarana yang diridhai Allah dan Rasul-Nya.

Sasaran ini pernah disebutkan secara global oleh Syaikh al-Murabbi Hasan al-Banna rahimahullah:

"Misi kita Ikhwanul Muslimin, secara global adalah: Menghadapi arus keangkaramurkaan dari peradaban materialistik dan kebudayaan nafsu dan syahwat sampai hilang dari tanah kita dan kita terbebas dari malapetaka yang muncul karenanya.

"Tidak sampal di sini, bahkan kita akan terus mendatangi kejahatan itu di sarangnya, kita akan perangi di dalam kandangnya sampai dunia mengagungkan nama Nabi saw., tunduk pada nilai-nilai al-Qur'an, dan bayang-bayang Islam meneduhi semesta. Pada saat itu tecapailah apa yang dicita-citakan seorang muslim. Tidak ada lagi fitnah dan ketundukan hanyalah kepada Allah.

"Dan kewajiban kita Ikhwanul Muslimin yang pertama sekali, adalah menjelaskan manusia batasan-batasan Islam dengan jelas, sempurna, terang, tanpa penambahan, pengurangan dan tanpa kerancuan. Inilah sisi teoritis dalam kerangka fikrah kita.
Kita juga menganjurkan manusia untuk merealisasi ajaran Islam, membawa mereka sampai ke tahap pelaksanaannya, dan menuntun mereka untuk dapat mengamalkannya.

"Inilah sisi praktis dalam kerangka fikrah kita. Yang selalu menjadi syi'ar kita adalah: Allah adalah tujuan kita, Rasul adalah teladan kita, al-Qur'an adalah acuan kita, jihad adalah jalan kita, dan mati dijalan Allah adalah cita-cita kita yang tertinggi. Sesunguhnya sistem da'wah Ikhwanul Muslimin mempunyai tahapan-tahapan tertentu, dan langkah-langkah yang jelas. Kita mengetahui apa yang kita kehendaki, dan apa sarana untuk merealisasi keinginan tersebut.

"Yang kita ingini pertama kali adalah, seorang pribadi muslim, kemudian rumah tangga muslim, bangsa muslim, dan kedaulatan Islam. Dari sini, maka kita tidak mendukung seluruh sistem yang tidak Islami dan tidak merujuk pada ajarannya. Kita akan bersama-sama bekerja menghidupkan sistem pemerintahan Islami dengan seluruh aspeknya.

"Setelah itu, kita menginginkan agar seluruh bagian dari tanah air Islam yang telah dipecah-pecah oleh sistem politik asing kembali bergabung bersama. Lalu kita ingin agar bendera Allah kembali berkibar tinggi di atas seluruh penjuru bumi yang dahulu pernah merasakan kesejahteraannya bersama Islam.

"Selanjutnya, kami akan mengumandangkan da'wah Islam ke seluruh dunia, dan menyampaikan daw'ah ke seluruh ummat manusia, merata ke selutuh ufuk bumi, menundukkan kediktatoran
manusia kepadanya, hingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi, dan ketundukan hanya pada Allah swt. semata."

"Setiap fase dari fase fase ini telah ditentukan langkah, jabaran, dan sarananya."

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)
Baca Selengkapnya...

Sarana Dakwah Ikhwan

Sarana Da'wah Ikhwan secara Global:

Wasilah (sarana) untuk merealisasi sasaran-sasaran tersebut telah disebutkan oleh ustadz Hasan al-Banna rahimahullah: "Sarana kita dalam mengokohkan da'wah, dapat diketahui secara jelas, dan dapat dibaca oleh semua orang yang ingin mengetahui sejarah jama'ah. Ringkasan semua itu ada pada dua kalimat yakni: Iman dan amal, cinta dan persaudaraan (Ukhuwah).

Apa yang paling banyak dilakukan Rasulullah saw. tidak lain adalah menda'wahkan manusia pada keimanan dan amal. Kemudian memadukan hati kaum mu'minin di atas pilar cinta dan persaudaraan. Lalu terpadulah antara kekuatan 'aqidah dan kekuatan persatuan.

Dalam kesempatan lain, Ustadz al-Banna rahimahullah mengatakan: "Sarana-sarana umum bagi da'wah tidak berubah, tidak berganti dan tidak lain dari aspek iman yang dalam (Imaan 'amiiq), pembentukan yang cermat (takwiin daqiiq), dan amal yang berkesinambungan (amal mutawashil)".

Selain itu, Syaikh telah menyebutkan bahwa rukun-rukun sarana dalam da'wah ada tiga: Manhaj yang benar (minhaj shahih), orang mu'min yang beramal (mu'minun 'amilun), dan pemimpin yang tangguh dan dipercaya (qiyadah hazimah mautsuq biha).

Melalui penjelasan singkat di atas, kita dapat mengetahui misi utama da'wah ikhwan, yakni melakukan ishlah dalam diri ummat Islam. Sebagaimana kita mengetahui salah satu dari faktor penting yang diperlukan untuk melakukan misi tersebut ada pada ungkapan Ustadz al-Banna: Pemimpin yang tangguh dan dipercaya.

Sebab sesungguhnya setiap amal yang bertolak dari selain permulaan ini, tidak dapat bertahan lama dan langgeng. Lebih dibutuhkan lagi pemimpin yang mampu melakukan pembaruan, penelitian, dan melaksanakan kewajiban seluruhnya sebagaimana kemashlahatan ummat Islam seluruhnya.

Karenanya, mencari unsur kepemimpinan Islam dalam hal ini, membinanya, dan memberinya peran yang sesuai merupakan masalah asasi dan penting dalam amal Islam, sehingga jalan da'wah harus sungguh-sungguh cermat mewujudkannya.

Pemimpin harus memiliki iman yang mengakar, mampu mengurus amaliyah kaderisasi (takwin) secara detail dan biasa melakukan pekerjaan terus menerus di atas petunjuk minhaj yang shahih dan melalui kerja bersama-sama para du'at lainnya.

Rincian Sarana Da’wah Ikhwanul Muslimin

Pertama, menyebarkan da'wah melalui semua sarana sampai dapat dipahami oleh opini umum dan mereka dapat menjadi penolong da'wah didorong oleh aqidah dan iman.

Kedua, menyaring semua unsur-unsur baik untuk dijadikan pilar pendukung yang kokoh bagi fikrah ishlah (perbaikan).

