Sunday, November 8, 2009

Imam Al-Banna Menyeru Melakukan Boikot Ekonomi Atas Amerika Untuk Palestina


Minuman Coca Cola adalah haram… khususnya bagi ikhwanul Muslimin

Ustadz imam syahid Hasan Al-Banna, mursyid Am ikhwanul mulismin menyebarkan berita secara umum kepada seluruh kantor cabang ikhwanul Muslimin yang ada di Mesir, beliau menyampaikan bahwa “”Pemerintah Amerika telah memberikan sikap terhadap permasalahan Arab dan Palestina yang jauh dari kebenaran dan keadilan bahkan justru mendukung kezhaliman dan orang-orang yang melakukan kezhaliman.

Karena minuman coca cola adalah minuman yang berasal dari Amerika, maka menjadi kewajiban bagi kita dihadapan Allah, Negara, agama dan Arab untuk tidak membantu orang-orang yang mendukung Yahudi dalam melakukan penjajahan, permusuhan dan pembantaian terhadap umat Islam, karena hal tersebut tidak sesuai dengan agama dan perintah-perintahnya yang toleran dan mulia dan memerintahkan untuk memusuhi orang-orang yang melakukan permusuhan kepada Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman.

Karena itulah, saya mengajak kepada Ikhwanul Muslimin seluruhnya untuk menjadikan minuman coca cola sebagai minuman haram atas mereka, karena itu janganlah memasukkan minuman tersebut ke rumah-rumah dan kantor-kantor, serta tidak menjadi minuman yang disuguhkan kepada pengunjung atau tamu-tamu…

Ikhwanul muslimin wajib melakukan boikot terhadap minuman Amerika dan seluruh barang yang berasal dari Amerika, sementara bagi ikhwan yang menjual minuman tersebut maka harus mengembalikan kembali kepada produsennya, sehingga kita dapat memberikan sikap tegas kepada Amerika bahwa kita adalah umat yang memahami kewajibannya, dan sebagai umat yang tidak ingin membentangkan tangannya terbuka begitu saja serta tidak mau bekerja sama dengan musuh-musuhnya apalagi terhadap negara terang-terangan melakukan permusuhan kepada kita (umat Islam).

Demikianlah wasiat saya kepada kalian, dan inilah wasiat Allah dan wasiat Al-Qur’an.

Allah Akbar dan segala puji hanya milik Allah.

____________________________________

Sumber:

Turats imam Al-Banna, dinukil dari Koran Tanta. Edisi 838, tahun 23, tanggal 18 Sya’ban tahun 1367/26 Juni tahun 1948. (hal:7)

Baca Selengkapnya...

Saturday, November 7, 2009

Etika Timbal-balik Antara Pemimpin & Bawahan Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah yang Shahih

Oleh: Aba AbduLLAAH

Assalamu ‘alaykum,

Segala puji adalah hanya layak bagi ALLAH, kami memuji-NYA, meminta pertolongan kepada-NYA & meminta ampunan, dan kami berlindung dari keburukan hawa nafsu kami dan dari kejelekan amal-amal kami, barangsiapa diberi hidayah oleh ALLAH maka tiada yang dapat menyesatkannya & barangsiapa yang disesatkan ALLAH maka tiada yang dapat memberinya hidayah…

Dan kami bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali ALLAH, Yang Maha Esa & tiada sekutu bagi-NYA, dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah Nabi & rasul-NYA. Kamipun bersaksi sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabuLLAAH & sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi SAW, dan seburuk-buruk urusan adalah yang dibuat-buat, dan semua yang dibuat-buat itu adalah bid’ah & semua bid’ah adalah sesat & semua kesesatan adalah di neraka…

Ikhwah wa akhwat fiLLAAH a’anakumuLLAAHa jami’an,

Menyambut mulai masuknya sebagian du’at ke marhalah daulah & makin banyaknya ikhwah wa akhwat yang menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan (baik eksekutif maupun legislatif), dan semakin hari semakin banyak amanah kekuasaan yang diujikan oleh ALLAH SWT untuk dipegang oleh para du’at dari harakah ini, maka ada beberapa dhawabith kepemimpinan Islam yang merupakan ashalah da’wah kita, yang hendaknya selalu dijaga & diperhatikan..

Agar dijadikan sebagai Ma’alim Fi Thariq (Rambu-rambu dalam Perjalanan), demikian kata Sayyid Quthb -ja’alahuLLAAHu syahidan- atau sebagai Nurun ‘ala Darb (Cahaya dalam Perjalanan), demikian kata Syaikh Ibni Baaz -rahimahuLLAAH-; sehingga kita tidak menjadi ghurur (lupa diri), ataupun terjadi tamyi’ (pengenceran) terhadap nilai-nilai dakwah ini saat mengemban amanah memimpin ummat ini insya ALLAH, aamiin ya RABB…

Oleh sebab itu ana berusaha membuat tulisan ini untuk mencoba menjelaskan secara singkat Etika Kepemimpinan dalam Islam, serta Etika yang Saling Timbal-Balik, apa yang harus dilakukan & dipenuhi oleh seorang qiyadah (baik qiyadah dakwah maupun qiyadatul ummah), dan apa saja yang wajib dipenuhi oleh seorang jundiyyah (baik junudu dakwah maupun junudu daulah), sehingga mudah-mudahan kita selalu berada di dalam jalur yang benar & berhak mengharapkan ridha ALLAH & Jannah kelak, sebagai pemimpin ummat yang adil yang paling pertama akan diberi naungan oleh ALLAH SWT di yaumil Mahsyar kelak, aamiin ya RABB…

Wa ufawwidhu amrii ilALLAAH innaLLAAHa bashiirun bil ‘Ibaad,

Abi AbduLLAAH

AL-ADAAB AL-MUTABAADILAH BAYNA AL-QIYAADAH WAL JUNDIYYAH FII DHAU’IL KITAABI WAS SUNNAH

(Etika Timbal-balik Antara Pemimpin & Bawahan Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah yang Shahih)

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya di Hari Kiamat kelak.[1]”

1. KEPEMIMPINAN DALAM LUGHAH:

a. Imam: Asal katanya ‘Amama’ karena ia: Berada di depan (amam), mengasuh (ummah), menyempurnakan (atammah), menenangkan (yanamma). Berkata Imam Al-Jauhary : Imam adalah orang yang memberi petunjuk (yuqtada)[2].

b. Amir: Yang memberi perintah (seperti dalam ayat : Amarna mutrafiha), juga sesuatu yang mengagumkan (seperti dalam ayat : laqad ji’ta syai’an imra)[3].

c. Waliyy: Dekat, akrab (Jalasa mimma yali=duduk dengan orang didekatnya); tempat memberikan loyalitas (ALLAHumma man waliya min amri ummati)[4].

d. Qadah/qiyadah: Penggiring ternak, orang yang memberi petunjuk, pemandu atau penunjuk jalan[5].

e. Khalifah: Para fuqaha’ mendefinisikannya sbg suatu kepemimpinan umum yg mencakup urusan keduniaan & keagamaan, sbgm yg dilakukan oleh Nabi SAW yg wajib dipatuhi oleh seluruh ummat Islam. Menurut Imam Al-Mawardi sama dengan al-Imamah, karena inilah asal dari kepemimpinan di masa Nabi SAW, yaitu untuk memimpin agama & keduniaan[6]. Menurut Ibnu Khaldun yaitu penanggungjawab umum dimana seluruh urusan kemaslahatan syari’at baik ukhrawiyyah maupun dunyawiyyah kembali kepadanya[7].

2. KEPEMIMPINAN DALAM AL-QUR’AN:

a. Memiliki Loyalitas yang Mutlak: “Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi Pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.[8]”

b. Kuat & Amanah: “Berkata salah seorang diantara anaknya (Syu’aib) : Wahai ayahanda, jadikanlah ia sebagai pegawai, karena sebaik-baik pegawai adalah yang kuat lagi bisa dipercaya.[9]”

c. Sehat & Berilmu: “…Sesungguhnya ALLAH SWT telah memilihnya (Thalut) sebagai rajamu, karena ia memiliki kekuatan fisik dan berilmu. Sesungguhnya ALLAH memberikan kekuasaan-NYA kepada siapa yang dikehendaki-NYA, sesungguhnya IA Maha Luas (ilmu-NYA) lagi Maha Mengetahui.[10]”

d. Merupakan Ujian ALLAH SWT: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: Sesungguhnya AKU akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: (Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim.[11]“

e. Merupakan Tanda Ketaqwaan: “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.[12]”

3. KEPEMIMPINAN DALAM AS-SUNNAH:

a. Jujur dan Tidak Menipu: Nabi SAW melaknat pemimpin yang dipercaya untuk mengurus urusan ummat lalu ia malah menipu atau menyengsarakan mereka, sebagaimana dalam sabdanya SAW : “Ya ALLAH, siapa saja yang diberikan kekuasaan untuk mengurusi ummatku lalu ia menyengsarakan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang diberi kekuasaan lalu ia mempermudah mereka, maka mudahkanlah ia.[13]” Dan Islam menyatakan bahwa pemimpin yang tidak memperhatikan kebutuhan, kedukaan dan kemiskinan ummat maka ALLAH SWT tidak akan memperhatikan kebutuhan, kedukaan dan kemiskinannya pada Hari Kiamat kelak[14].

b. Adil & Amanah: Islam menempatkan pemimpin yang adil dan amanah dalam derajat manusia yang tertinggi, yang memperoleh berbagai penghargaan dan kehormatan. Diantaranya ia termasuk kelompok pertama yang dinaungi oleh ALLAH SWT diantara 7 kelompok utama yang dinaungi-NYA pada Hari Kiamat kelak[15]; Iapun akan berada di atas mimbar dari cahaya nanti di Hari Kiamat[16]; Dan pemimpin yang demikianlah yang akan senantiasa dicintai dan didoakan oleh rakyatnya karena kebijaksanaannya memimpin rakyatnya[17]; Sehingga dalam salah satu haditsnya, nabi SAW sampai menyatakan bahwa pemimpin yang demikian termasuk 3- golongan manusia yang paling utama dan paling berhak masuk Jannah, disamping orang yang lembut dan penyayang pada keluarganya dan orang miskin yang menjaga dirinya dari meminta-minta[18].

c. Tidak Wajib Taat pada Pemimpin yang Memerintahkan Maksiat: Oleh karena itu di dalam Islam pemimpin yang memiliki sifat-sifat sebagaimana disebutkan diataslah yang berhak dan wajib untuk ditaati (Tafsir QS An-Nisaa’, 4:59), syarat taat pada pemimpin dalam ayat tersebut adalah mu’allaq/tergantung pada apakah ia taat pada ALLAH SWT dan Rasul SAW atau tidak, dimana cirinya adalah ia senantiasa kembali kepada ALLAH SWT dan rasul-NYA SAW jika terjadi perbedaan pendapat ataupun perselisihan) dan bukan pemimpin yang memiliki sifat sebaliknya, jika ia memiliki sifat sebaliknya maka tidak wajib sama sekali untuk didengar dan ditaati[19].

d. Tidak ada Batasan Ras/Kebangsaan: Tentang siapa pemimpin itu Islam tidak membatasi ia dari ras dan kelompok apapun, asal mengikuti dan menegakkan syariat maka wajib ditaati, sekalipun ia adalah seorang yang berkulit sangat hitam yang kepalanya bagaikan kismis (saking hitamnya)[20]. Kendatipun demikian, afdhal memilih pemimpin disesuaikan dengan suku/kebangsaan rakyat yg dipimpinnya[21].

e. Pemimpin Wajib Memilih Bawahan yang Jujur: Seorang pemimpin yang adil tentunya akan memilih pembantu-pembantu, wakil-wakil dan menteri-menteri yang adil pula. Tidak mungkin seorang yang baik (tanpa keterpaksaan) akan mengangkat atau memilih wakil dan menteri yang merupakan para musuh ALLAH SWT, seperti para koruptor, kaum oportunis apalagi para kolaborator asing[22]. Benarlah pernyataan pemimpin abadi kita nabi Muhammad SAW : “Jika ALLAH SWT menghendaki kebaikan kepada seorang penguasa, maka IA akan memberikan untuknya menteri-menteri yang jujur, (yaitu) yang jika ia khilaf maka selalu mengingatkan dan jika ia ingat maka selalu dibantu/didorong. Dan jika ALLAH SWT menghendaki keburukan kepada seorang penguasa, maka IA akan memberikan untuknya para menteri yang jahat. Jika penguasa itu lupa, maka tidak diingatkan dan jika ia ingat maka tidak didorong/dibantu.[23]”

