Showing posts with label Partai. Show all posts
Showing posts with label Partai. Show all posts

Monday, October 19, 2009

Hasan Al-Banna dan Partai Politik

Sikap Hasan Al-Banna terhadap Partai-Partai Politik di Mesir

Imam Hasan Al-Banna meyakini bahwa keberadaan partai-partai politik Mesir di masanya, terbukti telah memecah belah persatuan bangsa dan mengklasifikasikannya dalam beberapa kelompok tertentu. Umumnya partai-partai ini bekerja demi kepentingan individu dan golongan serta motif-motif materi. Jarang sekali di antara partai-partai tersebut yang memiliki program jelas dalam upaya menciptakan atmosfir kemerdekaan dan reformasi. Atas dasar ini, dalam berbagai forum Imam Hasan Al-Banna menuntut penyelesaian masalah tersebut, bahkan kalau perlu membubarkan partai-partai itu, kemudian meleburnya dalam satu lembaga nasional yang bekerja demi kepentingan bangsa yang dijalankan sesuai dengan koridor Islam.

Penting juga disebutkan bahwasannya Imam Hasan Al-Banna terkenal sangat vokal menyuarakan aspirasinya terhadap partai-partai tersebut. Dalam sebuah forum dia berkata: “Saya ingin menyampaikan kepada sauadara-saudara kita para tokoh, aktifis dan kader partai-partai politik Mesir, bahwa mengeksploitasi Ikhwanul Muslimin dan dijadikan kendaraan politik demi merealisasikan ideology dan pemikiran yang berseberangan dengan Islam belum pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi. Tapi meskipun demikian, Ikhwanul Muslimin tidak memiliki dendam politik terhadap partai manapun. Dan dari lubuk hati yang paling dalam Ikhwanul Muslimin berkeyakinan bahwasannya reformasi Mesir tidak akan berjalan seperti harapan kita semua kecuali bila partai-partai politik tersebut melebur dan berkoalisi menjadi satu institusi bertaraf nasional yang bertanggung jawab untuk membawa Mesir menjadi bangsa yang berdaulat sesuai dengan tuntunan Al-Qur`an.

Dalam kesempatan ini saya sampaikan pula bahwa: “Ikhwanul Muslimin meyakini bahwa kemandulan rekonsiliasi antar partai dan hanya pembiusan, bukan sebagai solusi. Rekonsiliasi itu tidak berlangsung lama dan tidak jarang dalam kesempatan lain, perbedaan pandangan antar partai politik itu malah semakin meruncing serta kembali sebagaimana sebelum rekonsiliasi. Sedangkan satu-satunya obat yang mujarab ialah partai-partai politik tersebut mengundurkan diri secara terhormat –terima ksih banyat ata apa yang telah mereka kerjakan- dan menyerahkan tampuk kekuasaan pada generasi sesudah mereka karena zaman mereka sudah berakhir, sebagaimana ungkapan pepatah: “Patah tumbuh hilang berganti”.

Sikap Islam terhadap Penjajah Barat

Seorang yang pernah membaca risalah Imam Hasan Al-Banna akan menemukan secara gamblang, sikap Islam atau pandangan hukum syariat Islam terhadap negara-negara Barat yang kerapkali melakukan agresi dan invasi terhadap negara-negara Islam yang lemah. Lalu Beliau mencontohkan beberapa negara imperealis Barat seperti: Inggris Raya, Perancis, Italia dan sebagainya.

Setelah Beliau menceritakan kekejaman dan kejahatan bangsa-bangsa Barat terhadap umat Islam di negeri mereka sendiri, kemudian Beliau menegaskan bahwa negara Islam merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisah satu sama lain. Pernyataan perang terhadap satu negara Islam berarti memusuhi seluruh negara Islam, karena umat Islam punya kewajiban membela diri terhadap serangan bangsa-bangsa penjajah serta berjuang memerdekakan negara dari cengkeraman kaum penjajah.

Harapan Beliau tertuju pada para kader dakwah supaya menjelaskan kekejaman dan tindak kriminal berat yang dilakukan para penjajah Barat terhadap umat. Serta menanamkan pada umat pemahaman bahwa kemerdekaan umat Islam tidak boleh diusik dan dijajah bangsa lain, terlebih lagi pemahaman tentang kelayakan umat Islam memegang tampuk kekuasaan dunia dan pemahaman tentang kewajiban jihad dengan nyawa dan harta. Karena betapa kematian lebih berharga daripada kehidupan, yaitu kehidupan perbudakan yang diwarnai oleh kehinaan. Beliau juga mengingatkan akan janji Allah berupa kemenangan bagi mereka yang menjawab seruan jihad dengan penuh keikhlasan dengan mengutip firman Allah dalam Qur’an surah Al-Mujadilah 21:

(كَتَبَ اللهُ َلأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِيْ إِنَّ اللهَ قَوِيٌ عَزِيْزٌ) [المجادلة: 21]
Artinya: Allah telah menetapkan: "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang". Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.