Ketiga, memperjuangkan perundang-undangan hingga suara da'wah Islam dapat berkumandang secara formal dan legal di pemerintahan sekaligus mendukungnya dan menjadi kekuatan dalam pelaksanaannya.

Di atas landasan ini, Ikhwan mengajukan calon mereka dalam pemilihan parlemen ketika datang saat yang tepat pada ummat untuk melakukannya. Kami percaya keberhasilan da'wah yang merupakan pertolongan Allah swt., selama kami mengharapkan itu kepada Allah swt. semata. “Dan niscaya Allah akan menolong orang yang menolong (agama)- Nya. Sesungguhnya Dia Maha Kuat dan Maha Mulia.” (QS. al-Hajj: 40)

Keempat, manhaj (metode) yang benar. Ikhwan telah mendapatkannnya dalam al-Qur'an, sunnah Rasul-Nya dan melalui berbagai hukum Islam ketika kaum muslimin memahaminya secara bersih, jauh dari tambahan unsur asing dan kedustaan. Ikhwan melakukan kajian terhadap Islam di atas landasan ini dengan mudah, luas disertai penguasaan yang menyeluruh.

Kelima, kaum mu'minin yang beramal atau aktivis muslim. Ikhwan menerapkan apa yang mereka pahami dari Agama Allah, penerapan menyeluruh tanpa pandang bulu. Ikhwan, alhamdulillah, mengimani fikrah, meyakini tujuan, dan percaya dengan pertolongan Allah kepada mereka selama mereka bekerja untuk-Nya serta berada di atas petunjuk Rasulullah saw.

Keenam, kepemimpinan yang tangguh dan dipercaya. Ikhwanul Muslimin telah mendapatkannya. Anggota Ikhwan taat pada pimpinannya, dan beramal di bawah benderanya.

Di samping sarana-sarana umum ini masih ada sarana tambahan lain yang digunakan Ikhwan yang bersifat positif. Ada yang sesuai dengan 'urf (kebiasaan yang dikenal) masyarakat Islami, dan ada yang keluar darinya, atau bahkan berlawanan. Ada yang dilakukan secara lemah lembut, dan ada yang dilaksanakan secara tegas dan keras. Semuanya dilakukan untuk keberhasilan da'wah dengan izin Allah.

Terkadang Ikhwan dituntut berlawanan dengan adat dan kebiasaan jahili yang ada di masyarakat. Toh pada hakikatnya, misi da'wah tidak lain adalah upaya perubahan dari adat, kebiasaan dan kondisi yang tidak Islami.

Singkatnya, tujuan asasi Ikhwanul Muslimin, sasarannya yang paling utama, perbaikan yang diinginkan dan mereka persiapkan untuknya adalah: Islah secara menyeluruh dan sempurna, ditopang oleh kekuatan ummat dan diarahkan untuk seluruh ummat, mencakup perubahan dan pergantian seluruh kondisi yang negatif.

Ikhwanul Muslimin menyuarakan da'wah, mengimani manhaj, memperjuangkan aqidah, beramal dalam rangka menunjukkan manusia pada sebuah sistem kemasyarakatan yang mencakup segenap aspek kehidupan bernama: Islam. Diturunkan oleh Ruhul Amin (Jibril) kepada hati Sayyidil Mursalin Muhammad saw. agar ia menyampaikan peringatan melalui bahasa Arab yang terang.

Ikhwan ingin membangkitkan sebuah ummat Islam ideal yang memeluk Islam secara benar dan menjadikannya sebagai petunjuk dan imam. Hingga manusia mengetahuinya sebagai negara al-Qur'an yang sepenuhnya bersandar pada al-Qur'an, yang menda'wahkannya, yang berjihad di jalannya, yang berkorban di atas jalannya, dengan jiwa dan harta.

Sarana-sarana ini memerlukan kesabaran berlipat ganda. Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya jalan kalian telah ditentukan langkah-langkahnya, ditetapkan batasan-batasannya. Aku tidak ingin melanggar batasan ini yang telah aku yakini sebagai jalan yang menjamin sampai pada tujuan...

"Benar, ini merupakan perjalanan yang panjang, akan tetapi di sana tidak ada lagi selain jalan ini. Sesungguhnya sikap rujulah (kejantanan) itu tampak pada sikap sabar, kesungguhan dan amal yang terus menerus. Maka barang siapa di antara kalian ingin terburu-buru memetik buah sebelum saat matangnya, atau mengambil bunga sebelum masanya, aku tidak bersama mereka dalam hal tersebut.

"Lebih baik baginya untuk keluar dari da'wah ini kepada selainnya. Tetapi barang siapa yang bersabar bersamaku hingga biji telah tumbuh menjadi sebuah pohon dan menghasilkan buah hingga tiba saatnya untuk dipetik, maka Allah yang akan membalasnya sebagaimana balasan untuk orang-orang muhsin, yakni kemenangan atau kekuasaan, mati syahid atau kebahagiaan."

Kesabaran adalah sikap yang tak kenal putus asa. Karenanya Syaikh Hasan al-Banna rahimahullah mengatakan, "Janganlah kalian berputus asa, sebab putus asa bukanlah bagian dari akhlak ummat Islam. Kenyataan hari ini adalah impian hari kemarin. Dan impian hari ini adalah kenyataan hari esok.

"Waktu masih terhampar luas. Bangsa kalian yang beriman masih mengandung unsur-unsur bersih yang kuat dan potensi yang sangat besar, walaupun fenomena kerusakan demikian merajalela di antara mereka.

Pihak yang lemah, tidak selamanya menjadi lemah. Sebaliknya pihak yang kuat tak selamanya menjadi kuat. “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orangyang mewarisi (bumi)." (QS. Al-Qashash: 5)

Sesungguhnya perjalanan waktu akan menyingkap banyak peristiwa-peristiwa besar. Kesempatan masih terbuka bagi amal-amal agung. Dunia menanti da'wah kalian. Da'wah hidayah, cahaya, dan keselamatan, agar dapat membebaskannya dari derita sakit. Peran kalian adalah memimpin dunia.

"Dan hari-hari itu akan Kami (Allah) gilirkan di atara manusia. Kalian mengharapkan pada Allah sesuatu yang tidak dapat mereka harapkan kepada-Nya. Maka bersiaplah, beramallah sekarang juga, mungkin kalian tak mampu lagi beramal esok hari."