4. KEWAJIBAN TAAT PADA PEMIMPIN YANG ISLAMI:

a. Wajib Taat pada Pemimpin yang Islami: Bersabda Nabi SAW : “Barangsiapa yg taat kepadaku maka ia telah taat kepada ALLAH, dan barangsiapa yg tidak taat kepadaku maka berarti tidak taat kepada ALLAH. Barangsiapa yg taat kepada Pimpinan (yg nyunnah) maka berarti ia telah taat kepadaku, dan barangsiapa yg tidak taat kepada pimpinan (yg nyunnah) maka berarti ia telah tidak taat kepadaku.[24]”

b. Ketaatan tersebut tetap Berlaku Walaupun Di Satu Sisi Seolah Mengorbankan Kepentingan sebagian Rakyatnya: Dari Abu Hunaidah, Wa’il bin Hajar ra berkata : Bertanya Salmah bin Yazid al-Ju’fiy pd Rasulullah SAW : Wahai Nabi Allah … bgm pendptmu jk ada seorg pemimpin yg selalu meminta ketaatan dari kami tapi tidak memberikan hak kami, apa yg anda perintahkan pd kami ? Maka Rasulullah SAW memalingkan wajahnya, mk Salmah bertanya lagi yg kedua kali, maka jawab Rasulullah SAW : Dengarlah oleh kalian semua dan taatilah ia, karena bagi kalian pahala ketaatan kalian dan baginya dosa ketidakadilannya.[25]”

c. Dosanya Memisahkan Diri dari Ketaatan pada Pimpinan yang Islami: Bersabda Nabi SAW : “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan, maka ia kelak akan bertemu dengan ALLAH SWT tanpa dapat mengemukakan argumentasi apapun.[26]” Dalam hadits lainnya: “Barangsiapa meninggalkan ketaatan lalu memisahkan dirinya dari Jama’ah lalu ia meninggal maka ia mati Jahiliyyah.[27]” Perhatikan baik-baik dalam hadits tersebut disebutkan Al-Jama’ah, yg maksudnya Jama’ah Islam, bukan sembarang pemerintahan, (lihat pula judul bab pada takhrij hadits tersebut di dalam Shahih Muslim).

5. BENTUK-BENTUK KETAATAN:

a. Mendengarkan dan memahami perintah dengan sebaik-baiknya, memohon penjelasan sampai jelas kemudian melaksanakannya dengan tidak menunda-nunda dan dengan sebaik-sebaiknya. Lihat kisah Ali bin Abi Thalib ra dalam perang Khaibar dalam Shahih Bukhari[28].

b. Melipatgandakan kesabaran saat melaksanakan perintah tersebut, ikhlas dan tidak menguranginya atau menambahinya sedikitpun. Lihat kisah Jundub bin Makits al-Juhni saat dalam Sariyah[29].

c. Melaksanakan dengan segera perintah tersebut, walaupun tidak sesuai dengan pendapatnya atau berbeda dengan keinginannya, lihat kisah Hudzaifah bin Yaman saat perang Ahzab[30].

d. Saling memberi dan menerima nasihat. Lihat kisah Umar bin Khattab ra saat perjanjian Hudhaibiyyah dengan Nabi SAW & Abubakar ra[31].

e. Meminta izin dalam setiap urusan pentingnya atau sebelum mengambil keputusannya[32].

WaLLAAHu a’lamu bish Shawaab…

Catatan Kaki:

[1] HR Bukhari, XXII/43 no. 6605; Muslim, IX/352 no. 3408

[2] Lisanul Arab, Ibnu Manzhur, XII/22

[3] Lisanul Arab, III/370

[4] Ash-Shihah fil Lughah, Al-Jauhary, I/22

[5] Al-Qamus Al-Fiqhi, I/388

[6] Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Al-Mawardi, hal.3

[7] Al-Muqaddimmah, Ibnu Khaldun, hal.180

[8] QS Al-Maidah, 5/55-56

[9] QS Al-Qashshash, 28/26

[10] QS Al-Baqarah, 2/247

[11] QS Al-Baqarah, 2/124

[12] QS Al-Furqan, 25/74

[13] HR Muslim no. 1828

[14] HR Abu Daud no. 2948; Tirmidzi no. 1332; al-Hakim IV/93-94; menurut Imam al-Mundziri sanad-nya shahih karena ada syahid dari hadits Muadz ra yang diriwayatkan oleh Ahmad V/238-239.

[15] HR Bukhari II/119 dan 124; Muslim no. 1031

[16] HR Muslim no. 1827; Nasa’i VIII/221; Ahmad II/160

[17] HR Muslim no. 1855

[18] HR Muslim no. 2865

[19] Bukhari XIII/109; Muslim no. 1839; Abu Daud no. 2626; Tirmidzi no. 1707; Nasa’i VII/160

[20] HR Bukhari XIII/108

[21] HR Bukhari, XXII/44, bab Al-Umara’u min Quraisy; Muslim, IX/333-338

[22] QS Al-Mumtahanah, 60:1

[23] HR Abu Daud no. 2932, dengan sanad yang baik menurut syarat Muslim; juga Nasa’i VII/159 dengan sanad yang shahih

[24] HR Bukhari, kitab al-Jihad, bab Yuqatilu min Wara’il Imam, juz-IV, hal.61

[25] HR Muslim, bab Fi Tha’atil Umara’ wa in Mana’u, IX/384

[26] HR Muslim, IX/393

[27] HR Muslim, kitab al-Imarah, bab Wujub Mulazamatin Jama’atil Muslimin ‘Inda Zhuhuril Fitan, juz-III hal.1476

[28] Fathul Bari’ , Ibnu Hajar, IV/57,58; V/22,23,171

[29] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, IV/222,223

[30] Shahih Muslim, III/1414, 1415; Musnad Ahmad, V/392,393

[31] Sirah Nabawiyyah, Ibnu Katsir , III/218, 319

[32] QS An-Nur, 24/62

Baca Selengkapnya...

Mengkritik Ikhwan; Antara Mubah (boleh), Mutah (Peluang) dan Munakh (Suasana)

Oleh: DR. Anwar Hamid

Kritik, dalam keadaan apa pun, berguna, termasuk kalaupun tendensius. Ia menjadi pertanda sehat, termasuk kalaupun tidak obyektif. Pernyataan ini bukan ajakan untuk tidak obyektif dalam mengkritik, atau untuk memberikan justifikasi kepada orang-orang yang mempunyai tendensi, namun, pernyataan ini adalah seruan untuk menerima kritik sebagai prinsip dan tidak memerangi serta menyerangnya saat terjadi cacat dalam cara mengkritik atau aib dalam pelaksanaannya atau karena di salah gunakan oleh orang yang tendensius

Kemestian Kritik

Kritik merupakan ciri masyarakat, apa pun budayanya. Dan wanita-wanita di kota berkata: “Istri Al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya)! Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam …” (Yusuf: 30). Ciri ini lalu ter transformasi ke masyarakat yang mapan dan keluarga-keluarga besar di desa-desa dan kampung-kampung, terwujud dalam bentuk kritik terhadap perilaku dan tindakan yang tidak lurus, dan terkadang ada intervensi tendensi, hawa nafsu, dendam dan dengki yang merubah kritik menjadi isu tendensius. “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat … (An-Nur: 19). “…sedang di antara kamu ada orang-orang yang menjadi telinga bagi mereka… (At-Taubah: 47). Tidak diragukan lagi bahwa kritik ini dengan seluruh kebaikan dan keburukannya:

- Mendorong manusia untuk berhati-hati dalam bertindak.

- Mencegah mereka untuk meninggalkan banyak perilaku karena takut terkena kritikan.

Terkadang kritik dilakukan terhadap segala hal yang baru dalam masyarakat, meskipun hal yang baru itu bermanfaat. Termasuk dalam hal ini adalah penentangan kepada para rasul dan risalah yang dibawanya. “Dan mereka berkata: “Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?…” (Al-Furqan: 7). Dan mereka berkata: “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?”. (Az-Zukhruf: 31). Termasuk dalam hal ini juga adalah penentangan terhadap para pembawa perubahan dan manhaj-manhaj mereka. Mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka”. (Az-Zukhruf: 22). Mereka mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri”. (Al-A’raf: 82). (An-Naml: 56)

Demikianlah setiap pemilik manhaj perbaikan (reformasi), termasuk di antara mereka adalah Al-Ikhwan dan seluruh gerakan Islam dan pembaharuan.

Jadi, kritik dan penentangan kepada mereka adalah kemestian, tidak bisa tidak dan tidak dapat dipisahkan darinya.

Dengan adanya kritik, berbagai pemikiran menjadi berbeda. Serangan kelompok tendensius terhadap sebuah fikrah (gagasan) adalah bukti dari keabsahan dan ke-istiqamah-an fikrah ini. Betapa banyak gerakan Islam secara umum, dan Al-Ikhwan secara khusus mengambil pelajaran dari adanya “serangan” dan kritikan kaum tendensius itu, sebab, “jika Allah swt. menghendaki sebuah keutamaan yang tersembunyi agar tersebar luas, maka Dia bukakan peluang untuk keutamaan itu mulut dari orang-orang yang iri”.

Karena kritikan, pergerakan menjadi naik, maju, itqan dan memperbaiki produknya, sebagaimana kata seorang penyair:

Mereka mencelaku, maka aku mengetahui kehinaan ku #

Mereka menyaingi ku, maka aku bersungguh-sungguh dalam meraih nilai-nilai tinggi

Kritik yang diperbolehkan

Tidak diragukan dan tidak diperdebatkan lagi bahwa kemestian kritik tidak berarti diperbolehkan secara mutlak.

Kritik yang diperbolehkan adalah kritik membangun yang berkenaan dengan hal-hal umum dan bukan hal-hal khusus (privacy), policy umum dan bukan lembaga atau perseorangan.

Dan inilah manhaj Islam yang melarang untuk mencari-cari aurat (aib, kesalahan), sebab, siapa saja yang mencari-cari aurat orang lain, niscaya Allah swt. akan mencari-cari auratnya, dan hampir saja membuka kedoknya.

Dan inilah yang oleh Imam Al-Banna dijadikan syiar umum dan satu dari sekian banyak prinsip-prinsip Al-Ikhwan saat beliau melarang “melukai” lembaga dan perseorangan. Dan sikap beliau saat mengkritik buku DR. Toha Husain adalah bukti paling kuat dalam hal ini.

Dan inilah yang didorong oleh Al-Qur’an: “dan bantahlah mereka dengan cara yang baik …” (An-Nahl: 125)

Al-Qur’an juga mendorong kita untuk bertutur kata yang terbaik. Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka …”. (Al-Isra’: 53)

Al-Qur’an melarang berkata-kata kotor, sebab Rasulullah saw. bersabda: “Bukan seorang muslim orang yang suka “menusuk”, melaknat, berkata kotor dan hina”.

Mengkritik perilaku perseorangan atau kelompok diperbolehkan dengan tanpa memberi isyarat kepada nama atau posisi, kecuali jika ia adalah publik figur yang memanfaatkan posisinya untuk berbuat kotor dan kerusakan. Ia lakukan perbuatannya itu secara terbuka di hadapan publik dan berbangga dengannya. Saat inilah tepat padanya hadits Nabi saw.: “Bongkar lah orang yang fajir itu sehingga dijauhi oleh manusia dan tidak diikutinya …”. (hadits daif). Padahal, dalam Islam, pada asalnya, tentang masalah ini adalah kewajiban untuk menutupi aib dan aurat, dan Allah swt. itu Zat yang Maha menutupi, memberi tempo, menutupi dan tidak membuka aib. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang telah Engkau tutupi, dan tutupi lah aib-aib yang tidak diketahui oleh manusia dan Engkau ketahui”

Peluang Kritik

Pada asalnya –sebagaimana kami nyatakan di depan- adalah kewajiban kita untuk menutup dan menahan mulut (untuk tidak berbicara). “Tahanlah mulutmu, hendaklah rumahmu menampung mu, dan tangisi lah kesalahanmu” (hadits shahih)

Dan tidak semua yang diketahui diucapkan. Juga, setiap posisi ada perkataan khas untuknya.