Menyikapi Imperialisme Inggris terhadap Mesir

Sebagai ranah tempat lahirnya jamaah Ikhwanul Muslimin, Mesir punya keistimewaan tersendiri di mata Imam Hasan Al-Banna. Untuk itu Beliau sering membahas kondisi kritis yang melanda Mesir saat berada di bawah penjajahan Inggris yang memperbudak rakyat serta menguasai perekonomian, perindustrian, perdagangan, bisnis dan mengambil alih pengelolaan Terusan Suez, mengeruk sumber daya alam dan melarang rakyat Mesir mengelola sumber daya alam milik mereka sendiri.

Imam Hasan Al-Banna menguraikan bahwa solusi ampuh agar Mesir segera keluar dari cengkeraman penjajahan tersebut adalah membatalkan semua nota kesepahaman dan perjanjian antara pemerintahan Mesir dengan Inggris, melakukan inisiatif serangan terhadap penjajah Inggris yang masih bercokol di Mesir dan berupaya mengusir mereka dari tanah Mesir. Beliau berkata: “Jika dampak yang akan kita rasakan tidak jauh berbeda, lebih baik kita memilih opsi memproklamirkan perang terbuka dengan Inggris dan membatalkan semua bentuk perjanjian dan nota kesepahaman, Di samping kita juga harus menunjukkan sikap keras terhdap mereka layaknya bangsa padang pasir, bahkan kita mesti mengatur kehidupan ekonomi, sosial dan keseharian layaknya sebagai bangsa padang pasir yang bermental baja dengan menerapkan wajib militer terhadap setiap anak bangsa”.

Untuk itu, Imam Hasan Al-Banna terkenal sangat getol menuntut pemerintah Mesir agar menempuh metode tersebut serta Beliau mengecam sikap pemerintah yang terkesan masih ragu-ragu, lemah dan khawatir karena berpotensi akan menimbulkan pemberontakan rakyat Mesir.
Baca Selengkapnya...

Thursday, October 15, 2009

Ikhwan, Jihad, Politik, dan Partai

Ikhwan dan Jihad

Ikhwan memandang bahwa jihad adalah kemestian dalam da 'wah. Ikhwan meletakkan poin jihad pada rukun keempat dari arkan bai'at.

Berkata Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah: Jihad merupakan kewajiban yang terus berlaku hingga hari kiamat. lnilah yang dimaksud dalam sabda Rasulullah saw.: "Barang siapa yang meninggal dia belum berjihad, serta belum berniat untuk berjihad, maka ia mati secara j ahiliyah.”

Jihad paling rendah adalah pengingkaran hati, dan yang paling tinggi berperang di jalan Allah. Di antara keduanya adalah jihad dengan lisan, pena, tangan, dan ucapan yang hak di hadapan penguasa durjana.

Da'wah tidak dapat hidup kecuali dengan jihad fi sabilillah dan harga mahal yang harus dipersembahkan untuk mendukungnya. Niscaya pahala besar akan diberikan kepada para aktivis da'wah.

"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang se'benar- benarnya...” (QS. al-Hajj:78)

Sebab itu, syi’ar yang selalu dikumandangkan adalah “al-jihadu sabiluna jihad adalah jalan kami."

Prinsip jihad Ikhwan tidak hanya dalam bentuk ceramah, syi’ar, dan makalah yang membicarakannya, tapi teraktualisasi secara riil ketika di Palestina terbuka peluang untuk berperang.

Peperangan tersebut mencatat berbagai strategi dan pengalaman perang yang dilakukan Ikhwanul Muslimin, yang telah tertulis dalam berjilid-jilid buku. Hendaknya jilid-jilid buku yang mencatat peristiwa ini dibaca oleh setiap muslim, untuk memberi pengaruh terhadap ruh dan kekuatan terhadap mereka. Agar mereka dapat meresapi makna izzah dan rasa bangga terhadap intima (penisbatan) mereka kepada ummat Islam.

Tapi sayangnya, buku-buku itu tidak terlalu mendapat perhatian dari ummat Islam. Berlainan sekali dengan sikap musuh-musuh kita yang justru mengkaji dan mempelajari seluruh isi buku-buku tersebut secara detail.

Cukuplah disini kita mengingat bagaimana spontanitas dan sambutan besar para Ikhwan dari seluruh penjuru dunia, saat Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah membuka kesempatan bagi mereka untuk bergabung dengan pasukan sukarelawan jihad di Palestina.

Salah satu syarat yang beliau tetapkan bagi calon mujahidin adalah ridha kedua orang tua mereka untuk turut dalam jihad.

Ikhwan dan Politik

Masalah ini telah memunculkan reaksi banyak pihak. Di antara mereka ada yang curiga, memunculkan gelar negatif, dan melontarkan tuduhan.