Kepada mereka yang bersemangat di antara kalian saya anjurkan untuk menanti perputaran zaman. Kepada mereka yang masih tinggal diam, saya anjurkan agar bangkit dan beramal, karena tidak ada istirahat bersama jihad.”

"Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah pasti bersama orang-orang yang muhsinin." (QS. al-Ankabut: 69)

Teruslah maju ke depan. Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Karena itu pula Syaikh Sa'id Hawwa rahimahullah mengatakan, "Imam al-Banna telah meletakkan prinsip untuk pemahaman, prinsip dalam pembinaan, prinsip dalam organisasi, dan prinsip dalam berstrategi dan berharakah.

Selanjutnya, beliau membiarkan pintu terbuka untuk bermacam-macam perbedaan pendapat yang tidak membahayakan persatuan jama'ah, selama tetap berpegang teguh dan terikat pada prinsip-prinsip tersebut.

Sebab itulah, Hasan al-Banna berhasil mendirikan sebuah bangunan yang tetap sesuai dengan berbagai kondisi zaman. Imam al-Banna berhasil membentuk lingkaran global yang mampu menghimpun seluruh kaum muslimin pada satu fikrah dan tanzhim. Beliau berhasil memadukan seluruh pemikiran yang positif, dan menyaring pemikiran yang keliru. Dalam da'wahnya, dapat dipadukan seluruh kebaikan yang mungkin menjadi faktor pemecah dalam organisasi selainnya. Sebaliknya, Ikhwan mampu menjauhi da'wah dari segala keburukan dan kerancuan."

Secara khusus, Ustadz Sayyid Quthb rahimahullah mengungkapkan kekagumannya terhadap kejeniusan Hasan al-Banna dalam dua sisi penting:

Pertama, kemampuannya membina ruh dan jiwa secara seimbang terhadap anggota harakah, melalui porsi yang sesuai antara ilmu, ruh dan harakah, dan antara spesialisasi pendidikan Islam dari sisi lain.

Kedua, kemampuan pembinaan organisasi bagi Jama'ah. Jama'ah Ikhwan adalah jama'ah pelopor amal jama'i (kerja kolektif) yang pertama kali muncul dalam bentuk sebuah partai Islam.

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)
Baca Selengkapnya...

Manhaj Aqidah dan Fiqih Ikhwan

Manhaj aqidah Ikhwan adalah manhaj salafi murni tanpa kesamaran sedikitpun. Ini jelas terlihat melalui perkataan Syaikh Hasan al-Banna -rahimahullah- dalam al-ushul al-'isyrin.

"Setiap orang dapat diambil perkataannya dan ditinggalkan kecuali Rasulullah saw. yang ma'shum (terlindung dari kesalahan). Dan semua yang datang dari para salaf -ridhwanullah alaihim- bila sesuai dengan al-Qur'an dan sunnah kami menerimanya. Namun bila tidak sesuai, maka al-Qur'an dan sunnah Rasulullah lebih kami utamakan untuk diikuti. Namun kami tidak akan melontarkan tuduhan dan kritikan terhadap pribadi yang berselisih dalam hal ini."

Dalam hal ini, Syaikh Sa'id Hawwa memberi catatan: "Tidak ada 'ishmah menurut ahlul haq kecuali al-Quran dan sunnah. Karenanya kesalahan yang terjadi selain dari keduanya adalah masalah yang mungkin terjadi.

"Selanjutnya, pendapat yang dilontarkan oleh seseorang, setelah Allah dan rasul-Nya, dapat diambil atau ditolak. Termasuk dalam hal ini pendapat para salaf dan para imam. Kami menolak setiap perkataan yang berlawanan dengan al-Qur'an dan sunnah, siapapun yang mengatakannya.

"Demikianlah, berkata Ustadz Hasan al-Banna-rahimahullah- dalam prinsip ke sembilan: Setiap masalah yang tidak didasari dengan amal perbuatan, maka mendalami masalah tersebut termasuk Takalluf (memberat-beratkan) yang dilarang oleh syari'at. Termasuk mendalami masalah-masalah cabang (far'iyat) terhadap ketentuan hukum yang belum terjadi."

Syaikh Sa'id Hawwa rahimahullah mengatakan: "Adab para sahabat radhiallahu'anhum adalah, mereka tidak menanyakan sesuatu yang belum terjadi. Bila terjadi sesuatu, baru mereka mencari hukum Allah tentang hal tersebut.

"Umar radhiallhu‘anhu pemah marah pada seorang yang menanyakan sesuatu yang belum terjadi, sebagaimana diriwayatkan ad-Darimi."

Ada beberapa masalah termasuk bab aqidah yang kita tidak diperintahkan untuk membahasnya. Ada masalah yang termasuk bab fiqh dan kita atau kaum muslimin tidak memerlukannya. Ada pula masalah yang tidak termasuk bab akhlaq, tidak disebutkan oleh al-Qur'an dan sunnah, serta bukan merupakan sesuatu keharusan dalam urusan dunia dan din.

Waktu kita tidak perlu disibukkan terhadap masalah-masalah seperti ini. Karena hal tersebut tidak lain hanya melelahkan jiwa dan akal, serta menyia-nyiakan waktu tanpa manfaat. Bahkan bisa jadi, termasuk dalam akhlaq tercela dari akhlaq mutafashihin (berlebihan dalam kefasihan), mutaqarri'in (berlebihan dalam membaca), mutafaqqihin (berlebihan dalam pemahaman fiqih), yang semuanya termasuk takalluf yang dilarang oleh syari'at.

Allah swt. berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang yang mengada-ada.” (QS. Shad: 86)

Untuk menjelaskan manhaj Ikhwan dalam hal ini, harus disebutkan dulu sebagian rincian masalah dalam manhaj fiqh.

Manhaj Fikih Ikhwan

Dalam membahas manhaj ini, kami memilih salah satu di antaranya, yakni masalah madzhabiyah. Kami akan menyebutkan sebuah makalah tentang ijtihad dan taqlid yang pernah disebarkan pada Majalah Ukhuwwah Islamiyyah tahun pertama yang berjudul, "Upaya Pembentukan Sosok Da'i".

Taqlid

"Pengertian taqlid adalah: Menerima perkataan orang lain tanpa disertai upaya mencari dalilnya dari al-Qur'an dan sunnah. Bila ada orang yang bertanya tentang dalil dari keduanya, maka ia bukan Muqallid (yang bertaqlid). lnilah pengertian yang disepakati semua pihak.