Di sini tampak jelas batasan dan adab amar ma’ruf nahi munkar.

Sesuatu yang diucapkan oleh seorang ayah kepada seorang anak berbeda dengan sesuatu yang diucapkan anak kepada bapak. Demikian halnya ucapan seorang anak yang lebih muda kepada yang lebih tua. Juga ucapan seorang pegawai kepada atasannya berbeda dengan ucapan seorang pegawai kepada sesamanya, demikianlah seterusnya.

Pada suatu hari, ada seorang ulama berkata kasar kepada Al-Hajjaj (40 – 95 H = 660 – 714 M) saat berbicara dan memberi nasihat kepadanya. Maka Al-Hajjaj memberi pelajaran kepadanya dengan pelajaran yang tidak akan terlupakan. Ia berkata: “Wahai sang alim, sungguh Allah swt. telah mengutus seseorang yang lebih bertaqwa daripadamu kepada orang yang lebih jahat dariku, Allah swt. telah mengutus nabi Musa as. kepada Firaun, lalu Allah swt. berfirman kepada nabi Musa: “Katakan kepadanya [Firaun] perkataan yang lembut, supaya dia ingat dan takut”. (Thaha: 44)

Tidak dibenarkan bagi siapa saja yang mempunyai mimbar (forum, majelis, dan sebagainya) untuk mengatakan apa saja yang ia kehendaki, sebab, sebuah kosa kata adalah amanah dan tanggung jawab, dan tidak ada seorang penulis pun kecuali akan binasa, sementara apa yang ditorehkan oleh kedua tangannya akan tetap ada sepanjang kehidupan, oleh karena itu, janganlah engkau menuliskan dengan kedua tanganmu selain tulisan yang kamu akan senang melihatnya pada hari kiamat.

Iklim atau Suasana Kritik

Seorang muslim hendaklah awas terhadap zaman dan tempatnya berada, memahami dengan baik apa yang terjadi di sekelilingnya, supaya kalimat-kalimatnya tidak disalahgunakan, sebagaimana ucapan sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib kepada kaum Khawarij: “Kalimat kebenaran tetapi yang dimaksud darinya adalah kebatilan”.

Rasulullah saw. pernah diserang harga diri dan kehormatannya, dan Allah swt. membongkar hakikat dari serangan itu, membuka kartu sang pembuat isu dan sang pemilik tendensi, namun pembukaan hakikat itu terjadi setelah berlalu masa 19 atau 20 tahun. Artinya setelah hukum dan syariat sempurna. Hanya saja, iklim atau suasana umum yang penuh dengan orang-orang munafik, para pemilik tendensi khusus, penurut hawa nafsu dan mereka-mereka yang berjiwa lemah dari kalangan kaum muslimin belum tepat. “dan di antara kamu ada telinga-telinga bagi mereka” (At-Taubah: 47). Maka beliau saw. bersabda dengan sabda yang sangat populer: “Adakah kamu menginginkan agar sesama orang Arab saling berkata: ‘Muhammad membunuh sahabatnya’”!

Hal ini terjadi saat beliau diminta untuk menegakkan hukuman atas pembuat dan pengobral isu.

Pelajaran yang dapat diambil dari sini adalah menjadi kewajiban bagi semua orang yang memiliki kemampuan menulis dan menyampaikan pendapat untuk memahami bahwa

1. Hendaklah ia tidak berhenti dari mengkritik, sebab kritik itu kehidupan bagi fikrah (gagasan), ke-istiqamah an manhaj, dengannya yang buruk menjadi jelas di antara yang baik, berbagai keutamaan menjadi tersebar, dan berbagai keburukan dapat dikenali

2. Namun, jangan menyerang pribadi atau lembaga, juga jangan membuka hal-hal privacy terlebih lagi melanggarnya

3. Hendaklah berupaya semaksimal mungkin untuk komitmen dengan batasan, adab dan hal-hal yang diperbolehkan dalam mengkritik. Juga hendaklah memperhatikan iklim atau suasana umum yang ada di sekelilingnya, agar pendapatnya tidak disalahgunakan, apatah lagi dimaknai dengan selain dari yang dimaksud oleh sang pemilik pendapat, dan agar kritikan nya tidak dimanfaatkan oleh pemilik tendensi tertentu atau oleh penurut hawa nafsu

Komentar Ar-Ridha atas Makalah

Saya berpendapat: hendaklah seorang pengeritik selalu menempatkan ucapan Ibnu Taimiyah ini selalu ada di hadapan kedua matanya

Agar ia menyuguhkan kritikan demi memperbaiki, dan agar dapat menghindari aib dan sisi-sisi negatif … jadi bukan mengkritik dengan tujuan mengkritik

Ibnu Taimiyah berkata: “Sebagian orang, selalu terlihat olehmu sebagai pengeritik, ia melupakan berbagai kebajikan berbagai kelompok dan berbagai jenis, ia hanya mengingat sisi-sisi keburukannya saja. Orang seperti ini seperti lalat, ia tinggalkan tempat yang sehat dan tidak sakit, dan mencolok pada luka dan tempat yang sakit. Hal ini pertanda jiwa yang buruk dan pribadi yang rusak

Kemudian, ketahuilah wahai saudaraku bahwa kata kritik mempunyai dua kemungkinan makna, yaitu:

a. Menampakkan berbagai sisi positif untuk kita kembangkan, dan

b. Menampakkan berbagai sisi negatif untuk kita hindari dan kita minimalisir …

Dan inilah yang disebut dengan istilah kritik membangun (konstruktif)

Kemudian … sungguh mengherankan seorang muslim yang sebelum mempelajari satu masalah agama sudah mempelajari bagaimana mencaci saudaranya sesama muslim!

Kemudian ia menginginkan keselamatan dan keberuntungan … kapan dia akan beruntung?

Kapan beruntung jika seseorang “melukai” suatu kaum, padahal bisa jadi mereka yang “dilukai” itu telah menempati tempatnya di surga semenjak beberapa tahun yang lalu?

Kapan beruntung seseorang yang memuaskan dada orang-orang kafir melalui cercaan yang ia tujukan kepada saudaranya sesama kaum muslimin?

Hanya saja, pada asalnya, kritik itu hendaklah membangun dan ikhlas semata karena Allah … supaya sebuah fikrah (gagasan) atau proyek yang menjadi sasaran kritik itu menjadi sempurna, dan dapat disuguhkan kepada publik dalam bentuknya yang paling sempurna

Komentar Raji al-Jannah Terhadap Makalah

Kritik membangun adalah hak asasi setiap aktivis pergerakan, tidak boleh ditinggalkan atau dibuat sembrono, sebagaimana kita juga berkewajiban untuk melatih diri kita terhadap kritikan itu … sehingga kita bisa menjadi sandaran bagi qiyadah kita dan penolong baginya. Sementara itu mata kita yang lain kita pergunakan untuk melihat keputusan qiyadah yang telah dibuat dan untuk menimbang berbagai urusan … kita berkewajiban untuk mendorong sang pengeritik yang bertujuan meluruskan, dan bukan yang bertujuan tasykik (menanamkan keraguan), kita dukung kritik yang bermaksud membetulkan, dan bukan yang bertujuan “melukai”, termasuk walaupun kita berbeda pendapat dalam masalah cara menyampaikannya, dan tampak jelas salahnya. Hanya saja, kita wajib mensyukuri, serta meminta kepadanya agar berkali-kali membolak-balik berbagai urusan supaya sampai kepada titik terdekat dari kebenaran …

Kritik bukanlah sebuah tujuan, dan tidak harus menjadi tujuan. Agar kritik bersifat membangun, terlebih dahulu harus ada satu langkah penting, yaitu: a. tabayyun (mencari titik terang), b. istidhah ar-ru’yah (meminta penjelasan tentang sebuah cara pandang), c. at-ta’arruf ‘ala mulabasat ittikhadz al-qarar mahall an-naqdi wa bawa’itsihi wa asbabihi (berupaya untuk mengetahui berbagai situasi dan kondisi keluarnya sebuah keputusan yang menjadi sasaran kritik, motivasi dan sebab-sebabnya).

Saat memenuhi prasyarat inilah kritik itu dapat diterima yang mampu menentukan posisi penyakit dengan tepat, dan memberikan deskripsi terapi secara professional … dan kita berkewajiban untuk segera membetulkan jalur yang kita tempuh serta meluruskan tujuan yang hendak kita tuju.

Sebagian saudara kita yang mulia, saking cinta dan kasmaran-nya kepada dakwah dan pergerakan, dan karena saking banyaknya berhadapan dengan berbagai serangan kritik yang destruktif, at-tasykik al-mutawashil (upaya penciptaan keraguan yang berkesinambungan), serta at-tajrih al-ladzi la yatawaqqaf (upaya “melukai” yang tiada henti), mereka terkena satu penyakit yang disebut hassasiyyah an-naqd (sensitifitas kritik), yaitu kepekaan yang menempatkan para pemberi nasihat bersama dengan orang-orang yang benci, menempatkan para kritikus yang membangun sejajar dengan para pengobral syubhat dan orang-orang yang gemar memperburuk citra, mereka itu menempatkan semuanya dalam satu keranjang, padahal seharusnya harus dipilah dan dibedakan. Dan pada firman Allah swt yang artinya: “Tidaklah mereka [ahli kitab] itu sama” (Ali Imran: 113) terdapat keteladanan dan contoh ideal …

Kita berkewajiban untuk melepaskan diri dari penyakit ini, dan menerima kritik – selama bersifat konstruktif- dengan dada lapang, serta mencari hikmah di mana pun berada, sebab ia adalah barang yang hilang dari kita, dan dia itu adalah sesuatu yang kita kehendaki.

Termasuk perkara penting dan mesti bagi mereka yang telah rela untuk ber-’amal jama’i adalah tidak ada lagi pendapat perseorangan setelah adanya qarar qiyadah … dalam arti, siapa saja yang ber-intima’ (bergabung) kepada sebuah jamaah hendaklah komitmen dengan berbagai qarar politik (policy) serta arah kebijakan yang dibuat oleh qiyadah … dan bukan hanya komitmen dengan qarar saja, namun, ia jadikan qarar itu sebagai milik dirinya dan ia membelanya … sebab, syura itu bersifat mengikat, dan ragam pendapat, setelah syura menjadi satu pendapat saja … jika seseorang melihat adanya kekurangan atau kesalahan dalam qarar yang dibuat; Hendaklah ia mencari titik kejelasan dan melakukan dan jika berkelanjutan dalam melihat ke tidak benaran qarar, maka ia berkewajiban untuk komitmen dengan ushul tanzhimiyah (pokok-pokok organisasi) dan dhawabith harakiyah (patokan-patokan pergerakan), serta menempuh kanal-kanal syar’i (legal) untuk memperjelas pendapat dan pandangannya … dan tidak ada sesuatu selain kanal-kanal syar’i (legal)

DR. Munir Al-Ghadhban mempunyai pernyataan yang sangat berharga dalam kitabnya yang berbobot: al-Manhaj al-Haraki fi as-Sirah al-Nabawiyah, beliau berkata: “Sering sekali para pemuda suatu jamaah yang bersemangat terdorong untuk melakukan kritik pedas dan tajam kepada qiyadah, di mana qiyadah mempergunakan hikmah dan tuadah (penuh perhitungan) dan menyelesaikan orang-orang yang menyimpang dari barisan dakwah dan orang-orang yang memberontak terhadapnya … akibat kritik pedas dan tajam ini, qiyadah berada dalam posisi di antara dua api; api mereka-mereka yang terlalu bersemangat yang menilai para qiyadah lamban dan meremehkan urusan, dan api para musuh yang selalu menunggu-nunggu kesempatan untuk menjatuhkan tipu dayanya kepada jamaah. Jadi, para pemuda yang berada dalam barisan jamaah tidak memberikan udzur (alasan) kepada qiyadah dan musuh yang ada di luar pun tidak memberi belas kasihan kepadanya …

Betapa perlunya kita untuk membiarkan adanya kebebasan bagi qiyadah dalam berinteraksi dengan para pemudanya dan bersama para musuhnya, sebab, dia (qiyadah) itu lebih tahu tentang berbagai situasi yang dihadapi olehnya daripada kita, dan di antara hak kita adalah memperjelas pendapat kita, akan tetapi bukan termasuk hak kita untuk memaksakan pendapat yang kita miliki, dan bukan hak kita pula untuk menuduh qiyadah dalam suatu sikap yang diambilnya, sebab itu adalah haknya, dan bagus juga untuk kita ingat dan jangan sampai terlupakan dari pikiran kita bahwa di dalam qiyadah harakah terdapat ilmu dan ulama’ yang menjadikannya memiliki bashirah dalam tindak tanduknya …

Baca Selengkapnya...