Terkait dengan masalah ini, ustadz Hasan al-Banna rahimahullah mengatakan:

"Wahai ummat Islam, sesungguhnya kami menyeru kalian, dengan al-Qur'an dan sunnah di tangan kami, amal para salafushalih menjadi qudwah kami. Kami menyeru kalian kepada Islam, kepada ajaran-ajaran Islam, hukum-hukum Islam, hidayah Islam. Bila kalian menganggap hal ini sebagai sikap yang berbau politik, maka itulah politik kami.

"Bila orang-orang yang menyeru kalian pada prinsip-prinsip ini disebut kaum politikus, berarti al-hamdulillah mungkin kamilah orang-orang yang banyak berkecimpung dalam politik. Sebutlah apa saja tentang sikap ini, sebutan-sebutan itu tidak berpengaruh negatif bagi kami hingga jelas apa makna sebutan itu dan tersingkap tujuannya."

"Wahai ummat Islam, berbagai sebutan dan nama tersebut hendaknya tidak menghalangi kalian dari hakikat, tujuan dan mutiara. Sesungguhnya yang dikehendaki Islam dalam politiknya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Itulah politik kami yang tidak ada gantinya. Karena itu, berpolitiklah, dan bawa ghirah kalian di atasnya. Kemuliaan ukhrawi menanti kalian."

"Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) al-Qur'an setelah beberapa waktu lagi." (QS. Shaad: 88)

Tentang Politik Kepartaian

Ustadz al-Banna rahimahullah mengatakan: "Adapun yang menyebut kami sebagai partai politik, maka kami tidak mendukung satu partai dan menyaingi selainnya. Kami tidak akan berubah haluan menjadi seperti itu dan tidak seorangpun yang dapat merubah atau merancukan prinsip kami dalam hal tersebut.

Yang dimaksud bahwa kami politikus, adalah kami menumpahkan perhatian terhadap kondisi ummat kami. Kami meyakini bahwa kekuatan secara legislatif merupakan bagian dari ajaran Islam yang sesuai dengan hukum-hukumnya.

Kebebasan politik adalah salah satu rukun dan kewajiban dalam Islam. Kami berusaha keras untuk dapat mewujudkan kebebasan dan meluruskan perangkat legislatif. Kami yakin ini bukan hal baru, tapi telah dikenal oleh setiap muslim yang mempelajari agama Islam secara benar.

Kami tidak memiliki persepsi tentang da'wah dan eksistensi kami kecuali demi mewujudkan sasaran itu. Dan kami tidak akan keluar sedikitpun dari da'wah kepada Islam. Islam tidak mencukupkan seorang muslim sebatas memberi nasihat dan petunjuk, tapi hingga dalam tahap perjuangan dan jihad.

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut: 69)

Islam adalah agama persatuan dalam segala hal. Islam adalah agama kelapangan hati, kebersihan jiwa, persaudaraan hakiki, ta'awun yang bersih antara manusia seluruhnya, terlebih dengan sesama ummat dan bangsa yang satu. Islam tidak menghendaki dan membenci sistem kepartaian.

Al-Qur'an mengatakan: "Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah bercerai berai." (QS. Ali Imran: 103)

Rasulullah saw. bersabda: "Maukah kalian aku tunjukkan dengan amal yang lebih utama daripada shalat dan puasa?”

Mereka mengatakan: “Tentu saja ya Rasulullah.” Rasul bersabda: “Memperbaikl hubungan dengan sesama, sebab sesungguhnya kerusakan hubungan dalam hal ini adalah pencukur. Aku tidak mengatakan mencukur rambut, tapi mencukur agama.”

Di sini tentu patut disebutkan perbedaan antara sistem kepartaian -yang selalu mengangkat syi'ar perbedaan, pembagian kelompok dalam hal pendapat, dan orientasi- dengan kebebasan pendapat yang dibolehkan dan diperintahkan dalam Islam. Juga sikap menyaring permasalahan, pembahasan berbagai perkara dan perbedaan terhadap apa yang disodorkan guna menegakkan al-haq.

Sehingga bila al-haq telah jelas, ia akan menurunkan hikmah kepada seluruh masyarakat. Sama saja apakah dalam perwujudannya mengikut kepada mayoritas atau kesepakatan umum.

Dalam berbicara soal politik, patut pula ditegaskan bahwa kekuasaan bukan menjadi sasaran Ikhwan. Tujuan mereka adalah untuk mewujudkan sistem Islami. Kapanpun sistem ini wujud, dan siapapun orang yang mewujudkannya, Ikhwan siap menjadi prajurit dan pendukungnya.

Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah mengatakan: "Ikhwan tak bermaksud merebut kekuasaan, bila di antara ummat terdapat orang yang siap memikul beban dan melakukan amanah ini, serta menerapkan sistem yang Islami dan Qur'ani. Maka Ikhwan siap menjadi prajurit, pendukung dan penolongnya."

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)
Baca Selengkapnya...

Template by - Abu Syamil