Para muqallid memiliki beberapa dalil, yang mereka yakini sebagai alasan sikap mereka, di antaranya:

Pertama, Firman Allah swt.: "Maka bertanyalah pada ahlu dzikri bila kalian tidak mengetahui.” (QS. al-Anbiya: 7)

Kita bertanya pada mereka karena kita tidak tahu, sehingga mereka memberi fatwa kepada kita. Atau bahwa taqlid kita terhadap madzhab, sebenarya merupakan upaya meminta fatwa kepada seorang alim.

Jawabannya: Yang dimaksud dalam lafadz adz-Dzikr adalah al-Qur'an dan hadits. Artinya, wajib menanyakan dalil dari ahli dalil.

Sekelompok orang di zaman Rasul saw. pernah memberi fatwa kepada seorang yang terluka untuk mandi karena janabah. Setelah mandi, temyata orang itu meninggal.

Ketika Rasulullah saw. mengetahuinya, beliau bersabda, "Mengapa tidak cukup baginya bersuci dengan debu melalui tangannya seperti ini," sambil mengisyaratkan tayammum.

Beliau melanjutkan: "Mereka telah membunuhnya. Allah membinasakan mereka. Mengapa mereka tidak bertanya dulu bila mereka belum mengetahui?! Sesungguhnya obat bagi yang tidak tahu adalah bertanya.”

Artinya, mengambil pendapat, tanpa dalil, bagi seorang mufti sama halnya dengan membunuh. Dan keburukan baginya sekaligus bagi orang yang meminta fatwa. Sesuai dengan nash hadits, yang nanti akan kami jelaskan.

Kedua, Rasulullah saw. bersabda, "Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurasyidin yang diberi petunjuk setelahku."

“Contohlah orang-orang setelahku Abu Bakar dan Umar.”

Mereka mengatakan, “Kami mengikuti para imam yang mulia sebagaimana kami mengikut khulafaurrasyidin.”

Ketiga, Rasulullah saw. bersabda, "Sahabat-sahabatku adalah seperti bintang, siapapun yang kalian ikuti, kalian akan mendapat petunjuk"

Mereka mengatakan, "Kami mengikuti para imam sebagaimana kami mengikuti para sahabat."

Keempat, Firman Allah swt., "Ta’atlah kepada Allah dan Rasul dan ulul amri di antara kalian.” (QS. An-Nisaa:59)

Mereka mengatakan, "Yang dimaksud ulul amri adalah para ulama, dan ta'at kepada mereka berarti taqlid pada mereka terhadap yang mereka fatwakan."

Jawabannya: "Yang dimaksud ulul amri adalah pemimpin, ulama, atau kedua-duanya. Taat pada ulama bukan berarti taqlid pada mereka, sebab mereka melarang sikap taqlid, sebagaimana nanti akan dijelaskan. Maka, ta'at kepada mereka, artinya justeru meninggalkan taqlid kepada mereka."

Kelima, Bila kita membolehkan setiap orang untuk berijtihad, sama saja kita membebani manusia dengan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Dan akibatnya, kehidupan ilmiyah akan terhenti.

Jawabannya: Sesungguhnya setiap manusia ditetapkan untuk bertanya tentang hukum syari’at yang tetap dalam Kitabullah dan sunnah. Hal itu agar ia dapat mengambil petunjuk agamanya dari orang yang dapat menolongnya untuk memahaminya, melalui pengetahuan terhadap nash baik secara lafadz atau makna.

Ini lebih ringan daripada memahami sebuah pendapat dengan sangat detail dan rinci.

Prinsip inilah yang ditempuh selama tiga zaman pertama, sebagai zaman yang berpredikat paling baik.

“Sebaik-baiknya zaman, adalah zamanku, kemudian orang-orang yang setelah mereka, dan orang-orang yang setelah mereka.”

Mazhab-mazhab yang empat itu berada pada tiga zaman tersebut. Dan di dalamnya sikap taqlid sama sekali tidak diakui. Adakalanya murid-murid mereka berbeda pendapat dalam banyak masalah. Lagi pula di hari kiamat kelak, seseorang tidak ditanya, "Mengapa anda tidak menyambut perkataan atau pendapat fulan dan fulan?"

Akan tetapi akan ditanya, "Apakah jawabanmu kepada para Rasul?' sebagaimana yang tercantum di dalam firman Allah: Dan (Ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka seraya berkata, “Apakah jawabanmu kepada para Rasul?" (Q.S. Al-Qashash: 65)

Keenam, Sesungguhnya bab ijtihad saat ini telah tertutup dikarenakan tak ada manusia yang memahami al-Qur'an.

Jawabannya: Apakah Allah swt. tidak mampu membentuk manusia yang mampu memahami al-Qur'an? Atau apakah Allah swt. tidak mampu menjadikan al-Qur'an dapat dipahami manusia?

Padahal Allah swt. berfirman, "Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas." (QSAsy-Syu'ara : 192-195).

"(Ialah) al-Qur'an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertaqwa.' (QS. az-Zumar: 28)

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran." (QS. al-Qamar: 17)

"Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu'min yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar." (QS. al-Isra: 9)

Bagaimana al-Qur'an dapat memberi petunjuk bila tidak dapat di pahami.

Orang-orang Yahudi dahulu pernah mengatakan bahwa kitab Taurat tidak dapat dipahami. Kemudian Allah swt. berfirman: "Dan mereka berkata, "Hati kami tertutup." Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka, maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 88)

Sementara itu Allah swt. memerintahkan kita untuk memahami al-Qur'an kita sebagaimana kita mengetahui anak-anak kita. "Orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri..." (QS. al-Baqarah: 146)

Dari sini jelaslah, bahwa pengetahuan tentang Islam selamanya bersandar pada alasan dan dalil.

"...Katakanlah, Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (QS. al-Baqarah: 111)

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu..." (QS. an-Nisaa': 105)

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. al-Isra: 36)

Pengertian taqlid menerima pendapat tanpa upaya mencari alasan dan dalil, tidak dikategorikan sebagai ilmu. Dan setiap muslim yang bertanya tentang dalil dari Kitabullah dan sunnah, ia telah keluar dari lingkaran taqlid.

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)
Baca Selengkapnya...