Friday, November 6, 2009

Mengamalkan Teori Ukhuwah


Seseorang pernah menceritakan keheranannya terhadap teman-teman pengajiannya. “Saya bingung pada mereka, guru mereka ada di rumah sakit sudah beberapa pekan, namun mereka belum mengunjungi juga”, keluh teman tadi. “Apa anda tidak mengingatkan mereka tentang keadaan guru kalian”, ungkap saya. “Tidak tahulah saya pada mereka. Sepertinya mereka sibuk sekali pada urusannya masing-masing”, jawabnya lirih. “Apakah sesibuk itu mereka hingga seredup itu perasaan kemanusiaannya”, selidik saya.

Lain waktu orang itu berkesempatan mengunjungi rumah seorang temannya sambil membawa sedikit bingkisan. Rupanya dia sangat gembira sekali dengan kunjungannya itu. Dia berkata kepada orang tersebut: “Saya bersyukur sekali hari ini. Pertama, mendapatkan kunjungan dari antum, setelah lama tidak ada teman yang mengunjungi saya. Rasanya saya seperti terlempar dari pergaulan teman-teman. Tapi dengan kunjungan ini saya merasa ditarik kembali. Kedua, antum membawa bingkisan. Barang kali bingkisan itu kecil nilainya tapi sangat berarti bagi saya. Karena sudah beberapa hari keluarga saya hanya memakan ubi-ubian”. Paparnya. mendengar ucapan orang yang dikunjungi tersebut, dirinya terharu sekali, apalagi setelah mendengarkan pemaparan yang memilukan itu. Timbul pertanyaan besar: Kemana teman-temannya?.

Pengalaman diatas sebenarnya mungkin banyak sekali kita jumpai dengan beraneka ragam cerita. Semuanya akan berujung pada tanda tanya, sebegitu redupkah tali persaudaraan yang kita miliki saat ini. Sebegitu keringkah telaga ukhuwwah sesama kader dakwah.

Keadaan ini menjadi perhatian dalam diri kita, apakah ini sebuah fenomena ataukah kasuistik saja. Memang kita harus akui bahwa kekeringan ruhaniyah di hati kader akan berakibat kekeringan dalam muamalah antar mereka. Muamalah yang kering merupakan preseden buruk bagi pembentukan opini publik tentang manisnya ukhuwwah Islamiyah. Serta buramnya potret keindahan tatanan dan prilaku masyarakat Islam di masa lalu bila dipraktekkan pada zaman kiwari.

Potret ukhuwwah islamiyyah yang telah dilakoni para pendahulu menggores kesan mendalam yang teramat indah bagi peradaban manusia.

Bagaimana tidak?, seseorang rela mati demi saudaranya. Mereka lebih memilih lapar bagi dirinya daripada saudaranya yang lapar. Mereka lebih mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan diri mereka sendiri meskipun mereka teramat membutuhkannya. Mereka sangat menjaga kehormatan dirinya ketimbang harus menjadi orang yang rakus lagi terhina.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin) mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keingan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin) dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Al-Hasyr: 9)

Berbicara ukhuwwah memang tidak sekedar teori melainkan nilai-nilai mulia yang mesti diimplementasikan dengan jiwa besar. Karena ia bukan hanya ucapan melainkan ia adalah amalan. Bahkan bukan sekedar amalan biasa tetapi amalan yang dikaitkan dengan kondisi keimanan pelakunya.

IMAN LANDASAN PERSAUDARAAN ISLAM

Ukhuwwah islamiyah tidaklah sama dengan cita rasa humanisme seperti yang difahami banyak orang. Sehingga mereka melakukan suatu kebaikan lantaran faktor humanisme, tidak dikaitkan dengan nilai-nilai moralitas yang tertanam dari benih ideologi samawiyah. Akan tetapi ukhuwwah islamiyyah merupakan manivestasi keimanan pelakunya. Keimanan yang stabil senantiasa memproduk amal khairiyah dan merealisasikannya dalam bentuk nyata tatkala bermuamalah dengan banyak manusia, sebaliknya keimanan yang labil dapat menghambat produktifitas amal tersebut.

Hubungan personal ketika bermuamalah pada sesama muslim memang tidak diikat pada simpul-simpul kesatuan aktifitas manusia dalam kesehariannya. Mereka tidak disatukan karena motivasi materi, kesukuan, kondisi temporer yang mereka alami. Melainkan hubungan mereka diikat oleh keimanan. Keimananlah yang menjadi pijakan muamalah mereka. Keimanan ini melandasi hubungan mereka yang teramat indah itu. Wihdatul aqidah itulah jawabannya. Menjadi kewajiban setiap kader untuk membangun bangunan keimanan yang kokoh agar dapat merefleksikannya dalam berinteraksi antar sesama.

Ketika banyak orang mengaitkan sikap persaudaraan pada nasab, kesukuan, kedaerahan serta ashabiyah lainnya. Rasulullah SAW. menepisnya dengan mengatakan: “Salman adalah keluargaku”.
Nyata betul prinsip Islam ini. Tidak tidak dapat dibatasi oleh dinding setebal apapun. Karena keimanan yang menjadi landasannya juga tidak dapat dibatasi oleh batasan apapun. Karena itu pancaran persaudaran berasal dari cahaya keimanan si pemiliknya.

HASASIYAH (KEPEKAAN) UKHUWWAH

Keimanan yang selalu bersinar terang akan menyalakan kepekaan ukhuwwah. Hasasiyah ukhuwwah ini akan semakin dinamis bila dilakukan dua arah. Sehingga semua pihak menahan diri untuk hanya menikmati ukhuwwah orang lain. Akan tetapi masing-masing pihak berupaya untuk dapat menyenangkan khalayak sekitarnya. Menjadi kepuasan bagi dirinya apabila kelebihannya dapat dicicipi oleh banyak orang.

Lihatlah sejarah manusia-manusia pilihan yang telah mengukir indahnya peradaban orang-orang yang beriman. Mereka tidak bakhil pada orang lain akan kelebihan dirinya. Mereka tidak pula celamitan pada kebaikan orang lain. Mereka merasa bahagia apabila orang lain merasakan kebaikannya. Dan mereka terhina apabila orang lain terepotkan lantaran dirinya .

Pagi-pagi Rasulullah SAW. tersenyum melihat seorang sahabat yang telah membuktikan sikap ukhuwwahnya pada saudaranya yang lain. Beliau mendapatkan informasi bahwa sahabat tersebut menjamu tamunya dengan hidangan yang diperuntukkan keluarganya. Agar tamunya berselera menyantap hidangannya, dia matikan lampu rumah sehingga makanan yang disajikan tidak tampak pada sang tamu. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan rasa sungkan tamunya untuk menyantap makanan tersebut. Lantaran porsi hidangan yang tersedia hanya cukup untuk seorang. Untuk menyenangkan hati tamunya, tuan rumah berpura-pura sedang menyantap makanan tersebut bersama-sama dengan lahap. Sikap inilah yang mendapatkan senyuman malaikat dan membuat senang hati Rasulullah SAW.

Juga ketika Rasulullah SAW. membangun Madinah sebagai sentral aktifitas muslim, beliau mempersaudarakan sahabat Muhajirin dan Anshar. Diantaranya Abdurrahman bin Auf RA. dipersaudarakan dengan Saad bin Rabi’i RA. Dengan hati yang tulus Saad bin Rabi’ mengatakan: “Aku memiliki beberapa perniagaan silahkan ambil yang kau cenderungi. Dan aku mempunyai beberapa isteri silahkan lihat mana yang menarik hatimu. Akan aku ceraikan dia dan nikahilah setelah selesai masa iddahnya”. “Semoga Allah senantiasa memberkahi dirimu dan keluargamu, terima kasih atas penawaranmu. Akan tetapi lebih baik bagiku tunjukkanlah padaku dimana pasar?”. Jawab Abdurrahman bin Auf RA.

Betapa manisnya kehidupan orang-orang yang beriman. Mereka dapat memposisikan dirinya secara tepat. Mereka dapat merasakan kesusahan dan kebahagiaan saudaranya. Mereka tahu betul apa yang mesti dilakukan untuk orang lain. Mereka merasa bersedih apabila tidak mampu berbuat banyak untuk orang lain.

MENUMBUHKAN PERASAAN KOLEKTIF

Seusainya perang Badar petugas logistik mengamati pejuang-pejuang Islam yang terluka. Sambil diobati juga diberikan makan atau minum yang dibutuhkannya. Saat sedang melayani orang-orang yang memerlukan bantuannya. Petugas ini mendengar ada suara orang yang meminta air karena rasa haus yang mencekik. Petugas tersebut mendatanginya. Namun ketika akan dituangkan pada mulut orang itu terdengar pula suara orang yang juga berhajat pada air. Lalu orang pertama yang membutuhkan air itu berujar pada petugas logistik itu. “Berikan air itu padanya, dia lebih membutuhkannya ketimbang diriku!”. Maka petugas itu segera menemui orang kedua itu. Akan tetapi ketika akan diminumkan air, orang kedua ini mendengar ada arang lain yang juga membutuhkannya. Orang keduapun mengatakan, “Berikan air itu padanya dia lebih butuh daripada saya”. Petugas itupun segera mencari-cari sumber suara tadi. Rupanya orang ketiga yang membutuhkan air ketika ia jumpai sudah meninggal dunia. Secepat kilat peetugas itu mendatangi orang kedua tadi. Akan tetapi orang keduapun telah meninggal dunia. Iapun berlari menjumpai orang pertama. Begitupun orang pertama, ia dapati telah meninggal dunia.

Itulah kisah manusia yang diabadikan sepanjang sejarah. Mereka ditautkan oleh perasaan kolektif pada dirinya masing-masing. Perasaan bahwa saudaranya adalah dirinya. Merasa sakit apabila saudaranya sakit. Dan bahagia bila saudaranya bahagia. Saudaranya adalah cermin sejati bagi dirinya. Perasaan kolektif ini bagaikan saraf yang memadukan aneka ragam organ dalam tubuh. Dengan itu setiap organ mempunyai investasi pada satu gerakan organ lainnya.

Ukhuwwah merupakan wujud perasaan kolektif dalam bermuamalah antar manusia. Ia menyatukan irama hati dari bermacam-macam orang. Ia akan menjadi harmonika yang merdu dalam sebuah simponi. Alunan simponi yang indah ini dapat menjadi suatu kekuatan besar dalam membangun umat.

Umar bin Khaththab menangis terisak-isak tatkala ia mengetahui ada rakyatnya dirundung kelaparan. Umar mengangkat sendiri bahan pangan untuk rakyatnya yang sedang menderita.

Khalifah Sulaiman Al Manshur tidak bisa berdiam diri ketika ia mendengar ada seorang muslimah yang teraniaya di Byzantium. Khalifah mengajak rakyat untuk membebaskan wanita tersebut.

Hasan Al Banna memberikan sokongan yang besar atas perjuangan bangsa Indonesia mengusir kolonial Belanda. Al Imam menerima kunjungan para diplomat Indonesia dengan antusias dan mengajak para pemimpin Mesir untuk turut mendukungnya. Demikianlah pengakuan M. Hasan Zein penulis Diplomasi Revolusi di Luar Negeri.

Itulah perasaan kolektif menjadi gelombang besar yang dapat menggerakkan sebuah kekuatan umat. Akan tetapi perasaan kolektif ketika manusia hidup dengan sikap dan gaya individualistik. Sikap ini menjadi barang langka yang jarang ditemukan.

Sikap individualistik mendorong manusia bersikap acuh tak peduli pada urusan orang lain. Bahkan pada urusan yang bersifat hidup matinya seseorang. Tidak mengherankan pada pergaulan masyarakat di hari ini tidak lagi mempedulikan apa yang dialami orang lain. Sebelah rumahnya sedang kesusahan ia tidak mengetahuinya. Tetangganya sedang merenggang nyawa ia tidak mendengarnya.