Prinsip Ijtihad dan Taqlid Menurut Ikhwan

Untuk menjelaskan masalah ini, saya akan merujuk pada beberapa kutipan dari kitab karya al-Buthy tentang masalah madzhab, termasuk perkataan para ulama mujtahidin dari para salaf rahimahumullah yang disebutkan di dalamnya, dan perkataan Imam Haan al-Banna rahimahullah.

Ungkapan al-Buthy:

1. Sesungguhnya orang yang bertaqlid pada salah satu madzhab, tidak mengharuskannya secara syari’at untuk mengikuti imamnya terus menerus. Juga tidak melarangnya untuk berpindah dari pendapat imam madzhabnya kepada pendapat selainnya.

Kaum muslimin telah sepakat bahwa seseorang bebas bertaqlid pada siapa saja dari para mujtahidin bila ia telah sampai pada haikkat madzhab pendapat mereka. Misalnya, ia diperbolehkan meniru setiap hari satu orang imam dari imam yang empat.

Bila pada suatu masa, ada orang yang melarang perpindahan seseorang dari satu madzhab ke madzhab yang lain, sikap itu merupakan ta’ashub atau fanatik buta yang secara ijma’ kaum muslimin telah menolaknya.

Setiap orang yang meneliti masalah ini mengetahui, bahwa tidak ada perselisihan dalam hal tersebut. Dan yang perlu ditegaskan bahwa penjelasan ini bukan seruan agar seseorang sama sekali tidak terikat dengan salah satu mazhab tertentu, dan bukan anjuran agar ia selalu berubah-ubah dalam mengikuti madzhab.

Tidak adanya kewajiban untuk iltizam (berpegang) pada suatu madzhab, tidak berarti larangan untuk beriltizam kepadanya.

2. Bila seseorang telah memahami suatu masalah dan mendalami dalil-dalilnya lewat al-Qur’an, sunnah dan prinsip-prinsip ijtihad, maka ia harus menerapkan hal tersebut dalam mengambil pendapat imam madzhabnya.

Dia tidak boleh bertaqlid kepadanya selama ia masih mungkin melakukan ijtihad di dalamnya sebatas kemampuan ilmiyah yang dimilikinya. Para ulama dan imam madzhab seluruhnya telah sepakat dalam hal ini.

Tentu saja konsekuensinya, ia tidak boleh menguatkan pendapat imamnya di atas hasil ijtihadnya sendiri, dalam masalah yang telah ia kaji dan dalami pemahaman dalil serta prinsip-prinsipnya.

Dalam masalah ini, juga tidak ada perselisihan. Dan ini tidak berarti menganjurkan seorang muqallid yang jahil terhadap dalil-dalil hukum untuk tidak bertaqlid kemudian bersandar langsung terhadap nash al- Qur'an dan sunnah.

3. Kapan seseorang wajib tidak bertaqlid kepada madzhab dan imamnya?

Ada dua kondisi di mana seseorang harus melepas diri dari mengikuti dan bertaqlid pada imamnya:

Pertama, bila seseorang telah mendalami satu masalah hingga dalam taraf penguasaan dan penelitian dari segenap dalil-dalilnya dan mengetahui metode pengambilan istimbath (kesimpulan) hukum dari dalil-dalil tersebut. Maka baginya harus mengikuti hasil ijtihadnya dalam masalah tersebut.

Ia tidak boleh mengekang kemampuan ilmiyahnya untuk terus berjalan di belakang imamnya. Bila kemampuan ilmiyahnya ini bisa diterapkan lebih banyak dari satu masalah, maka hukumnya sama, bahwa ia harus mendahulukan hasil ijtihadnya.

Kedua, bila seseorang mendapati sebuah hadits yang berlawanan dari pendapat imam madzhab yang ia ikuti. Kemudian ia telah meyakini keshahihan hadits dan kelayakannya menjadi dalil dalam hukum. Maka baginya harus mengikuti petunjuk hadits dan melepas keterikatannya dengan madzhab imamnya dalam hukum masalah tersebut.

Sebab sesungguhnya seluruh imam madzhab yang empat mewasiatkan pengikut dan murid mereka untuk pindah pada petunjuk hadits yang shahih bila ternyata berlainan dengan hasil ijtihad mereka. Maka, berpindah mengikuti hadits pada hakikatnya merupakan inti madzhab imam yang empat. ltulah prinsip mereka secara bersama yang senantiasa mereka anut.

Meskipun demikian, hal ini mutlak memerlukan beberapa syarat yang perlu diketahui dan dijaga. Tidak dipahami bahwa seluruh hadits yang diperoleh oleh seorang peneliti dan isinya berlawanan dengan hasil ijtihad imamnya, menjadi petunjuk asasi terhadap apa yang dipahami peneliti itu terhadap hadits.

Untuk meninggalkan pendapat seorang imam melalui pemahaman zahir terhadap makna hadits harus dilandasi sebab-sebab ijtihad yang banyak.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah memaparkan sepuluh buah syarat untuk hal tersebut, di samping beberapa sebab lainnya. Salah satunya disebutkan, bahwa seorang alim boleh jadi memiliki alasan meninggalkan penerapan suatu hadits yang kita belum tahu alasan tersebut. Sesungguhnya wawasan ilmu itu luas.

Bila kita telah mempelajari latar belakang seorang imam mujtahid meninggalkan makna zahir suatu hadits, dan kita telah memenuhi semua sebab dari sepuluh sebab yang disebutkan Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, maka selanjutnya kita tidak boleh meninggalkan petunjuk hadits shahih dengan alasan bahwa mungkin saja seorang imam memiliki uzur dan alasan yang belum kita ketahui. Sebab hal itu berarti kita lebih mengikuti kesalahan ulama dari pada mengikuti dalil-dalil syar'i setelah kita mengetahui, memeriksa, dan memahami maksudnya.

Ungkapan Ustadz Hasan Al-Banna rahimahullah tentang Manhaj Aqidah dan Fiqh Akhkam, serta Sikap Praktis Beliau:

1. Al-Qur 'anul Karim dan sunnah yang suci merupakan rujukan setiap muslim dalam mengetahui hukum-hukum Islam. Seorang muslim memahami al-Qur'an sesuai dengan kaidah bahasa Arab, tanpa berlebihan, tanpa penyimpangan, dan merujuk pada pemahaman sunnah yang suci pada tokoh hadits yang dipercaya.
2. Semua orang dapat diambil perkataannya atau ditinggal, kecuali yang ma'shum (terlindung dari kesalahan) yakni Nabi saw. Semua perkataan para salaf ridhwanullahi'alaihim yang sesuai dengan Kitabullah dan sunnah kita terima, dan bila tidak sesuai, maka Kitabullah dan sunnah lebih utama untuk diikuti. Akan tetapi kami tidak akan melontarkan tuduhan atau menghina pribadi-pribadi atas masalah yang diperselisihkan. Kami serahkan mereka pada niat mereka. Yang jelas, mereka telah memberi apayang telah mereka lakukan.
3. Setiap muslim yang belum mampu meneliti dalil-dalil hukum far'iyyah (cabang), hendaknya ia mengikuti salah seorang imam madzhab. Dan diharapkan bersamaan dengan mengikutinya, baik sekali bila ia berupaya sebatas kemampuannya untuk mengetahui dalil, dan menerima semua arahan disertai dengan dalilnya. Bila dalil itu benar menurutnya, baru ia membenarkan isi arahan tersebut. Dan hendaknya, ia terus berupaya menyempurnakan kekurangan wawasan ilmunya, bila ia adalah seorang yang memiliki kecenderungan pada ilmu, sampai ia mencapai derajat mampu meneliti dalil.
4. Perselisihan fiqih dalam masalah far’iyat tidak menjadi sebab perpecahan dalam agama. Dan tidak menimbulkan permusuhan. Setiap mujtahid memperoleh balasannya. Tidak dilarang untuk melakukan penelitian ilmiah yang bersih dalam masalah-masalah khilafiyah dengan dinaungi kecintaan pada Allah swt dan ruh saling tolong menolong dalam upaya mencapai hakikat, tanpa mendorong sikap riya yang tercela dan ta’ashub.

Tanpa perlu diberi komentar, jelaslah metode yang baik dalam mengambil istimbat dari Kitabullah dan sunnah. Metode yang ditempuh harakah Ikhwan dalam hal ini, juga telah dijelaskan oleh Muhammad Fathy Utsman dalam kitabya "As-Salafiyah fi al-Mujtama'at al-Mu'ashirah, Manhajiyatu al-Ustadz Hasan al-Banna min Khilal Mudzakkiratihi" (Salafiyah di Era Masyarakat Modern, Manhaj Ustadz Hasan al-Banna dalam Memorandumnya).

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)
Baca Selengkapnya...

Sikap Ikhwan terhadap Umat

Sikap Ikhwan terhadap Ummat

A. Terhadap Ummat Manusia secara Umum

Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah menyebutkan: Sikap masyarakat terhadap da'wah beragam. Ada ummat Islam berjiwa mujahid. Sikap kita terhadap mereka adalah loyal, selama mereka loyal kepada kita, meskipun terdapat perbedaan dengan ijtihad-ijtihad kita.

Ada juga kaum muslimin yang berdiam diri karena udzur. Sikap kita terhadap mereka adalah da'wah dan nasihat. Ada kaum dzimmi yang tidak melanggar janji, sikap kita dengan mereka adalah sama-sama bertanggung jawab. Ada kaum dzimmi yang merusak perjanjian, berarti mereka menjadi pihak yang patut diperangj.

Ada juga pihak yang menjalin janji dan masuk ke dalam negara kita, di bawah jaminan keamanan kita secara bebas, mereka tidak boleh disakiti.

Empat Kelompok Ummat Islam

Di hadapan kita, ada empat kelompok ummat Islam. Pertama, orang yang percaya terhadap da’wah kita, membenarkan perkataan kita dan tertarik dengan prinsip-prinsip kita. Hatinya merasa puas dan tentram, mengajak mereka agar segera bergabung dan bekerja bersama kami hingga semakin memperbanyak jumlah para mujahidin, dan suara da’wah makin lantang.

Tidak ada artinya keimanan tanpa diikuti dengan amal. Tak ada gunanya ‘aqidah yang tak mendorong pemiliknya untuk mewujudkan secara nyata dalam sikap dan pengorbanan di atas jalannya.

Demikianlah para as-sabiqunal awwalun, orang-orang yang dada mereka diterangi Allah swt. dengan hidayah. Mereka mengikuti para Anbiya, beriman dengan risalahnya dan berjihad di jalannya dengan sebenar-benarnya jihad.

Mereka akan memperoleh balasan besar dari Allah swt., ditambh pahala orang-orang yang mengikuti mereka, tanpa sedikitpun mengurangi nilai pahala yang diberikan khusus untuk mereka.

Kedua, kelompok orang yang ragu-ragu, belum memperoleh kejelasan tentang kebenaran dan belum mengetahui makna perkataan kami tentang ikhlash dan manfaat. Kami tidak mengabaikan kelompok ini disebabkan keraguannya.

Dan kami wasiatkan agar mereka banyak menjalin hubungan dengan kami secara intensif, mmbaca risalah-risalah kami dari jauh maupun dekat, menelaah buku-buku kami, menghadiri acara-acara umum kami, serta mengenali pribadi ikhwan-ikhwan kami. Insya Allah, kelak hatinya akan cenderung kepada kami.

Demikianlah keadaan orang-orang yang mulanya ragu terhadap pengikut para rasul.

Ketiga, orang yang tak ingin mengerahkan perannya kecuali bila melihat ada keuntungan material di baliknya. Kami mengatakan kepada mereka, bahwa kami tidak dapat mewujudkan angan-angan anda kecuali pahala dari Allah swt. bila anda ikhlas, dan surga bila Dia mendapati kebaikan Anda.

Adapun kami, adalah orang-orang yang tidak memiliki jabatan, miskin harta. Keadaan kami adalah mengorbankan apa yang kami miliki dan mengerahkan semua yang kami sanggupi untuk da 'wah.

Harapan kami berpulang pada ridha Allah swt. semata. Dia-lah sebaik-baiknya Pelindung dan Penolong. Bila Allah berkenan menyingkapkan selaput dan membuka katup ketamakan hatinya, niscaya ia mengetahui Allah mempunyai yang lebih baik dan kekal. Kemudian ia segera bergabung dengan kelompok pejuang agama Allah, mengorbankan hartanya di dunia, semata-mata mengharap pahala dari Allah kelak.

“Apa yang di sisimu akan lenyapl dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang- orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl: 96)

Bila tidak yang jelas Allah Maha kaya dari siapapun yang tidak memprioritaskan hak Allah dalam hartanya, dunianya, akhiratnya, matinya dan hidupnya. Demikianlah keadaan kaum seperti mereka di zaman Rasulullah saw.