Tidaklah aneh saat ini apabila orang mengenal tetangganya bukan ketika bercengkerama di rumahnya, melainkan ia mengetahui tetangganya itu di tempat yang jauh dan terjadi pada kurun waktu yang cukup lama setelah bertetangga.

Dalam sebuah pesta besar, ada seorang pria terheran-heran pada kenalannya di pesta itu. Pasalnya, kenalan barunya itu adalah tetangga sebelah rumahnya. Padahal mereka telah lama hidup saling bertetangga. Aneh memang tapi begitulah gaya hidup masa kini.

Islam memandang buruk sikap demikian. Karena perasaan kolektif menjadi bukti keimanan. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menjalin perasaan kolektif ini. Ia adalah nadi dari geliat umat ini
Rasulullah SAW. bersabda:

“Tidak beriman salah seorang diantaramu apabila tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagi kader dakwah perasaan kolektif ini tidak boleh berhenti denyutnya. Berhentinya akan berdampak pada lambannya mobilitas kader untuk mengemban tugas mulia. Juga akan kehilangan kendali arah sehingga alur roda itu berputar tanpa arah.

Setiap kader wajib merawat dan meningkatkan perasaan kolektif ini agar ia tumbuh, berkembang dan berbuah.

UKHUWWAH, BAHASA AMAL

Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah menceritakan kisah tentang tukang sol sepatu yang menunda pergi hajinya karena uang yang dipersipakan untuk berangkat ke Baitullah Al Haram diberikan pada tetangganya yang kelaparan. Namun banyak teman-temannya yang berangkat menunaikan ibadah haji melihat tukang sol sepatu itu berada di tanah suci. Dalam mimpi Ibnul Mubarak rahimahullah, tukang sol sepatu itulah orang yang termasuk diterima ibadah hajinya oleh Allah SWT.

Kisah diatas tentu bukan persoalan maqbulnya ibadah haji yang dilakukannya. Akan tetapi yang saya maksudkan disini adalah sikap arif tukang sol sepatu itu. Sikapnya yang penuh perhatian pada nasib tetangganya, nasib saudaranya sesama muslim. Ia rela menyerahkan harta yang ia kumpulkan dari jerih payahnya berbulan-bulan kepada saudaranya sesama muslim.

Begitulah bahasa amal. Ia merupakan amalan bukan sekedar teori. Artinya sikap itu dilakukan secara refleks tidak perlu kalkulasi yang amat teliti.Tukang sol sepatu itu tahu betul apa yang mesti diputuskan pada saat-saat yang tepat.

Ukhuwwah adalah bahasa amal bukan bahasa teori atau konsep. Sikap ini pancaran kebiasaan yang berasal dari sinar keimanan. Sinar keimanan yang lahir dari pembiasaan watak dan prilaku para pemiliknya. Karena itu, sikap ini tidak dapat dihambat oleh berbagai kalkulasi material. Ia begitu lancar untuk bertindak cepat memutuskan pilihan-pilihan sulit baginya. Ia tidak mempedulikan keuntungan apa yang bakal diperoleh, malah ia rela mendapatkan kerugian bagi dirinya asalkan saudaranya meraih kebahagian atas sikapnya. Subhanallah, teramat indah bahasa amal itu.

DARI MANA MEMULAINYA

Seorang teman berbinar-binar matanya menyiratkan rasa haru dalam hatinya. Ia mengatakan baru saja menerima telepon dari kawannya yang menanyakan kabar berita tentang diri dan keluarganya. “Saya senang dan terharu, sekian lama saya tidak pernah mendengar berita kawan saya. Tiba-tiba, kali ini dia menyampaikan kabar beritanya dan menanyakan keadaan saya. Rasanya tali yang putus kembali tersambung”. Ungkapnya gembira.

Bila kita melihat cerita pengalaman seorang teman tadi. Sepertinya sederhana sekali untuk menyambung lagi tali persaudaraan yang nyaris putus. Dengan menanyakan kabar teman di seberang telepon hubungan itu kembali hangat. Kehambaran itu sirna dengan segera.

Rasulullah SAW. memberikan resep sederhana untuk dapat mengikat kembali tali-tali yang putus hingga dapat menghimpun hati-hati yang retak. Beliau mengatakan:

“Sebarkanlah salam, berikanlah makan dan dirikanlah shalat malam”.

Resep ini memang terkesan sangat simple.

Pertama, menyebarkan salam. Dalam kegiatan ini bisa dijabarkan dengan bermacam-macam perlakuan, diantaranya bertanya bagaimana kabarnya, keluarganya, isteri dan anaknya?. Baik-baikkah mereka. Bagaimana mereka selama ini. Adakah yang sakit. Adakah yang mendapatkan musibah atau adakah diantara mereka yang telah dianugerahi Allah kebaikan yang dapat menyenangkan orang banyak. Dapat saling mendoakan keadaan masing-masing agar meraih kemudahan dalam menjalani aktifitas hariannya serta mendapatkan karunia dari Allah sehingga meredam rasa berat dalam menerima ujian dan cobaan hidup. Dan banyak lagi segudang ungkapan untuk memulai menyebarkan salam antar sesama kader.

Inti masalahnya adalah bagaimana menyebarkan salam itu menjadi sebuah media komunikasi antar sesama kader agar tetap terjalin dengan baik, sehingga mereka tidak kehilangan informasi dan kendali arah. Komunikasi yang harmonis dibangun atas dasar hubungan manusiawi yang utuh dari berbagai dimensi bukan pada hubungan formalitas apalagi hiasan bibir semata.

Menjalin komunikasi yang harmonis ini menjadi kebutuhan asasi masyarakat modern, karena dengan komunikasi ini manusia menemukan eksitensi dirinya sebagai makhluk yang multi dimensional. Makhluk yang dihargai oleh lingkungan sekitarnya. Saat ini banyak kita temukan orang yang kehilangan rasa, termasuk rasa dalam berkomunikasi ketika bergaul antar sesama. Makanya banyak orang berupaya mencari tempat kongkow-kongkow hanya sekedar mendapatkan sebuah tali komunikasi yang tidak diikat oleh formalitas kehidupan. Sehingga mereka bisa berbicara dan tertawa lepas yang selama ini tidak mereka temukan karena masih dirasakan terdapat dinding pembatas hati mereka.

Komunikasi yang harmonis bagi masyarakat barat amat mahal, karena selama ini mereka menjalani kehidupan ini secara mekanik. Melakoni satu babak kehidupan ke babak berikut bagai mesin yang rutin berputar. Tanpa seni yang menyentuh ruang hati manusia yang paling dalam. Kondisi ini membuat mereka berupaya untuk menemukan format baru dalam berkomunikasi dengan sesama. Diantaranya mereka mengadakan pasar loakan setiap hari libur sebagai sarana mereka berkomunikasi. Mereka bisa saling tawar menawar suatu harga barang yang selama ini mereka jualbelikan dengan mesin atau robot. Mereka dapat saling menyapa untuk menanyakan dimana tinggalnya, dari mana asalnya, sudah berapa lama tinggal di daerah itu dan sapaan lainnya. Dari saling menyapa itulah hubungan yang kaku diantara mereka mencair seketika, akhirnya mereka begitu akrab satu sama lainnya.

Abbas Assisi salah seorang murid Hasan Al Banna selalu membuka komunikasi dengan banyak orang yang ia jumpai. Melalui komunikasi itulah ia membuka peluang dakwah di hati mitra bicaranya. Bahkan pernah ia kesulitan dengan apa memulai berkomunikasi kepada orang yang ada di hadapannya. Namun ia menemukan juga jalan ke arah itu. Yakni ia menginjak kaki orang tersebut sehingga orang itu memarahinya. “Apa matamu buta?, mengapa kamu injak kaki saya”, hardik orang tersebut. Abbas Asisi menjawab, “Maaf tuan, mata saya memang rabun sehingga saya tidak begitu jelas melihatnya”. Dengan pengakuan itu orang tersebut malah meminta maaf atas ucapannya tadi lalu perbincangan akhirnya berlanjut pada tema-tema lainnya yang kemudian menyentuh tema-tema dakwah.

Begitulah mumpuninya komunikasi dalam bergaul antar sesama yang dapat meluluhkan hati-hati yang keras membatu. Orang bijak mengatakan, ‘berkomunikasilah karena ia seni kehidupan’.

Seorang sahabat merasa tersanjung ketika Rasulullah SAW jalan beriringan di sampingnya sambil beliau menanyakan keadaannya. Sikap ini menunjukkan betapa manisnya pergaulan yang dilakukan Rasulullah SAW. kepada sahabatnya begitupun sebaliknya.

Media berkomunikasi saat ini sangat banyak apalagi kemajuan teknologi dapat menunjang pelaksanaannya. Berkomunikasi dapat dilakukan melalui silaturrahim atau mengunjunginya. Dengan mengunjungi kita dapat menuangkan berbagai suasana hati. Dapat saling bertatap muka, saling bertegur sapa dan saling mengekspresikan ruat wajah yang dapat disaksikan oleh mitra bicara.

Berziarah atau mengunjungi saudaranya yang muslim merupakan sebagian tanda keimanan. Karena ia adalah hak sesama muslim. Dengan mengunjungi kita dapat berkomunikasi dan berbagi perasaan, pengalaman, pelajaran serta berbagi lainnya.

Rasulullah SAW. bersabda :

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia silaturrahim”. (HR. Muslim)

Dan komunikasi dapat pula dilakukan lewat piranti teknologi canggih sekarang ini, bisa melalui telepon, internet, email, surat atau media-media lainnya.

Kedua, memberi makan (hadiah). Hadiah pertanda penghargaan dan kasih sayang. Ia wujud atensi yang dalam. Karenanya hadiah jangan dipandang dari nilai nominalnya akan tetapi lihatlah bahwa adalah ekspresi kecintaan.

Rasulullah SAW. bersabda:

“Salinglah berbagi hadiah niscaya kalian akan saling mencintai”. (HR. Tirmidzi)

Hadiah sebagai media mengungkapkan kata hati pada seseorang dalam kondisi tertentu. Maka tidaklah naif memberikan hadiah yang sepertinya tidak begitu bernilai. Sebab ia adalah bentuk visualisasi dari atensi yang besar. Oleh karena itu tidak perlu merasa malu untuk memberikan hadiah yang tidak mewah atau mahal. Malah dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ada seorang sahabat Nabi SAW. yang memberikan hadiah berupa sekerat kurma kepada saudaranya, Nabi SAW. mendengar berita itu tersenyum bahagia. Duhai mulianya ia yang mau memberikan hadiah meski kondisi hidupnya dalam kesulitan.

Memang alangkah bagusnya bila mampu memberikan hadiah yang menarik serta bernilai lebih. Apalagi hadiah yang diberikan kepada saudaranya sangat ia sukai.

Firman Allah SWT.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (Ali Imran: 92)

Ketiga, melaksanakan shalat malam (doa). Persoalan hati manusia adalah persoalan yang penuh misteri. Hati merupakan ruang yang luas lagi dalam. Ia bagaikan samudera lepas. Sedikit sekali manusia yang dapat menyelami samudera hati.

Muamalah antar manusia juga bagian dari gerakan hati. Ia akan terkait tatkala hatinya sudah tertambat. Ia akan terurai ketika hatinya liar. Permasalahannya tampaknya rumit dan jelimet. Akan tetapi menjadi sederhana ketika conecting langsung pada pemiliknya. Dialah Allah Pemilik hati manusia yang mampu membolak-balikan gerakan hati secara dratis.

Menjalin hubungan langsung pada si Empunya hati manusia secara rutin dapat menjadi sebuah kekuatan besar yang mampu menghimpun aneka ragam hati manusia. Bahkan Dia dapat mengendalikan hati-hati yang liar. Hubungan dengan Sang Penakluk Hati diantaranya dapat diwujudkan dengan panjatan do’a untuk diri dan saudaranya.

Do’a menjadi media perantara untuk merajut hati yang retak. Melancarkan sumbatan-sumbatannya. Untuk mencapai sasaran tersebut, Hasan Al Banna mengajak para pengikutnya untuk membaca do’a Rabithah selepas mengikuti majelis pertemuannya. Sebagai upaya mendayagunakan kekuatan do’a untuk mengikat dan menyatukan hati manusia. Disamping itu agar hati yang kering lagi tandus menjadi basah dan subur.