Mereka menolak berbai'at dengan Rasulullah saw., kecuali dengan syarat meraih keuntungan setelahnya. Jawaban Rasul saw. tidak lain memberi tahu bahwa bumi Allah akan diwariskan kepada hamba-hamba-Nya yang ia kehendaki, dan semuanya akan dikembalikan untuk mereka yang bertaqwa.

Keempat, orang yang buruk sangka kepada kami, hatinya diliputi purbasangka terhadap da'wah kami. Hanya memandang kami secara negatif, hanya mencaci dan penuh curiga. Mereka menolak untuk melepas sikap tersebut, dan tetap tenggelam dalam kesombongan, hanyut dalam keraguan dan praduganya.

Kami berdo'a kepada Allah untuk kami dan dia. Semoga Dia memperlihatkan kebenaran itu adalah benar dan menjadikan kami sebagai pengikutnya. Memperlihatkan kebathilan itu adalah bathil dan menjauhkan kami darinya.

Semoga kami dan dia memperoleh petunjuk dari Allah swt. Kami berdo'a untuknya, dan menyeru mereka. Dan kami berdo'a dalam hal ini. Hanya Allah sajalah tempat berharap.

Allah swt. telah menurunkan nabi-Nya yang mulia pada kelompok manusia, dan Dia berfirman, "Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah memberi petunjuk siapapun yang ia kehendaki." (QS. al-Qashash: 56)

Meskipun demikian kami tetap mencintainya, mengharapkan kedatangannya, dan kepercayaannya terhadap da'wah kami. Syi'ar kami terhadapnya sebagaimana ditunjukkan oleh Rasul Mushthofa saw. dahulu: "Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui.”

B. Sikap Ikhwanul Muslimin terhadap Organisasi Islam Lainnya

USTADZ al-Banna rahimahullah mengatakan: "Sikap kita terhadap berbagai organisasi Islam manapun, berdiri di atas landasan cinta dan persaudaraan, ta'awun dan loyal.

"Kami mencintainya dan bekerja sama dengannya. Kami berusaha mendekatkan berbagai pendapat, sepakat di atas perbedaan pemikiran hingga kebenaran dapat menang di bawah naungan sikap saling ta'awun dan cinta.

"Perbedaan pendapat dalam fiqih, juga perselisihan madzhab tidak memisahkan antara kami dan mereka. Sesungguhnya agama Allah itu mudah. Dan tidak ada yang terlalu memperberat masalah agama kecuali ia akan dikalahkan olehnya.

"Allah swt. telah menunjukkan kami satu khittah ideal agar kami memenangkan kebenaran secara lembut, simpatik, dan diterima oleh akal. Kami yakin bahwa kelak akan datang suatu masa, di mana semua nama, julukan, kelompok, perbedaan-perbedaan teoritis, seluruhnya diganti oleh kesatuan amal yang menghimpun semua barisan pasukan Muhammad. Semuanya adalah saudara sesama muslim, yang berjuang demi agama, dan berjihad di jalan Allah.

Ikhwanul Muslimin mengetahui bahwa menghimpun seluruh manusia dalam masalah far'iyat adalah tuntutan mustahil. Bahkan berlawanan dengan tabi'at din. Sesungguhnya Allah menginginkan agama ini kekal dan langgeng di setiap zaman. Masalah ini adalah teramat mudah bagi Allah.

Karena itu, Ikhwan mentolerir mereka yang berbeda pendapat dalam masalah far'iyat. Memandang bahwa perselisihan selamanya tidak akan menjadi penghalang keterikatan hati, saling cinta dan ta'awun di atas kebaikan. Agar mereka seluruhnya dapat terhimpun dalam makna Islam yang luas dengan batas-batasnya yang paling utama.dan pa1ing luas.

Para sahabat Rasulullah saw. berselisih dalam hal fatwa. Tapi apakah hal itu memunculkan perpecahan hati di antara mereka? Apakah persatuan mereka terobek-robek oleh perselisihan?

Tidak sama sekali. Contoh terdekat dalam masalah ini adalah hadits shalat Ashar di Bani Quraizah. Sekiranya mereka telah berselisih pendapat, padahal mereka manusia yang paling dekat dengan masa kenabian, paling paham terhadap seluk beluk hukum, mengapa kita saling bermusuhan karena perbedaan pendapat?

Sekiranya para imam madzhab, mereka manusia yang paling tahu dengan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, berbeda pendapat, dan berdiskusi satu sama lain, dan tetap pada jalinan ukhuwah mengapa kita tidak mampu bersikap seperti mereka?

Sekiranya perselisihan telah terjadi dalam masalah-masalah far'iyat yang paling terkenal, seperti adzan yang dikumandangkan lima kali dalam satu hari, sebagaimana diriwayatkan dalam nash dan atsar, apalagi dalam masalah yang lebih rumit, yang rujukannya adalah pendapat dan istimbath?

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)
Baca Selengkapnya...

Ikhwan, Jihad, Politik, dan Partai

Ikhwan dan Jihad

Ikhwan memandang bahwa jihad adalah kemestian dalam da 'wah. Ikhwan meletakkan poin jihad pada rukun keempat dari arkan bai'at.

Berkata Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah: Jihad merupakan kewajiban yang terus berlaku hingga hari kiamat. lnilah yang dimaksud dalam sabda Rasulullah saw.: "Barang siapa yang meninggal dia belum berjihad, serta belum berniat untuk berjihad, maka ia mati secara j ahiliyah.”

Jihad paling rendah adalah pengingkaran hati, dan yang paling tinggi berperang di jalan Allah. Di antara keduanya adalah jihad dengan lisan, pena, tangan, dan ucapan yang hak di hadapan penguasa durjana.

Da'wah tidak dapat hidup kecuali dengan jihad fi sabilillah dan harga mahal yang harus dipersembahkan untuk mendukungnya. Niscaya pahala besar akan diberikan kepada para aktivis da'wah.

"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang se'benar- benarnya...” (QS. al-Hajj:78)

Sebab itu, syi’ar yang selalu dikumandangkan adalah “al-jihadu sabiluna jihad adalah jalan kami."

Prinsip jihad Ikhwan tidak hanya dalam bentuk ceramah, syi’ar, dan makalah yang membicarakannya, tapi teraktualisasi secara riil ketika di Palestina terbuka peluang untuk berperang.