Semua resep sederhana diatas akhirnya berpulang pada satu kalimat. Ibda’ binafsik. Mulailah dari darimu sendiri. Artinya setiap individu segera untuk memulainya, menjadi pelopor. Tidak perlu menunggu orang lain memberi aba-aba untuk memulainya. Apalagi menanti siapa yang akan memulainya. We are first begining. Wallahu a’lam.

Baca Selengkapnya...

Thursday, November 5, 2009

Mujahadatunnafs (Mengendalikan Diri)


Di dalam kehidupan ini setiap insan bertarung dengan dirinya sendiri. Adakalanya ia menang dan adakalahnya ia kalah atau ia tetap dalam pertarungan yang
tiada henti. Memang pertarungan ini tidak akan berhenti sehingga ajal
menjemputnya. Allah Berfirman:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. َفَأْلهَمَهَا ُفجُورَهَا وَتَقْوَاهَا. قدْ َأفَْلحَ مَنْ زَكَّاهَا وََقدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Demi diri manusia dan Yang menyempurnakan kejadiannya (dengan kelengkapan yang sesuai dengan keadaannya); Serta mengilhamkannya (untuk mengenal) jalan yang membawanya kepada kejahatan, dan yang membawanya kepada takwa; Sesungguhnya bahagialah orang yang menjadikan dirinya bersih dan bertambah bersih (dengan iman dan amal kebajikan), Dan sesungguhnya hampalah orang yang menjadikan dirinya kotor dan terbenam dalam kekotoran maksiat. (Asy-Syams:7-10)

Inilah yang terkandung dalam sabda yang diisyaratkan oleh beliau saw:

تعرض الفتن على القلوب كالحصير عودا عودا فأيما قلب أشرﺑﻬا نكت فيها نكتة السوداء وأيما قلب أنكرها نكت فيها نكتة بيضاء حتى تصير على أحد قلبين :على أبيض مثل الصفاة فلا تضره فتنة والآخر أسود مربادا لا يعرف معروفا ولا ينكر منكرا

Fitnah akan melekat di hati manusia bagaikan tikar yang dianyam secara tegak-menegak antara satu sama lain. Hati yang dihinggapi oleh fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga jika hati yang tidak dihinggapinya, akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbahagi dua: Sebagiannya menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Adapun sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tidak menyuruh pada kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran. (Muslim dari Huzaifah bin Yaman)

Dalam pertarungan menghadapi nafsu manusia terbagi pada 3 golongan:

1. Golongan yang tunduk mengikut hawa nafsu mereka.

Mereka hidup dengan kemaksiatan di atas muka bumi ini dan ingin hidup kekal di dunia. Mereka adalah orang-orang kafir dan orang yang mengikuti jejak langkah mereka. Golongan ini lupa dan lalai (kebesaran dan nikmat) Allah, lalu Allah juga membiarkan mereka. Di dalam Al-Quran Allah menyifatkan mereka sebagai orang yang mempertuhankan hawa nafsu, Allah berfirman:

َأَفرََأيْتَ مَنِ اتَّخَذ إَِلهَهُ هَوَاهُ وََأضَلَّهُ اللَّهُ عََلى عِلْمٍ وَخَتَمَ عََلى سَمْعِهِ وََقلْبِهِ وَجَعَ َ ل عََلى بَصَرِهِ غِشَاوًَة َفمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ َأَفَلا تَذَكَّرُون

“Dengan yang demikian, bagaimana fikiranmu (wahai Muhammad) terhadap orang yang menjadikan hawa nafsunya: Tuhan yang dipatuhinya dan dia pula disesatkan oleh Allah karena diketahui-Nya (Bahwa dia tetap kufur ingkar) dan ditulikan pula atas pendengarannya dan hatinya serta ada lapisan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yang dapat memberi hidayat petunjuk kepadanya sesudah Allah (menjadikan dia demikian)? Oleh karena itu, mengapa kamu (wahai orang-orang yang ingkar) tidak ingat dan insaf?. (Al-Jathiyah:23)

2. Golongan yang bermujahadah dan bertarung menentang hawa nafsunya.

Dalam menentang hawa nafsunya ada kalanya golongan ini mencapai kemenangan dan ada kalanya mereka kalah. Namun apabila terlibat dalam kesalahan mereka segera bertaubat. Begitu juga bila mereka melakukan maksiat mereka segera sadar dan menyesal serta memohon ampun kepada Allah. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ إِ َ ذا َفعَلُوا فَاحِشًَة َأوْ َ ظَلمُوا َأنْفُسَهُمْ َ ذ َ كرُوا اللَّهَ فَاسْتَغَْفرُوا لِ ُ ذنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وََلمْ يُصِرُّوا عََلى مَا َفعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُو ن

“Dan juga orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka dan sememangnya tidak ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah dan mereka juga tidak meneruskan perbuatan keji yang mereka telah lakukan itu, sedangkan mereka mengetahui (akan salahnya dan akibatnya). (Ali Imran :135)

3. Golongan yang berada dalam genggaman syetan dan hawa nafsu sebagaimana bola berada di tangan anak kecil. Mereka menyerah diri mereka bulat-bulat kepada syetan dan hawa nafsu.

Inilah golongan yang dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

كل بني آدم خطاء وخيرا الخطاءين التوابون

“Setiap anak Adam (manusia) itu melakukan kesalahan, sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan (dosa) ialah mereka yang bertaubat. (Ahmad dan Tirmizi)

Sehubungan dengan pengertian inilah diriwayatkan satu kisah oleh Wahab Bin Munabbih yang mengatakan: “Sesungguhnya Iblis pernah bertemu dengan Nabi Allah Yahya bin Zakaria a.s, lalu Nabi Zakaria a.s berkata kepada Iblis: “Ceritakan kepadaku tabiat perangai manusia menurut pandangan kamu”. Lalu Iblis menjawab:

1. Golongan pertama dari manusia ialah seperti kamu ini. Mereka ini terpelihara (dari kejahatan dan dosa).

2. Golongan yang kedua adalah mereka yang berada dalam genggaman kami sebagaimana bola berada di tangan anak-anak kamu. Mereka menyerah diri mereka bulat-bulat kepada kami.

3. Golongan yang ketiga ialah golongan yang sangat sukar untuk kami kuasai mereka. Kami menemui salah seorang dari mereka dan kami berhasil memperdayakannya dan mencapai hajat kami tetapi ia segera memohon ampun (bila ia sadar) dan dengan istighfar itu rusaklah apa yang kami dapati darinya. Maka kami tetap tidak berputus asa untuk menggodanya dan kami tidak akan mendapati hajat kami tercapai.

Sendi-sendi Kekuatan Dalam Memerangi Nafsu.

1. Hati:

Hati akan menjadi benteng yang kuat dalam memerangi nafsu ketika hati itu hidup, lembut, bersih. Sayidina Ali dalam pesannya mengatakan:

“Sesungguhnya Allah SWT mempunyai bejana di atas buminya yaitu hati-hati … maka hati yang paling disukai oleh Allah SWT ialah hati yang lembut, bersih dan teguh. Kemudian Sayidina Ali mentafsirkan (kalimat tersebut dengan) katanya: terguh dalam berpegang pada agama Allah, bersih di dalam keyakinan dan lembut terhadap saudara-saudara mukmin.

Sayidina Ali juga berkata: “Hati seorang mukmin itu bersih, terdapat padanya pelita yang bercahaya. Hati seorang kafir itu hitam serta berpenyakit”.

Al-Quran Al-Karim memberi gambaran tentang hati orang-orang mukmin seperti Allah Berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُو َ ن الَّذِينَ إِ َ ذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجَِلتْ قُلُوبُهُمْ وَإِ َ ذا تُلِيَتْ عََليْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

“Orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman mereka. (Surah Al-Anfal 8: Ayat 2)

Dalam menggambarkan sifat-sifat hati orang kafir pula Allah menjelaskan:

َفإِنَّهَا َلا تَعْمَى اْلَأبْصَارُ وََلكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Karena keadaan yang sebenarnya bukanlah mata kepala yang buta, tetapi yang buta itu ialah mata hati yang ada di dalam dada. (Al-Hajj: 46)

Allah juga berfirman:

َأَفَلا يَتَدَبَّرُو َ ن الُْقرْءَا َ ن َأمْ عََلى ُقُلوبٍ َأقَْفاُلهَا

“(Setelah diterangkan yang demikian) maka adakah mereka sengaja tidak berusaha memahami serta memikirkan isi Al-Quran? Atau telah ada di atas hati mereka kunci penutup (yang menghalangnya daripada menerima ajaran Al-Quran)?. (Muhammad :24)

2. Akal:

Akal adalah (ciptaan Allah) yang dapat melihat, mempunyai daya memahami sesuatu, mampu membedakan dan dapat menyimpan sesuatu pemahaman dari ilmu-ilmunya di mana dengan ilmu itu kelak ia dapat mendekatkan diri dengan Allah, mengetahui keagungan Allah serta kekuatan-Nya. Akal seperti inilah yang dimaksudkan oleh Allah Berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun. (Fatir:28).

Rasulullah saw menyebut betapa tingginya nilai akal ini dalam sabdanya:

ما خلق الله خلقا أكرم عليه من العقل

“Allah tidaklah mencipta suatu kejadian yang lebih mulia dari akal”. (At-Tirmizi al-hakim dalam “An-Nawadir” dengan sanad dha’if.)

Rasulullah saw berpesan kepada Sayidina Ali Karramallahu wajhah:

إذ تقرب الناس إلى الله تعالى بأنواع البر فتقرب أنت بعقلك

“Apabila manusia mendampingi Allah dengan melakukan berbagai amalan kebajikan maka engkau dampingilah Allah dengan akal fikiran engkau”. (An-Nu’aim dalam “Hilyah” dengan sanad dha’if.)

Beliau juga bersabda:

ما اكتسب رجل مثل فضل عقل يهدي صاحبه إلى هدى ويرده عن ردي

“Tidaklah beruntung seorang lelaki (dengan satu pemberian) dibandingkan dengan kelebihan karunia akal yang dapat membimbing pemiliknya kepada petunjuk dan menahannya dari perkara yang buruk”. (Al-Mujbir)

Oleh karena betapa tingginya nilai akal, maka Islam menganjurkan agar akal diisi dengan ilmu dan ma’rifah serta mendalami segala urusan agama agar dengan ilmu-ilmu itu akal menjadikannya sebagai sebab akibat yang memandu segala tindakan, membedakan di antara yang buruk dengan yang baik, di antara yang hak dengan yang batil sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan pada dirinya diberikan kefahaman yang mendalam dalam agama”. (Bukhari dan Muslim)

Sabda beliau lagi:

فضل العالم على العابد كفضلي على أدنى رجل من أصحابي

“Kelebihan (keutamaan) seorang ‘alim atas seorang ‘abid (ahli ibadah) adalah seperti kelebihanku atas orang yang paling rendah dari sahabat-sahabatku”.

Semua ini membuktikan betapa tingginya nilai dan kedudukan akal dalam proses membina kekuatan insan di dalam diri manusia. Dengannya manusia dapat mengenali serta dapat menyelami hakikat alam semesta dan rahasianya.

Oleh yang demikian akal seorang mukmin itu adalah akal fikiran yang waras, dapat membedakan buruk dan baik, halal dan haram, kebaikan dan kemungkaran karena ia melihat segala perkara dengan cahaya Allah yang dapat menembus dibalik tutupan yang halus. Allah Berfirman:

وَمَنْ َلمْ يَجْعَلِ اللَّهُ َلهُ نُورًا َفمَا َلهُ مِنْ نُورٍ

“Dan (ingatlah) Barangsiapa yang tidak dijadikan Allah menurut undang-undang peraturanNya mendapat cahaya (hidayat petunjuk) maka dia tidak akan beroleh sebarang cahaya (yang akan memandunya ke jalan yang benar). (An-Nur :40).

Cahaya akal seseorang mukmin itu senantiasa bersinar, tidak dapat dipadamkan kecuali oleh kerja-kerja maksiat yang terus menerus, dilakukan pula secara terang-terangan dan tidak pula diikuti dengan taubat. Rasulullah saw menjelaskan:

لولا أن الشياطين يهمون على قلوب بني آدم لنظروا إلى ملكوت السموات والأرض

“Kalaulah tidak karena syaitan-syaitan itu mengelilingi hati anak-anak Adam niscaya mereka dapat melihat (merenung) kerajaan Allah di langit dan di bumi”. (Imam Ahmad daripada Abu Hurairah)

Anas bin Malik r.a menceritakan:

لما دخلت على عثمان رضى الله عنه وكنت قد لقيت إمرأة في طريقي فنظرت إليها شزرا وتأملت محاسنها فقال عثمان لما دخلت: يدخل أحدكم وآثر الزنا على عينيه أما علمت أن زنا العينين النظر؟ لتتوبن أو لأعزرنك؟ فقلت أوحى بعد النبي؟ فقال: لا ولكن بصيرة وبرهان وفراسة صادقة

“Semasa aku masuk menemui Usman bin Affan r.a aku bertemu seorang wanita dalam perjalanan, lalu aku sempat mengerling memandangnya dan tertarik kepada kecantikannya. Lalu semasa aku menemuinya Othman berkata kepadaku: “Seorang dari kamu menemuiku sedangkan kesan zina kelihatan pada kedua matanya”. Adakah engkau mengetahui Bahwa zina mata itu ialah memandang? Hendaklah kamu bertaubat atau aku akan mengenakan hukuman takzir. Lalu akupun bertanya? Adakah lagi wahyu (kepadamu) selepas Nabi? Maka Othman menjawab: “Tidak, tetapi (dengan pandangan) basirah hati burhan dan firasat yang benar”.

Tanda-tanda matinya Jiwa

Apabila hati manusia telah mati atau menjadi keras, apabila hati manusia telah menjadi padam dan tidak bersinar lagi atau apabila ia telah tumpas dalam pertarungannya menghadapi syaitan maka terbukalah pintu-pintu masuk segala kejahatan terutama ke dalam dirinya, karena syaitan itu meresap ke dalam diri anak Adam sebagaimana pengaliran di dalam tubuhnya.

Sebenarnya apabila benteng pertahanan dan kekuatan manusia telah runtuh maka syaitan akan kembali menjadi teman karibnya sebagaimana Allah Berfirman:

اسْتَحْوَ َ ذ عََليْهِمُ الشَّيْطَا ُ ن َفَأنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ

“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa kepada Allah”. (Al-Mujadalah:19)

Inilah kandungan maksud yang dibayangkan oleh Al-Quran Al-Karim yang menyatakan: Kisah ini di sebut oleh at-Tajas-Subki dalam “At-Tabaqat”. Lihat Tafsir Ibn. Kathir; surah al-Hijr: 75.

قَا َ ل َفبِمَا أغوَيْتَنِي َلَأقْعُدَنَّ َلهُمْ صِرَا َ طكَ اْلمُسْتَقِيمَ ُثمَّ َلآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ َأيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ َأيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وََلا تَجِدُ َأكَْثرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Iblis berkata: Oleh karena Engkau (wahai Tuhan) menyebabkan daku tersesat (maka) demi sesungguhnya aku akan mengambil tempat menghalangi mereka (dari menjalani) jalanMu yang lurus; Kemudian aku datangi mereka, dari hadapan mereka serta dari belakang mereka, dan dari kanan mereka serta dari kiri mereka dan Engkau tidak akan dapati kebanyakan mereka bersyukur. (Al-A’raf:16-17)

Sebenarnya selain dari penyakit di atas terdapat satu penyakit lain yang paling berbahaya iaitu penyakit was-was, syaitan menyebabkan mereka merasa was-was dalam setiap urusan hidup mereka dengan tujuan memnyimpangkan mereka dari jalan Allah. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

إن الشيطان قعد لإبن آدم بطريق فقعد له بطريق الإسلام فقال: أتسلم وتركت دينك ودين آبائك؟ فعصاه وأسلم ثم قعد له بطريق الهجرة فقال: أﺗﻬاجر؟ أتدع أرضك وسماءك؟ فعصاه وهاجر ثم قعد له بطريق الجهاد فقال: أتجاهد وهو تلف النفس والمال فتقاتل فتقتل فتنكح نساؤك

“Sesungguhnya syaitan itu menghasut anak Adam dengan berbagai cara. Lalu (pertamanya) ia menghasut melalui jalan agama Islam itu sendiri dengan berkata: Apakah kamu menganut Islam dan meninggalkan agamamu dan agama nenek moyangmu? Anak Adam enggan mengikutinya dan tetap berpegang dengan Islam. Kemudian dia menghasut pula di jalan hijrah, lalau dia berkata: Adakah anda ingin berhijrah meninggalkan tanah air dan kampung halaman? Lalu anak Adam mengingkarinya dan tetap berhijrah. Kemudian syaitan menghasut pula di jalan jihad dengan berkata: “Adakah engkau ingin sedangkan jihad itu membinasakan jiwa dan harta benda engkau, kemudian engkau berperang lalu engkau dibunuh, kemudian isteri engkau dikahwini orang dan harta kekayaan engkau dibahagi-bahagikan. Lalu anak Adam tetap mengingkari syaitan dan terus berjihad. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Maka Barangsiapa yang bersikapdemikian kemudian ia mati maka adalah hak Allah SWT memasukkannya ke dalam syurga”. (An-Nasa’i)

Alangkah baiknya jikalau anda dapat menatap kisah antara syaitan dan seorang Rahib Bani Israil dalam tafsir ayat Surah Al-Hasyr 59: Ayat 16.

َ كمََثلِ الشَّيْطَانِ إِ ْ ذ قَا َ ل لِْلإِنْسَانِ ا ْ كُفرْ َفَلمَّا َ كَفرَ قَا َ ل إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي َأخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَاَلمِينَ

“Bujukan orang-orang munafik itu) samalah dengan (pujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: Kufurlah kamu. Maka tatkala manusia itu telah kafir dia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam”.

Cara-cara Menghalang Godaan Syaitan.

Bagi setiap manusia yang ingin menghadapi hasutan syaitan dan serangan-serangan Iblis, Islam telah menunjukkan kepada manusia berbagai perkara yang dapat membantunya bertahan menghadapi pertarungan dengan syaitan sehingga berhasil menewaskan musuh ketatnya itu. Cara tersebut telah dirumuskan oleh seorang dari para salihin dengan katanya:

“Saya telah merenung dan memikirkan cara-cara dari pintu manakah syaitan masuk ke dalam diri manusia, ternyata ia masuk ke dalam diri melalui sepuluh pintu:

1. Tamak dan buruk sangka, maka aku menghadapinya dengan sifat menaruh kepercayaan dan berpangku dengan apa yang ada.

2. Cinta kehidupan dunia dan panjang angan-angan, lalu aku menghadapinya dengan perasaan takut terhadap kedatangan maut yang bisa terjadi kapan saja waktunya.

3. Cinta kemewahan dan foya-foya, lalu aku menghadapinya dengan keyakinan bahwa kenikmatan itu akan hilang dan balasan buruk pasti menanti.

4. Kagum terhadap diri sendiri (’Ujub), lantas aku menghadapinya dengan rasa berhutang budi kepada Allah dan kepada akibat yang buruk.

5. Memandang rendah terhadap orang lain dan tidak menghormati mereka, lalu aku menghadinya dengan mengenali hak-hak mereka serta menghormati mereka secara wajar.

6. Hasad (dengki), lalu aku menghadapinya dengan sifat qana’ah dan ridha terhadap karunia Allah kepada makhluknya.

7. Riya’ dan suka pujian orang. Lalu aku menghadapinya dengan ikhlas.

8. Bakhil (kikir), lalu aku menghadapinya dengan menyadari bahwa apa yang ada pada makhluk akan binasa dan yang kekal itu berada di sisi Allah.

9. Takabbur (membesarkan diri), lalu aku menghadapinya dengan rasa tawadhu’.

10. Tamak, lalu aku menghadapinya dengan mempercayai ganjaran yang disediakan di sisi Allah dan tidak tamak terhadap apa yang ada di sisi manusia.

Di antara arahan-arahan yang di anjurkan oleh Islam sebagai jalan untuk mengelak serangan dan tipu daya syaitan ialah agar senantiasa seseorang itu mengingat Allah pada setiap memulai pekerjaan.

Satu riwayat dari Abu Hurairah menyebutkan:

“Syaitan bagi orang-orang mukmin telah bertemu syaitan bagi orang-orang kafir, lalu di dapati syaitan bagi orang-orang kafir dalam keadaan gemuk montel sedangkan syaitan bagi orang-orang mukmin dalam keadaan kurus kering bertelanjang dan kusut masai. Lalu syaitan bagi orang-orang kafir itu bertanya kepada syaitan bagi orang-orang mukmin: Kenapa kamu kurus kering?. Lalu ia menjawab: “Aku bersama seorang lelaki yang apabila ia makan ia menyebut nama Allah, lalu aku terus kelaparan, apabila ia minum ia menyebut nama Allah, lalu aku terus dalam keadaan dahaga, apabila ia memakai pakaian ia menyebut nama Allah menyebabkan aku terus bertelanjang. Apabila ia memakai minyak rambut juga ia menyebut nama Allah menyebabkan aku terus kusut masai”.
Kemudian syaitan bagi orang-orang kafir itu berkata: “Tetapi aku bersama lelaki yang tidak berbuat demikian sedikitpun, maka aku bisa mendapat makan, minum dan pakai dengannya”.

Di antara cara-cara untuk dijadikan kubu pertahanan menghadapi tipu daya dan godaan syaitan ialah dengan cara:

1. Janganlah terlalu kenyang apabila makan meskipun menghadapi makanan yang baik dan halal karena Allah berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وََلا تُسْرِفُوا

“Makanlah dan minumlah, tetapi jangan kamu berlebihan”. (Al-A’raf : 31)

Rasulullah saw juga bersabda mengingatkan, maksudnya:

“Sesungguhnya syaitan itu berjalan dalam tubuh anak Adam mengikut perjalanan darah. Oleh itu sempitkanlah pintu masuknya dengan kelaparan”. (Ahmad)

2. Membaca Al-Quran, berzikir mengingati Allah dan memohon ampunan sebagaimana yang diperintah oleh Rasulullah saw:

“Sesungguhnya syaitan itu meletakkan belalainya ke atas hati anak Adam, maka jika ia mengingati Allah ia pun lari daripadanya, jika sekiranya ia lupakan Allah syaitan akan mengunyah hatinya”. (Ibnu Abi Dunya)

3. Tidak tergopoh gopoh dalam sembarang pekerjaan karena mengingati pesanan Rasulullah saw:

“Bergopoh-gopoh (terburu-buru) itu adalah dari syaitan dan berhati-hati itu dari Allah”. (ibn Abi Shaibah, Abu Ya’la dan al-Baihaqi. At-Tirmizi meriwayatkan Hadits sepertinya dan Al-Albani mengetakan :Snadnya Hasan.)

Sebenarnya ruang ini adalah terbatas untuk menyebutkan semua sebab, amalan dan pesan-pesan yang dianjurkan oleh Islam untuk menjaga diri dari serangan dan godaan syaitan. Marilah kita melihat Allah Berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ اتََّقوْا إِ َ ذا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَ َ ذكَّرُوا َفإِ َ ذا هُمْ مُبْصِرُو َ ن

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka disentuh oleh sesuatu imbasan hasutan dari Syaitan, mereka ingat (kepada ajaran Allah) maka dengan itu mereka nampak (jalan yang benar). (Al-A’raf :201).

Baca Selengkapnya...

Wednesday, November 4, 2009

Jihad Adalah Jalan Satu-Satunya Untuk Kemerdekaan Al-Aqsha


Risalah dari Muhammad Mahdi Akif,
Mursyid Am Ikhwanul Muslimin,

Milik Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mendukungnya, selanjutnya

Zionis berhasil membuat hina bangsa Arab

Bahwa apa yang dilakukan oleh zionis sang perampas dalam berbagai kancah peperangan disekitar masjid Al-Aqsha dan pelatarannya yang penuh berkah merupakan salah satu agenda rencana zionis yang hina guna membangun haikal yang dituduhkan diatas reruntuhan masjid yang penuh berkah, dan sebagai salah satu konspirasi yang dilakukan melalui kekerasan dan perang oleh karena adanya kelemahan, kemunduran dan sikap yang rancu pada sebagian rezim pemerintah Arab dan Islam, diantaranya adalah pemerintah –boneka- Palestina di bumi yang terjajah, yang telah berjuang mengerahkan tenaganya untuk menghalangi pasukan pejuang dan mengaburkan aksinya, menangkapi para pelaku perjuangan, menyiksa para mujahidin bahkan berusaha merangkul kekuatan pasukan perlawanan dengan syarat berada dalam Negara kwartet intenasional dan mundur dari tsawabit Palestina, menerima penjajah zionis dengan bentuk yang tidak masuk akal.