Peperangan tersebut mencatat berbagai strategi dan pengalaman perang yang dilakukan Ikhwanul Muslimin, yang telah tertulis dalam berjilid-jilid buku. Hendaknya jilid-jilid buku yang mencatat peristiwa ini dibaca oleh setiap muslim, untuk memberi pengaruh terhadap ruh dan kekuatan terhadap mereka. Agar mereka dapat meresapi makna izzah dan rasa bangga terhadap intima (penisbatan) mereka kepada ummat Islam.

Tapi sayangnya, buku-buku itu tidak terlalu mendapat perhatian dari ummat Islam. Berlainan sekali dengan sikap musuh-musuh kita yang justru mengkaji dan mempelajari seluruh isi buku-buku tersebut secara detail.

Cukuplah disini kita mengingat bagaimana spontanitas dan sambutan besar para Ikhwan dari seluruh penjuru dunia, saat Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah membuka kesempatan bagi mereka untuk bergabung dengan pasukan sukarelawan jihad di Palestina.

Salah satu syarat yang beliau tetapkan bagi calon mujahidin adalah ridha kedua orang tua mereka untuk turut dalam jihad.

Ikhwan dan Politik

Masalah ini telah memunculkan reaksi banyak pihak. Di antara mereka ada yang curiga, memunculkan gelar negatif, dan melontarkan tuduhan.

Terkait dengan masalah ini, ustadz Hasan al-Banna rahimahullah mengatakan:

"Wahai ummat Islam, sesungguhnya kami menyeru kalian, dengan al-Qur'an dan sunnah di tangan kami, amal para salafushalih menjadi qudwah kami. Kami menyeru kalian kepada Islam, kepada ajaran-ajaran Islam, hukum-hukum Islam, hidayah Islam. Bila kalian menganggap hal ini sebagai sikap yang berbau politik, maka itulah politik kami.

"Bila orang-orang yang menyeru kalian pada prinsip-prinsip ini disebut kaum politikus, berarti al-hamdulillah mungkin kamilah orang-orang yang banyak berkecimpung dalam politik. Sebutlah apa saja tentang sikap ini, sebutan-sebutan itu tidak berpengaruh negatif bagi kami hingga jelas apa makna sebutan itu dan tersingkap tujuannya."

"Wahai ummat Islam, berbagai sebutan dan nama tersebut hendaknya tidak menghalangi kalian dari hakikat, tujuan dan mutiara. Sesungguhnya yang dikehendaki Islam dalam politiknya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Itulah politik kami yang tidak ada gantinya. Karena itu, berpolitiklah, dan bawa ghirah kalian di atasnya. Kemuliaan ukhrawi menanti kalian."

"Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) al-Qur'an setelah beberapa waktu lagi." (QS. Shaad: 88)

Tentang Politik Kepartaian

Ustadz al-Banna rahimahullah mengatakan: "Adapun yang menyebut kami sebagai partai politik, maka kami tidak mendukung satu partai dan menyaingi selainnya. Kami tidak akan berubah haluan menjadi seperti itu dan tidak seorangpun yang dapat merubah atau merancukan prinsip kami dalam hal tersebut.

Yang dimaksud bahwa kami politikus, adalah kami menumpahkan perhatian terhadap kondisi ummat kami. Kami meyakini bahwa kekuatan secara legislatif merupakan bagian dari ajaran Islam yang sesuai dengan hukum-hukumnya.

Kebebasan politik adalah salah satu rukun dan kewajiban dalam Islam. Kami berusaha keras untuk dapat mewujudkan kebebasan dan meluruskan perangkat legislatif. Kami yakin ini bukan hal baru, tapi telah dikenal oleh setiap muslim yang mempelajari agama Islam secara benar.

Kami tidak memiliki persepsi tentang da'wah dan eksistensi kami kecuali demi mewujudkan sasaran itu. Dan kami tidak akan keluar sedikitpun dari da'wah kepada Islam. Islam tidak mencukupkan seorang muslim sebatas memberi nasihat dan petunjuk, tapi hingga dalam tahap perjuangan dan jihad.

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut: 69)

Islam adalah agama persatuan dalam segala hal. Islam adalah agama kelapangan hati, kebersihan jiwa, persaudaraan hakiki, ta'awun yang bersih antara manusia seluruhnya, terlebih dengan sesama ummat dan bangsa yang satu. Islam tidak menghendaki dan membenci sistem kepartaian.

Al-Qur'an mengatakan: "Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah bercerai berai." (QS. Ali Imran: 103)

Rasulullah saw. bersabda: "Maukah kalian aku tunjukkan dengan amal yang lebih utama daripada shalat dan puasa?”

Mereka mengatakan: “Tentu saja ya Rasulullah.” Rasul bersabda: “Memperbaikl hubungan dengan sesama, sebab sesungguhnya kerusakan hubungan dalam hal ini adalah pencukur. Aku tidak mengatakan mencukur rambut, tapi mencukur agama.”

Di sini tentu patut disebutkan perbedaan antara sistem kepartaian -yang selalu mengangkat syi'ar perbedaan, pembagian kelompok dalam hal pendapat, dan orientasi- dengan kebebasan pendapat yang dibolehkan dan diperintahkan dalam Islam. Juga sikap menyaring permasalahan, pembahasan berbagai perkara dan perbedaan terhadap apa yang disodorkan guna menegakkan al-haq.

Sehingga bila al-haq telah jelas, ia akan menurunkan hikmah kepada seluruh masyarakat. Sama saja apakah dalam perwujudannya mengikut kepada mayoritas atau kesepakatan umum.

Dalam berbicara soal politik, patut pula ditegaskan bahwa kekuasaan bukan menjadi sasaran Ikhwan. Tujuan mereka adalah untuk mewujudkan sistem Islami. Kapanpun sistem ini wujud, dan siapapun orang yang mewujudkannya, Ikhwan siap menjadi prajurit dan pendukungnya.

Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah mengatakan: "Ikhwan tak bermaksud merebut kekuasaan, bila di antara ummat terdapat orang yang siap memikul beban dan melakukan amanah ini, serta menerapkan sistem yang Islami dan Qur'ani. Maka Ikhwan siap menjadi prajurit, pendukung dan penolongnya."

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)
Baca Selengkapnya...

Template by - Abu Syamil