Mungkin anda akan sangat merasa heran saat mendengar bentuk proses perundingan sia-sia yang mereka lakukan, saat mereka mengumumkan secara gamblang bahwa sebelum 20 tahun yang lalu perjalanan perundingan terjadi tanpa hasil sama sekali, dan pada saat yang bersamaan hal tersebut menjadi satu-satu perundingan! Sungguh mengherankan!! Bahwa bagi orang yang berakal tidak memahami ini kecuali menganggap perundingan telah menjadi bagian hanya mengikuti ketamakan zionis yang menginginkan mereka untuk mundur dari menuntuk hak, meninggalkan tsawabit guna dapat duduk bersama di meja perundingan!! Karena itu, apakah paara warga yang berakal di muka bumi ini seperti yang kita saksikan?!

Tidak kurang akan masalah ini peran dan sikap hina sebagian rezim pemerintah Arab dan Islam serta pemerintah Palestina secara khusus yang telah menarik kembali dengan penuh rasa hina terhadap permasalahan umat yang besar ini, permasalahan Palestina dan masjid Al-Aqsha, mereka mengabaikan darah ratusan ribu syuhada yang telah berjuang dan berkorban dalam rangka mempertahankan bumi Palestina dan Al-Aqsha, bahkan juga menekan bangsa Arab dengan mencegah mereka memberikan dukungan kepada pasukan perlawanan, bahkan mengingkari apa yang terjadi dan dialami oleh bumi Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha. Sikap yang sama sekali tidak pernah dikenal sepanjang sejarah Islam dan Arab yang memiliki sikap kepahlawanan dan kemuliaan.

Sekiranya bukan karena sikap yang negative ini –jika tidak ingin dikatakan sebagai pengkhianatan- maka zionis tidak akan berani masuk dan menistakan pelataran masjid Al-Aqsha yang penuh berkah ini, berani menembakkan peluru atas para pejuang yang terisolir dan berdiam diri di dalamnya, dan kepada bangsa Palestina yang tidak berdosa yang telah memberikan torehan sejarah yang menakjubkan dalam lembaran-lembaran yang penuh dengan kemuliaan dan kewibawaan, bahkan berhak mendapatkan derajat, kemuliaan dan penghargaan yang paling tinggi. Karena itu kami mengajak mereka untuk memegang erat tangan mereka, mengajak mereka untuk terus berjuang dan bersabar saat berada di dalam masjid Aqsha yang penuh berkah; kami tegaskan kepada mereka bahwa kemenangan –dengan izini Allah- untuk mereka, dan musuh kelak akan hancur insya Allah, sekalipun kelemahan yang dimiliki zionis dan ditambah dengan adanya kehinaan dan adanya larangan pada sebagian orang yang ingin shalat untuk dapat masuk ke masjid Al-Aqsha; maka kelak kejahatan tersebut akan kembali kepada para pelaku kejahatan

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat”. (Al-Baqarah:114)

Jihad jalan satu-satu untuk memerdekakan Masjid Al-Aqsha

Hakilkat ini sangat jelas seakan seperti sinar matahari disiang bolong; bahwa tidak ada jalan lain untuk mengembalikan hak dan menghancurkan penjajahan serta melindungi tempat-tempat yang disucikan kecuali berjihad dan melakukan perlawanan, bahwa berbagai perundingan yang sia-sia telah banyak dilakukan bertahun-tahun tanpa ada sedikitpun pengaruhnya seperti yang diakui oleh mereka yang turut serta dalam melakukan perdamaian tersebut, bahkan justru bertambah luas daerah penjajahan dan perluasan pemukiman Yahudi yang dilakukan zionis, penghancuran yang membabi buta terhadap rumah-rumah warga Palestina, merampas paksa tanah mereka, menghapus hak-hak kepemilikan mereka, menahan banyak warga baik laki-laki dan wanita, bahkan anak-anak.

Para ilmuwan dan fuqaha menyampaikan adalah wajib ain untuk melakukan jihad pada kondisi tertentu; diantaranya jika jamaah dari umat Islam ada yang ditawan; maka jihad menjadi wajib ain sehingga berhasil membebaskan jamaah yang ditawan tersebut.

Jika para fuqaha telah menetapkan demikian dalam rangka membebaskan umat Islam yang ditawan baik satu atau dua orang; maka bagaimana jika yang ditawan adalah sepuluh ribu, mereka juga melakukan penyiksaan secara keji atas tawanan tersebut, dan bahkan banyak melakukan tindak kekerasan di dalamnya? Dimanakah umat dari sabda Nabi saw :

فُكُّوا الْعَانِيَ- يَعْنِي الأَسِيرَ- وَأَطْعِمُوا الْجَائِعَ، وَعُودُوا الْمَرِيضَ

“Bebaskan orang yang sedang tertawan, berikanlah makan kepada orang yang sedang kelaparan, dan jenguklah orang sedang sakit”. (Bukhari).

Dimanakah umat Islam dari firman Allah:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah Kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah Kami penolong dari sisi Engkau!”. (An-Nisa:75)

Imam Al-Qurtubi menafsirkan ayat diatas dengan berkata: Allah mewajibkan jihad untuk meninggikan kalimat-Nya (agama) dan memenangkan agamanya, menyelamatkan umat Islam yang lemah, guna membebaskan umat Islam yang ditawan, dan hal ini adalah kewajiban jamaah Islam baik dengan cara berperang dengan jiwa, dengan harta dan lain-lainnya. Dan hal ini tidak boleh terdapat perdebatan di dalamnya.

Apakah dengan ini, umat Islam mau sadar, khusunya para penguasa dan pejabat pemerintahan?! Apakah mereka menyadari bahwa umat ini akan terus berada dalam kehinaan karena enggan melakukan jihad?! Nabi saw bersabda:

ما ترك قومٌ الجهادَ إلا عمَّهم الله بالعذاب

“TIdaklah suatu kaum meninggalkan jihad kecuali Allah akan menimpakan azab atas mereka” (Thabrani)

Jihad kewajiban seluruh umat

Bahwa kewajiban jihad yang diperintahkan bukanlah kewajiban pemerintah saja, atau kewajiban suatu kelompok bersenjata belaka, namun ia merupakan kewajiban seluruh umat, dengan mengerahkan seluruh potensi yang dimiliki, karena makna jihad sangatlah luas bukan sekedar melakukan perang fisik saja namun juga jihad yang dapat dilakukan dengan cara militer, dengan harta, media, ideology, aqidah dan politik, setiap individu harus menentukan medan mana yang dapat digunakan untuk berjihad di dalamnya, memberikan peran yang sesuai dengannya; sehingga seluruh dunia dapat mendengar suara umat yang berusaha menolong Palestina dan Al-Aqsha.

Dan seluruh umat hendaknya menyadari bahwa sekalipun harus memberikan pengorbanan dengan suka rela sehingga kelak Allah berkenan memberikan ganjaran yang terbaik untuk mereka. Allah berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (At-Taubah:120)

Sebagaimana dalam tafsirnya disebutkan bahwa dalam kondisi haus ada ganjaran dan pahala, dalam keletihan ada ganjaran dan pahala, dalam rasa lapar ada ganjaran dan pahala, dalam membangkitkan amarah orang-orang kafir juga ada ganjaran dan pahala, berhasil menangkap dan membunuh musuh juga ada ganjaran dan pahala, dan bahkan akan ditulis untuk para mujahid sebagai amal shalih, dan dihitung sebagai orang-orang yang berbuat ihsan dan Allah tidak akan menyia-nyiakan ganjarannya, sebagaimana memberi nafkah baik yang kecil atau besar juga ada ganjaran dan pahala, langkah-langkah untuk menuju lembah juga ada ganjaan dan pahala… ganjaran sebagai balasan terbaik bagi orang yang dalam hidupnya melakukan jihad…

Ketahuilah.. demi Allah.. Allah pasti akan memberikan kepada kita ganjaran yang terbaik, dan pada sikap baik juga ada ganjaran dan kedermawanan, dan yang demikian itu adalah -paling minim- melakukan apa yang diharapkan oleh nabi saw untuk bersikap tegas dan tidak mau melakukan perundingan sama sekali, dalam rangka melintasi jalan dakwah ini yang mana mereka adalah sebagai penggantinya dan generasi setelahnya akan menjadi umana.

Dan ikhwanul Muslimin akan senantiasa mengingatkan –tanpa rasa putus asa dan bosan- kepada seluruh umat dan bangsa, baik pemerintah maupun politisi, insan media, ulama, dan umum akan kewajiban mereka yang suci, kewajiban mereka memerdekakan bumi Palestina dan masjid Al-Aqsha, dan menegaskan bahwa qadhiyah ini adalah sarana untuk mengungkap tingkat loyalitas mereka terhadap agamanya, bangsanya dan negerinya. Dan Ikhwanul Muslimin sangat tsiqah akan kemenangan Allah kepada para mujahidin sekalipun begitu banyak di dalamnya kehancuran dan besar pengorbanannya..

Allah berfirman:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ. الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan Kami hanyalah Allah”. dan Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa”. (Al-Hajj:39-40)

Kepada seluruh umat dan Ikhwanul Muslimin

Ikutilah selalu invasi melalui media yang arogan dan kompetisi media yang merusak yang bercerita tentang adanya krisis antara mursyid am Ikhwanul Muslim dengan anggota maktab Irsyad, karena itu perlu saya tegaskan disini untuk kesekian kalinya bahwa perbedaan pendapat antara Ikhwanul Muslimin adalah wajar, dan berjalan sesuai dengan etika Islam yang agung dan mulia dengan mengedepankan dakwah, dan hal tersebut merupakan tanda akan kesehatan, kesemangatan dan kesadaran, sebagaimana hal tersebut merupakan bagian dari penolakan yang sangat gamblang bagi siapa yang menuduh Ikhwanul Muslimin mengalami kejumudan, dan juga merupakan dalil yang sangat kongkret bahwa ketaatan dalam tubuh jamaah ini merupakan ketaatan yang penuh kesadaran bukan ketaatan buta, dan urusan jamaah yang penuh berkah ini selalu dilakukan dengan syura, sementara perbedaan pendapat di dalamnya tidak menghancurkan hubungan kasih sayang, dan tidak mensirnakan hati yang telah disatukan atas dasar cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta berkhidmah kepada agama dan umat yang akan dapat dipecah belah oleh hawa nafsu, tidak tercemari atasnya superioritas, dan tidak memandang dalam kontek tanggungjawab kepada harta dan ketamakan, namun tetap berdasarkan pengorbanan guna mencari Ridha Allah dan berharap dibelakangnya manfaat untuk umat.

Dan perihal utama yang perlu dipublikasikan adalah memberikan support kepada ratusan tokoh dari ikhwanul Muslimin yang telah dihancurkan rumah-rumahnya, dicuri harta mereka, diteror anak-anak mereka, dirampas harta keluarga dan keturunan mereka, ditangkap dan dihukum dengan cara yang zhalim dan palsu serta tuduhan membantu warga Palestina dan membela masjid Al-Aqsha! Sungguh cukuplah Allah penolong kami karena Dialah sebaik-baik penolong.

Melalui titik tolak ini saya sampaikan kepada ikhwan saya yang tercinta: tenangkanlah diri kalian, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kalian, tetaplah berpegang teguh kepada nilai-nilai dan prinsip-prinsip serta sikap kalian, berpegang teguhlah kepada dakwah dan manhaj kalian, jangan takut kepada suatu perubahan karena di dalamnya terdapat keberkahan yang besar, berhati-hatilah terhadap permusuhan atau berhenti dari pembaharuan darah; karena yang demikian dapat mengabaikan potensi, memandulkan pencapaian tujuan dan misi, dan bahwasanya suatu jamaah dapat menyatukan berbagai potensi dan kebaikan seperti yang pernah dilakukan oleh ikhwanul Muslimin yang patut menjadi pionir dalam memimpin masa depan umat menuju kemajuan dan peningkatan insya Allah.

Allah Akbar dan segala puji hanya milik Allah.

Shalawat dan salam serta keberkahan atas nabi kita Muhammad saw, beserta keluarganya dan seluruh sahabatnya

Baca Selengkapnya...

Template by - Abu Syamil